Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026
Pertama Kali Sejak PD II

Pengungsi Global Capai 50 Juta, Jutaan Warga Suriah Butuh Bantuan

- Minggu, 22 Juni 2014 21:43 WIB
266 view
Pengungsi Global Capai 50 Juta, Jutaan Warga Suriah Butuh Bantuan
Jenewa (SIB)- Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan pengungsi (The United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) melaporkan bahwa jumlah pengungsi, pencari suaka dan orang yang terlantar di dalam negeri di seluruh dunia mencapai 50 juta orang lebih untuk pertama kali sejak Perang Dunia (PD) II.

Laporan tahunan mengenai kecenderungan global Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi yang dikeluarkan pada Hari Pengungsi Dunia itu menunjukkan, sebanyak 51,2 juta orang dipaksa meninggalkan rumah mereka pada akhir 2013, enam juta orang lebih banyak dari jumlah yang dilaporkan tahun 2012 sebanyak 45,2 juta.

Menurut laporan itu, peningkatan besar jumlah pengungsi terutama terjadi akibat perang di Suriah.Mereka pun sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Bahkan jumlah warga yang membutuhkan bantuan kemanusiaan ini telah melonjak menjadi 10,8 juta jiwa, atau nyaris separuh dari total 22 juta jiwa populasi Suriah. Demikian disampaikan Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam laporan bulanan kepada Dewan Keamanan PBB.

Dikatakan Ban seperti dilansir AFP, Sabtu (21/6), total 4,7 warga Suriah saat ini berada di wilayah-wilayah yang "sulit atau mustahil" untuk dijangkau para pekerja kemanusiaan. Ini termasuk sekitar 241 ribu warga yang terjebak di wilayah-wilayah yang terkepung militer dan pemberontak Suriah.

Angka tersebut merupakan peningkatan dari angka sebelumnya sebesar 3,5 juta jiwa. "Upaya-upaya untuk meneruskan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang paling membutuhkan, terus-menerus menghadapi penundaan dan gangguan," demikian disampaikan Ban dalam laporan tersebut.

Dari total 10,8 juta orang yang membutuhkan bantuan itu, sekitar 6,4 juta jiwa di antaranya telah kehilangan tempat tinggal. Konflik Suriah telah pecah sejak Maret 2011 lalu ketika aksi-aksi demo menentang pemerintahan Presiden Bashar al-Assad marak terjadi. Selama kurun waktu itu, lebih dari 160 ribu orang dilaporkan telah tewas dalam konflik berkepanjangan itu.

Perang di negara Arab tersebut juga membuat 6,5 juta orang kehilangan tempat tinggal di dalam negeri mereka. Pengungsian besar baru juga terlihat di Afrika, terutama di Republik Afrika Tengah (CAR) dan Sudan Selatan.

"Perdamaian hari ini terancam defisit. Bantuan kemanusiaan dapat menjadi pereda, tapi penyelesaian politik sangat diperlukan," Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi Antonio Guterres di dalam satu pernyataan. "Tanpa ini, tingkat konflik yang mengerikan dan penderitaan massal yang tercermin dari angka-angka ini akan berlanjut," katanya seperti dilansir kantor berita Xinhua.

Ia menyeru masyarakat internasional agar mengatasi perbedaan dan menemukan penyelesaian bagi konflik di Sudan Selatan, Suriah, Republik Afrika Tengah dan tempat lainnya. Menurut laporan UNHCR jumlah pengungsi menjadi 16,7 juta orang di seluruh dunia.

Secara keseluruhan, pengungsi paling banyak orang Afghanistan, Suriah dan Somalia. Jumlah pengungsi dari tiga negara itu mencapai separuh dari seluruh pengungsi global. Sementara Pakistan, Iran dan Lebanon menampung lebih banyak pengungsi di bandingkan dengan negara lain.

Selain pengungsi, selama tahun 2013 ada 1,1 juta orang yang mengajukan permohonan suaka, kebanyakan ke negara-negara maju. Jerman menjadi negara penerima utama permohonan-suaka baru. Laporan PBB juga menyebutkan bahwa 64.300 orang Suriah mengajukan permohonan suaka, lebih banyak dibandingkan dengan warga negara lain, lalu diikuti rakyat Republik Demokratik Kongo (60.400 pencari suaka) dan Myanmar (57.400 pencari suaka).
Sementara jumlah orang yang terlantar di negeri sendiri tercatat 33,3 juta orang, peningkatan paling banyak dalam kelompok apa pun di dalam laporan kecenderungan global UNHCR. UNHCR dan badan kemanusiaan yang lain menghadapi tantangan dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi karena kebanyakan mereka berada di daerah konflik. (Ant/AFP/Detikcom/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru