Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Kisah Perbudakan di Kapal Pencari Udang Thailand

- Kamis, 12 Juni 2014 11:31 WIB
367 view
Kisah Perbudakan di Kapal Pencari Udang Thailand
Harian Inggris, The Guardian edisi Selasa, 10 Juni 2014 menurunkan laporan investigasi yang mencengangkan. Mereka menulis produksi makanan laut yang selama ini beredar di Benua Eropa dan Amerika yang dipasok dari Thailand, ditangkap menggunakan tenaga migran yang diperbudak. 

Kesimpulan ini tidak main-main, karena telah melalui proses penyelidikan selama enam bulan. Buruh migran itu umumnya datang ke Thailand untuk mencari pekerjaan. Namun, mereka malah dijual secara paksa ke kapten kapal seperti binatang seharga 250 Poundsterling atau setara Rp4,9 juta. Mereka harus bekerja selama 20 jam secara bergantian untuk menangkap hewan laut seperti udang besar dan kecil. Pengakuan tersebut diperoleh Guardian dari 15 buruh migran yang berasal dari Myanmar dan Kamboja. Vuthy, mantan bhiksu asal Kamboja menuturkan kisahnya. Dia merupakan segelintir buruh yang berhasil kabur. "Saya kira saya akan mati. Mereka merantai saya. Bahkan, nasib saya tidak dipedulikan. Mereka tidak memberi kami makan," ujar Vuthy.

Sementara korban perdagangan lainnya, mengatakan dia melihat 20 rekannya dibunuh. Salah satu dari mereka dalam keadaan tangan dan kaki diikat, lalu diceburkan ke tengah laut. "Walaupun kami telah bekerja keras, kami tetap dipukuli. Semua buruh yang ada di atas kapal, warga Myanmar. Kami semua diperdagangkan," ujar buruh migran lainnya.

Ketika ditanya jumlah buruh di atas kapal yang diperbudak, dia mengaku tidak tahu. Terlalu banyak jumlahnya, ungkap dia. Selain menangkap produk makanan laut untuk langsung dipasok ke CP Foods, para buruh migran ini juga menangkap ikan sebagai makanan bagi udang yang diternak.
Dapur Dunia

Semua hasil tangkapan dari laut kemudian dijual ke sebuah perusahaan Thailand yang memiliki peternak udang terbesar di seluruh dunia, Charoen Pokphan (CP) Foods. Perusahaan yang menjuluki diri sebagai "dapur dunia" ini, menjual udang besar ke petani lainnya, memasok ke supermarket internasional, produsen dan penjual makanan dalam jumlah eceran.

Produk yang mereka jual tidak hanya udang yang siap dimasak atau masih beku, tetapi juga bahan mentah dari udang untuk dijual ke distributor makanan. Beberapa supermarket besar yang dipasok dari CP Foods antara lain Walmart, Carrefour, Morrisons, Costco, dan Tesco.

Dari aktivitasnya itu, perusahaan meraih keuntungan mencapai 20 miliar Poundsterling atau Rp395 triliun. Ketika dikonfirmasi, Direktur CP Foods di Inggris, Bob Miller mengatakan, "Kami di sini tidak untuk membela diri terhadap apa yang terjadi. Kami mengetahui memang ada masalah terkait dengan bahan mentah yang masuk ke pelabuhan."

Kendati begitu, CP Foods berjanji akan segera menuntaskan permasalahan perbudakan buruh migran ini. Adanya informasi soal perbudakan tenaga kerja di industri perikanan Thailand sudah sejak lama terdengar oleh LSM. Bahkan, informasi itu juga sudah tercantum dalam laporan PBB. "Apabila Anda membeli udang besar atau kecil dari Thailand, maka itu sama artinya Anda akan membeli makanan laut yang ditangkap buruh yang diperbudak," ujar Direktur organisasi Anti-Perbudakan Internasional, Aidan McQuade.

Negara Transit Perbudakan

Thailand diketahui sebagai sumber, tempat transit, dan negara tujuan perbudakan. Guardian menyebut hampir 500 ribu orang diyakini diperbudak di area yang berbatasan dengan Thailand. Namun, tidak ada data resmi jumlah buruh migran yang diperbudak di kapal. Pemerintah Thailand memperkirakan ada sekitar 300 ribu orang yang bekerja di industri perikanan. Sebanyak 90 persen di antaranya rentan ditipu, diperdagangkan, dan dijual ke kapten kapal di laut.

Sementara di sisi lain, Thailand selama ini sudah dikenal sebagai eksportir udang besar terbesar di dunia. Salah satunya melalui perusahaan multinasional seperti CP Foods. Total setiap tahun, mereka bisa mengekspor 50 ribu ton udang besar dengan nilai mencapai US$7,3 miliar atau Rp86 triliun.

Apabila Thailand tidak segera menuntaskan isu ini, dikhawatirkan akan mengancam hubungan bilateral negara itu dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat. Sebab, Thailand telah diperingatkan selama empat kali berturut-turut karena dianggap tidak serius menindak masalah ini. Hal itu turut tercermin karena Thailand selalu berada di peringkat terbawah dalam daftar perdagangan manusia yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS.
(guardian/vvn/i)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru