Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

AS Siap Kerja Sama dengan Iran Tangani Krisis Irak

* Obama Kerahkan 275 Personil Amankan Kedubes
- Rabu, 18 Juni 2014 16:58 WIB
379 view
AS Siap Kerja Sama dengan Iran Tangani Krisis Irak
Jenewa (SIB)- Semakin gencarnya serangan kelompok militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) sangat dikhawatirkan PBB. Sekjen PBB Ban Ki-moon memperingatkan pecahnya kekerasan sektarian. Ban juga cemas akan sejumlah laporan seperti kejahatan perang, “serangan teroris” yang dilancarkan ISIL.

Krisis Irak yang terus berlanjut mungkin akan memicu kerja sama dua negara yang selama ini bermusuhan. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan dirinya terbuka untuk bekerja sama dengan otoritas Iran, untuk mengatasi situasi krisis di Irak.

"Saya tidak akan mengesampingkan apapun yang bisa bersifat membangun," ujar Menlu Kerry kepada Yahoo News dan dilansir AFP, Senin (16/6/2014). Jawaban tersebut dilontarkan Kerry ketika ditanya apakah AS akan bekerja sama secara militer dengan Iran, yang merupakan sekutu Irak namun musuh AS.

Kendati demikian, Kerry menambahkan, AS akan menunggu tindakan otoritas Iran terlebih dahulu. "Mari kita lihat hal apakah yang bersedia atau tidak bersedia dilakukan oleh Iran sebelum kita mulai menyampaikan pernyataan apapun," ucapnya. Antara AS dengan Iran memang tidak memiliki hubungan diplomatik secara resmi. Namun perundingan antara pejabat AS dan Iran mengenai program nuklir Iran akan kembali digelar pekan ini di Wina, Austria.

Wakil Menlu AS, Bill Burns yang tengah bersama dengan delegasi AS di Austria, memberikan sinyal bahwa pembahasan terpisah mungkin akan dilakukan antara AS dengan Iran. Namun dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Menlu Kerry menyebut Presiden Barak Obama memeriksa setiap opsi yang ada bagi Irak, termasuk mengerahkan pesawat tak berawak. "Ini merupakan tantangan bagi stabilitas wilayah tersebut. Ini jelas-jelas tantangan eksistensi bagi Irak sendiri. Ini merupakan kelompok teroris," jelas Menlu Kerry.

Seminggu setelah kelompok militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) berhasil menguasai Mosul, yang merupakan kota terbesar kedua di Irak, tentara setempat berupaya keras mempertahankan kota-kota yang hendak diduduki militan. Kelompok militan Sunni itu bahkan bersumpah akan bergerak ke ibukota Baghdad untuk menggulingkan pemerintahan Irak yang didominasi Syiah.

Pergerakan militan ISIL yang sangat agresif membuat pemimpin Irak dan juga otoritas AS terkejut. Hal ini juga memicu ketakutan akan munculnya perang sipil sektarian baru antara kaum Sunni dengan Syiah di negara tersebut.

Memanasnya situasi di Irak membuat Washington memutuskan mengirim sekitar 275 personel militer untuk membantu personel AS dan mengamankan kedutaan AS di Baghdad. Dalam suratnya kepada para pemimpin Kongres AS, Presiden Barack Obama menyatakan pasukan AS tersebut mulai dikirimkan pada Minggu, 15 Juni waktu setempat.

"Dikirimkan untuk maksud melindungi warga dan properti AS, jika diperlukan, dan dipersenjatai untuk bertempur," tulis Obama. "Pasukan ini akan terus berada di Irak sampai situasi keamanan sedemikian rupa sehingga pasukan tak lagi diperlukan," imbuh Obama dalam suratnya.

Sementara Gedung Putih dalam pernyataannya menyebutkan, personel militer AS tersebut akan membantu Departemen Luar Negeri AS memindahkan sebagian staf kedutaan dari Baghdad ke konsulat-konsulat di dua kota Irak: Arbil dan Basra, juga di Amman, Yordania. Disebutkan Gedung Putih, pengiriman pasukan AS ke Irak ini atas persetujuan pemerintahan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki.

Kepala HAM PBB Navi Pillay mengecam keras pembantaian tentara Irak oleh militan ISIL. "Berdasarkan laporan kuat dari sejumlah sumber, tampaknya ratusan pria telah dieksekusi mati dalam lima hari terakhir, termasuk tentara-tentara yang ditangkap dan menyerah, para wajib militer, polisi dan lainnya yang terkait dengan pemerintah Baghdad," tutur Pillay dalam statemennya.

"Meskipun jumlahnya belum bisa diverifikasi, serangkaian eksekusi berdarah dingin yang sistematis, yang kebanyakan dilakukan di berbagai lokasi di wilayah Tikrit, nyaris sama dengan kejahatan perang," imbuh pejabat tinggi badan dunia itu.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat juga mengecam pembantaian tentara-tentara Irak oleh militan ISIL. Dari foto-foto yang diposting di internet, terlihat para militan Sunni tersebut membunuh puluhan tentara Irak yang mereka tangkap. Sementara kelompok ISIL lewat akun Twitter mereka menyebutkan bahwa mereka telah membunuh 1.700 tentara Syiah Irak.

"Klaim ISIL bahwa pihaknya telah membantai 1.700 anggota Angkatan Udara Syiah Irak di Tikrit adalah mengerikan dan merupakan gambaran sejati dari haus darah yang ditunjukkan para teroris ini," cetus juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki. "Meski kita tak bisa mengkonfirmasi laporan ini, namun salah satu tujuan utama ISIL adalah menebar teror di hati semua warga Irak dan memicu perpecahan sektarian di kalangan rakyatnya," imbuh Psaki.
Sementara Persatuan Bangsa-Bangsa mengonfirmasi penarikan staf internasional dan bantuan PBB di Irak (UNAMI) menyusul meningkatnya ancaman keamanan di sana. "Selama beberapa hari mendatang staf PBB di Baghdad dipindahkan sementara ke daerah lain sebagai langkah pencegahan," kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq.

"Sejumlah 58 staf dipindahkan dari Baghdad ke Amman, Yordania. Beberapa pemindahan lain juga akan terjadi dalam beberapa hari ke depan," imbuh Haq. "Kami memiliki misi skala penuh di Irak dan melakukan apa yang bisa (kami lakukan)," imbuh Haq. Misi PBB di sana, sebut dia, mencakup politik dan kemanusiaan. (Detikcom/d)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru