Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Ulama Syiah Serukan Warga Irak Bersatu

* Pemerintah Irak Diingatkan Satukan Bangsa
- Minggu, 22 Juni 2014 21:46 WIB
366 view
Ulama Syiah Serukan Warga Irak Bersatu
Baghdad (SIB)- Irak tengah dilanda serangan-serangan para militan Sunni. Ulama Syiah terkemuka Irak menyerukan seluruh warga untuk bersatu dan mengusir para militan tersebut. Ulama besar Ayatollah Ali al-Sistani menyerukan warga Irak untuk bersatu melawan para militan Sunni Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) sebelum terlambat. Sistani merupakan ulama terkenal di kalangan Syiah Irak.

"Jika tidak dilawan dan diusir dari Irak, semua orang akan menyesalinya besok, ketika penyesalan sudah tak ada artinya," ujar juru bicara Sistani yang berbicara atas nama Sistani seperti dilansir AFP, Sabtu (21/6). Menurut Sistani yang memimpin dewan ulama-ulama senior, pemerintah Irak mendatang haruslah efektif dan tidak melakukan kesalahan-kesalahan sebelumnya. Lewat pernyataannya ini, Sistani ingin mengkritik Perdana Menteri (PM) Irak Nuri al-Maliki yang telah menjabat sejak 2006.

Sebelumnya, beberapa figur senior Amerika juga mendesak PM Maliki yang Syiah untuk bekerja sama dengan minoritas Sunni Arab dan Kurdi. Desakan tersebut antara lain disampaikan oleh Wakil Presiden AS Joe Biden, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel, dan mantan panglima tinggi AS di Irak, David Petraeus.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pun mengingatkan pemerintah Irak untuk tidak meremehkan sektarian dan terus berupaya untuk menyatukan negeri itu. Dikatakan Obama, pengorbanan AS telah memberikan peluang bagi adanya demokrasi yang stabil di Irak. Namun peluang itu telah disia-siakan pemerintah Irak. Obama pun menegaskan, kekuatan senjata AS tak akan mampu menyatukan negara Irak.

"Saya menyampaikan hal itu dengan jelas kepada (Perdana Menteri Irak Nuri al-)Maliki dan semua pemimpin lainnya di dalam Irak," tutur Obama dalam wawacara kepada CNN. "Kita telah memberikan Irak peluang untuk memiliki demokrasi yang inklusif. Untuk bekerja lintas sektarian guna memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Dan sayangnya, apa yang kita lihat adalah pelanggaran kepercayaan," ujar Obama.

Dalam krisis yang tengah melanda Irak, pemerintah AS tampak enggan mendukung PM Maliki yang merupakan seorang Syiah. PM Maliki justru disalahkan AS karena gagal merangkul komunitas minoritas Sunni selama 2,5 tahun sejak pasukan AS meninggalkan Irak. Kegagalan itu dianggap sebagai pemicu krisis Irak saat ini.

Para militan ISIL saat ini terus bergerak mendekati ibukota Baghdad. Ini dilakukan setelah kelompok militan Sunni itu berhasil menguasai sejumlah kota di wilayah Irak utara, menyusul serangan besar-besaran yang mereka lancarkan.

Tidak Serius
Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah mengumumkan niatnya mengirimkan para penasihat militer ke Irak untuk membantu Baghdad menghadapi para militan Sunni. Namun Obama belum menjawab soal permintaan Baghdad agar AS melancarkan serangan udara terhadap para militan ISIL.

Atas hal itu, pejabat-pejabat Iran menuding Gedung Putih tidak serius untuk memerangi terorisme di negeri tetangga Irak. "Pernyataan terbaru Obama menunjukkan bahwa Gedung Putih kurang serius untuk melawan terorisme di Irak dan wilayah ini," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir Abdollahian.

Pada Kamis, 19 Juni waktu setempat, Obama menawarkan untuk mengirimkan 300 penasihat militer AS guna membantu otoritas Irak memerangi kelompok ISIL. Namun Obama belum merespons permintaan Perdana Menteri (PM) Irak Nuri al-Maliki agar AS melancarkan serangan udara terhadap para militan.
Obama pun mendesak Maliki untuk berbuat lebih banyak guna mengatasi perpecahan sektarian, yang telah memicu kebencian di kalangan minoritas Sunni di negeri itu. Menurut Abdollahian, sikap AS yang "menunda" dalam memerangi terorisme dan ISIL telah memicu kecurigaan akan tujuan AS di Irak.

Pejabat Iran lainnya, Hamid Aboutalebi, yang bekerja di kantor Presiden Hassan Rouhani juga mengkritik pernyataan Obama. "AS tak bisa mengadopsi kebijakan yang bertentangan di Timur Tengah: mendukung perang di Suriah dan perdamaian di Irak atau berada di pihak para teroris di Suriah dan melawan teroris di Irak," cetus Aboutalebi.

Sementara itu kepala staf Presiden Rouhani, Mohammad Nahavandian mengatakan, Iran terus mengamati dengan seksama perkembangan di Irak. Iran pun akan memberikan respons yang tepat bagi permintaan Irak untuk mengintervensi guna menyelesaikan masalah internalnya.

ISIL dianggap sebagai kelompok militan paling ganas di Irak. Sebelumnya kelompok jihadis Sunni itu telah berbulan-bulan bentrok dengan kelompok-kelompok yang menentang rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah. Para militan di bawah pimpinan kelompok ISIL telah berhasil menguasai sejumlah kota di wilayah Irak utara. Bahkan kini kelompok militan Sunni tersebut kian bergerak mendekati ibukota Baghdad.

Menyikapi kondisi ini, pemerintah Irak pun telah meminta bantuan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan udara terhadap para militan. Namun Presiden AS Barack Obama belum merespons permintaan Irak tersebut. Obama hanya menawarkan untuk mengirimkan 300 penasihat militer AS ke Irak guna membantu menghadapi para militan. (Detikcom/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru