Washington (SIB)-
Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyatakan negaranya tidak akan mengirim pasukan militer ke Irak. Namun Amerika menimbang opsi lain. Pernyataan ini disampaikan Obama di South Lawn, Gedung Putih, Jumat (13/6). "Kami tidak akan mengirimkan tentara AS ke pertempuran Irak," kata Obama sebagaimana diberitakan CNN.
Namun Obama memastikan akan menimbang pilihan lainnya dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan ini disampaikan Obama menanggapi serangan militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) yang bisa mengancam pemerintahan Perdana Menteri Irak yang berasal dari Syiah, Nuri al-Maliki.
Tekanan terhadap AS untuk memberikan dukungan militer kepada pemerintah Irak semakin meningkat dimana Partai Republik menyalahkan Obama terkait penarikan pasukan AS pada tahun 2011. Mereka menilai keengganan Obama memberikan dukungan militer malah memberikan keleluasan bagi kelompok militan melakukan penyerangan.
Patut Disalahkan
Pemimpin Irak dianggap gagal memperkuat dan mendukung militer negaranya dalam menghadapi militan sepeninggal tentara Amerika Serikat. Dana miliaran dolar AS yang dikucurkan untuk pelatihan dan perlengkapan militer seolah tak ada gunanya.
Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf juga menepis kritikan dari politikus Republik yang menyebut bahwa sisa-sisa tentara AS tentu dapat mencegah militer Irak kolaps dalam menghadapi serangan militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL).
"Ketika kita meninggalkan Irak, setelah bertahun-tahun pengorbanan dan penggunaan uang wajib pajak Amerika, dan tentu tentara kita yang paling merasakan pengorbanan besar dibanding siapapun, pemerintah Irak memiliki sebuah kesempatan," terang Harf kepada wartawan setempat, seperti dilansir AFP, Sabtu (14/6).
"Kami telah membantu angkatan bersenjata mereka. Kami telah membantu militer mereka. Kami telah membantu mereka berdiri sendiri dan membantu membangun kapasitas mereka, dan terus terang, mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu," tegas Harf.
Menurut Harf, pemimpin Irak tidak mampu memperkuat militer yang ada. "Malah menciptakan iklim yang sarat kerawanan ketika menyangkut kohesi militer Irak," sebut Harf. Militan ISIL berhasil menguasai kota Mosul, yang merupakan kota terbesar kedua di Irak serta kota Tikrit juga provinsi Nineveh dan bagian-bagian penting Kota Kirkuk. Kini, mereka dilaporkan tengah berusaha menduduki ibukota Baghdad.
Militer Irak yang dikerahkan ke sejumlah wilayah strategis gagal untuk menghentikan pergerakan militan ISIL tersebut. Beberapa personel militer bahkan melepas seragam mereka dan meninggalkan kendaraan serta posisi mereka, untuk melarikan diri dari militan yang menyerang mereka.
Hal ini tentunya sangat mengecewakan bagi otoritas AS, terlebih dana miliaran dollar AS telah dikucurkan untuk pelatihan militer Irak. "Angkatan bersenjata Irak telah membuktikan ketidakmampuannya untuk mempertahankan sejumlah kota, yang telah memungkinkan teroris untuk menguasai sebagian wilayah Irak," ujar Presiden Barack Obama.
AS menarik seluruh tentaranya yang ada di Irak pada tahun 2011 lalu, ketika pemimpin Irak menolak untuk menandatangi kesepakatan soal perlindungan hukum bagi tentara AS di wilayahnya.
PEMBERSIHAN MILITAN
Tentara Irak mulai melakukan pembersihan militan di sejumlah kota yang diserang militan Sunni. Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki menyebut para militan tersebut sebagai teroris. "(Militer) Mulai melakukan tugas mereka untuk membersihkan semua kota tercinta kita dari para teroris," terang PM Maliki dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Sabtu (14/6).
Namun Maliki tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai di mana atau kapan operasi militer tersebut dimulai. Yang jelas, militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah berhasil menguasai sejumlah kota yang ada di wilayah utara dan memaksa militer Irak melarikan diri dari pos masing-masing.
Dilaporkan pada Jumat (13/6) kemarin, PM Maliki mengunjungi kota Samarra yang sempat dikuasai militan pada minggu lalu dan kini tengah berusaha dikuasai kembali. Saksi mata menuturkan, militan ISIL berkumpur untuk melancarkan serangan lanjutan di Samarra, yang berjarak 110 kilometer sebelah utara Baghdad. Di kota Samarra terdapat tempat suci kaum Syiah, Al-Askari yang sempat dibom militan pada tahun 2006 lalu. Aksi tersebut memicu perang antara kaum Syiah dan Sunni yang menewaskan puluhan ribu orang.
Pergerakan militan ISIL kali ini cukup agresif dan semakin meluas. Dalam waktu tiga hari terakhir, militan berhasil menguasai sejumlah besar wilayah di Irak bagian utara, termasuk Kota Mosul yang merupakan kota terbesar kedua di Irak. Tidak hanya itu, Kota Tikrit juga provinsi Nineveh dan bagian-bagian penting Kota Kirkuk juga telah jatuh ke tangan militan, yang dilaporkan terus berusaha menduduki ibukota Baghdad. Militer Irak yang dikerahkan ke sejumlah wilayah strategis gagal untuk menghentikan pergerakan militan ISIL tersebut. Beberapa personel militer bahkan melepas seragam mereka dan meninggalkan kendaraan serta posisi mereka, untuk melarikan diri dari militan yang menyerang mereka.
Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari menyamakan penampilan militer Irak saat ini dengan situasi saat Saddam Hussein digulingkan tahun 2003 lalu. "Ini merupakan keruntuhan yang sama yang terjadi dalam jajaran militer Irak ketika tentara Amerika memasuki Irak," ucap Zebari kepada surat kabar setempat, Asharq al-Awsat. "Mereka melepas seragam militer dan mengenakan pakaian sipil dan pulang ke rumah mereka, meninggalkan senjata dan peralatan mereka," imbuhnya.
(AFP/dtc/ r)