Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Protes Antikudeta Mereda, Junta Militer Thailand Tarik Pasukan

* Dinginkan Suasana, Pemimpin Junta Militer Thailand Rilis Lagu Pop
- Selasa, 10 Juni 2014 11:46 WIB
2.099 view
Protes Antikudeta Mereda, Junta Militer Thailand Tarik Pasukan
SIB/AP Photo
Prajurit militer Thailand bergaya sambil tersenyum saat difoto dalam satu acara bertajuk "Kembalikan Kebahagiaan kepada Rakyat” yang digelar di Monumen Kemenangan, di Bangkok. Pemimpin junta militer Thailand, Jenderal Prayut Chan-O-Cha, Senin (9/6) meli
Bangkok (SIB)- Pemerintahan junta militer Thailand mulai menarik ribuan pasukan tentara dan polisi yang sebelumnya telah disiapkan untuk menghadapi protes antikudeta di Bangkok. Penarikan pasukan ini karena jumlah gerakan anti-kudeta terus merosot.

Militer Thailand berusaha untuk meredam kritik dan protes setelah menggulingkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra bulan lalu menindak tegas pemberontak pro-demokrasi dan para pendukungnya.

Keberadaan personel pengaman di tempat-tempat rawan di kota besar Thailand membuat para pemrotes hanya bisa melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang seringkali dikoordinasi lewat media sosial dan dilakukan di sekitar pusat perbelanjaan.

Pada Minggu (8/6), beberapa protes terjadi dan pengamanan lebih ringan dari biasanya. Sekitar enam orang perempuan di luar mal bisa menunjukkan hormat tiga jari yang sudah menjadi simbol penentangan terhadap kudeta. Selain itu, pemrotes juga mengunggah beberapa foto di sosial media yang menunjukkan sekelompok orang melakukan hal yang sama di Bandara Internasional Bangkok.

Menurut Deputi Nasional Kepolisian, Somyot Poompanmoung, Polisi sudah menahan empat pemrotes. Semenjak kudeta, pihak berwenang memaksa pemrotes yang ditahan untuk menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengikuti kegiatan politik sebagai syarat pembebasan.

"Keempat orang itu akan dibawa ke kamp militer untuk disesuaikan sikap politisnya," kata Somyot seperti dikutip dari Reuters, Senin (9/6).

Pasukan yang disiapkan pada hari minggu berjumlah lebih dari 6.000 orang, kata Somyot. Kepala Angkatan Darat sekaligus pemimpin kudeta Jenderal Prayuth Chan-Ocha memerintahkan untuk menghindari konfrontasi. Polisi hanya akan memfoto para pemrotes, mengidentifikasi mereka, dan menerbitkan surat penahanan setelahnya.

Pemimpin Junta Militer Thailand Rilis Lagu Pop

Pemimpin junta militer Thailand, Jenderal Prayut Chan-O-Cha ternyata memiliki sisi melankolis. Jenderal yang biasa menampilkan wajah keras merilis sebuah lagu pop yang sudah ditonton 200.000 kali di situs YouTube. Dalam lagu karya Jenderal Prayut  berjudul "Return Hapiness to Thailand", terdapat lirik seperti "kami akan melindungi dan mengurus sepenuh hati" atau "beri kami sedikit waktu", terbukti menjadi hit setelah lagu itu dibawakan kesatuan musik AD Thailand dan dirilis di situs resmi militer.

Hingga Senin (9/6), di situs YouTube saja lagu itu sudah dinikmati 150.000 kali. Sementara melalui situs lain mencapai jumlah puluhan ribu. Jika ditotal lagu itu sudah ditonton sekitar 200.000 kali. "Dia (Prayut) memanggil saya selama satu jam. Dia menuliskan lirik itu dengan tangannya sendiri," kata Kolonel Krisada Sarika, komandan kesatuan musik AD Thailand pada Jumlat lalu.

"Dia menginginkan sebuah lagu yang mengekspresikan perasaannya terhadap rakyat. Dia menginginkan lagu yang akan didengarkan rakyat dan mendamaikan rakyat," tambah Krisada.

Lagu karya Prayut itu mendapatkan banyak "tanda jempol" di internet, sementara di YouTube banyak komentar memuji lagu sang jenderal tersebut. Namun, beberapa memberikan komentar miring terhadap lirik lagu itu. "Mengembalikan kebahagiaan satu kelompok, sambil menindas kelompok yang lain," kata seorang komentator di YouTube.

Militer Thailand kini memberikan wajah ramah dalam kudeta terbarunya ini. Mereka bahkan menggelar konser dan membagikan makanan gratis untuk para pejalan kaki. Jenderal Prayut, yang kini memberikan pidato televisi sekali sepekan, berulang kali mengatakan dia terpaksa bertindak setelah aksi unjuk rasa berbulan-bulan melumpuhkan pemerintah dan menewaskan sedikitnya 30 orang. Sejak melakukan kudeta pada 22 Mei lalu, angkatan bersenjata Thailand telah melarang unjuk rasa, menyensor media dan memanggil ratusan politisi, aktivis serta akademisi untuk ditanyai. (AFP/Rtr/dtc/i)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru