Baghdad (SIB)- Korban jiwa bertambah akibat serangan para militan terhadap konvoi kendaraan yang mengangkut para tahanan di Irak. Sebanyak 69 tahanan dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Pejabat-pejabat setempat mengatakan seperti dilansir AFP, Senin (23/6), seorang polisi dan delapan pelaku penyerangan juga tewas dalam baku tembak, yang terjadi menyusul serangan militan tersebut.
Insiden ini terjadi di wilayah Hashimiyah, provinsi Babil. Tidak jelas bagaimana persisnya para tahanan tersebut tewas. Ini merupakan insiden kedua tewasnya para tahanan sejak para militan Sunni melancarkan serangan-serangan di Irak pada 9 Juni lalu. Sebelumnya dalam insiden pekan lalu di kota Baquba, 44 tahanan tewas saat serangan militan Sunni ke sebuah penjara.
Sebelumnya, para militan Sunni di bawah pimpinan kelompok Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) menewaskan 21 orang di dua kota di Irak selama kekerasan yang berlangsung dua hari. Pembunuhan ini terjadi setelah pasukan Irak mundur dari kedua kota tersebut.
Sebagian dari korban jiwa itu ditembak mati pada Sabtu, 21 Juni waktu setempat, ketika para militan bergerak masuk ke kota Rawa dan Ana. Sisanya ditembak mati keesokan harinya, yakni Minggu, 22 Juni waktu setempat. Saat ini para militan Sunni ISIL telah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak utara. Para militan bahkan kini terus mendekati ibukota Baghdad setelah mulai melancarkan serangan-serangan mereka di Irak utara pada 9 Juni lalu.
Menlu AS Terbang ke Baghdad Bahas Perangi ISILBerupaya mencegah terjadinya perang saudara di Irak, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry terbang ke Baghdad. Kerry dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Nouri al-Maliki. Pertemuan antara Kerry dan Al-Maliki diperkirakan tidak akan berlangsung dengan suasana bersahabat. Ini disebabkan karena AS menyarankan agar PM Al-Maliki disarankan untuk mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri.
Sebelumnya, ketika melakukan kunjungan ke Kairo, Mesir, Kerry sempat mengeluarkan komentar mengenai situasi yang dialami Irak saat ini.
"Ini ada saat kritis dan kami meminta pemimpin Irak berani melawan motivasi sektarian dan membentuk pemerintah yang bersatu dan bisa memenuhi kebutuhan rakyat," ujar Kerry, seperti dikutip CBS, Senin (23/6). "Tidak ada negara yang bisa selamat dari teror yang menyebar dan tidak satu pun dari kita bisa membiarkan wilayah yang damai berubah menjadi basis terorisme," lanjutnya.
Menarik apa hasil pembicaraan yang dilakukan antara Kerry dan Al-Maliki. Sebelumnya Al-Maliki menolak untuk mundur dari kekuasaannya. Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama berencana mengirimkan 300 penasihat militer yang akan mengembangkan dan mengeksekusi serangan balasan untuk melawan ISIL. Keputusan Obama hanya mengirimkan penasihat militer dikarenakan dirinya tidak menginginkan ada peperangan di Irak. Obama pun menganggap keinginannya untuk tidak berperang sebagai kepentingan dari AS.
(AFP/dtc/okz/q)