Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Pasokan Gas Diputus, Ukraina Beralih ke Eropa

- Rabu, 18 Juni 2014 16:53 WIB
312 view
Pasokan Gas Diputus, Ukraina Beralih ke Eropa
Kiev (SIB)- Satu delegasi Ukraina, Selasa  (17/6), melakukan perjalanan ke Budapest dalam upaya merayu perusahaan-perusahaan Eropa untuk menjual gas mereka, setelah Moskow menghentikan pasokan ke Kiev. "Perusahaan-perusahaan Eropa siap untuk memberikan gas ke Ukraina. Mereka telah menawarkan gas pada harga yang baik dengan  320 dolar AS" per 1.000 meter kubik, kata kepala eksekutif Naftogaz Andriy Kobolev, menurut situs web pemerintah.

Kobolev menambahkan bahwa Naftogaz sudah menjadi klien kelompok Jerman RWE dan perusahaan Prancis Gaz de France."Kami juga memiliki penawaran yang datang dari perusahaan-perusahaan yang sama besar lainnya," katanya.

Keputusan itu diambil oleh Moskow setelah pembicaraan selama 11 jam gagal tercapai kata sepakat. Moskow baru akan melanjutkan pembicaraan mengenai pasokan gas bila Ukriana membayar tunggakan senilai US$4,5 miliar atau Rp53 triliun. Namun, BBC melaporkan perusahaan gas milik Pemerintah Rusia, Gazprom, masih memberikan keringanan dengan mencicil. Gazprom meminta kepada perusahaan gas Ukraina, Naftogaz, untuk membayar US$1,95 miliar atau Rp23 triliun terlebih dahulu. Kendati begitu, Rusia memastikan akan tetap memasok gas ke Eropa.

CEO Gazprom Alexei Miller memperingatkan risiko yang signifikan terhadap pasokan ke Eropa tetap ada. Moskow juga memperingatkan Ukraina untuk tidak membandel dengan menyedot pasokan gas ke Uni Eropa yang melalui pipa mereka. Sebelumnya aksi serupa pernah terjadi dua kali.

"Mulai hari Senin ini pukul 10:00 waktu Moskow, Gazprom, sesuai dengan kontrak yang ada, mengubah kesepakatan dengan Naftogaz menjadi prabayar. Oleh sebab itu, perusahaan Ukraina hanya akan menerima gas alam Rusia berdasarkan nominal yang telah mereka bayarkan," ungkap Miller.

Tidak terima, Ukraina lantas mengajukan tuntutan dagang ke Mahkamah Arbitrase Komersial Internasional (ICCA) di Stockholm. Mereka menuntut kelebihan pembayaran senilai US$6 miliar atau Rp70 triliun. Menurut Naftogaz, Rusia telah menaikkan harga sepihak sebanyak 80 persen. Sebelumnya gas Rusia yang dijual ke Ukraina senilai US$268 atau Rp3,1 juta per 1.000 meter kubik hingga April lalu. Namun, kini harganya membengkak menjadi US$485 atau Rp5,7 juta.

Sebelumnya Ukraina mengatakan siap membayar cicilan tagihan sebesar US$1,95 miliar atau Rp23 triliun asal harga gas yang dipatok sebesar US$326 atau Rp3,8 juta. Namun, Rusia memberikan penawaran terakhir dengan harga US$385 atau Rp4,5 juta. Menyadari hal ini, Ukraina menjamin pasokan gas di negaranya akan tetap aman hingga Desember mendatang, kendati cuaca memasuki musim dingin.

Sementara Gedung Putih mendorong Moskow untuk kembali ke meja perundingan dan membahas kesepakatan gas dengan Ukraina. Amerika Serikat mengatakan penawaran dari Ukraina bahwa mereka akan membayar senilai US$1 miliar atau Rp11 triliun pada Senin mendatang sudah cukup masuk akal. Namun, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menolak tawaran tersebut. Menurut dia, tidak perlu lagi ada konsultasi, apabila Ukraina masih menunggak. (Ant/AFP/d)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru