Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Irak Dilanda Teror Militan Sunni, Ratusan Tentara Dieksekusi

- Sabtu, 28 Juni 2014 15:46 WIB
285 view
  Irak Dilanda Teror Militan Sunni, Ratusan Tentara Dieksekusi
Baghdad (SIB)- Teror militan Sunni tengah melanda Irak. Organisasi HAM, Human Rights Watch (HRW) mengkonfirmasi para militan telah mengeksekusi mati para tentara Irak bulan ini. Pembantaian massal itu terjadi di kota Tikrit. Pada pertengahan Juni lalu, para militan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) memposting foto-foto yang mereka klaim sebagai jasad puluhan tentara yang mereka tangkap dan eksekusi mati.

"Analisa foto-foto dan gambar satelit menunjukkan dengan kuat bahwa ISIL melakukan eksekusi massal di Tikrit setelah menguasai kota tersebut pada 11 Juni 2014," demikian pernyataan HRW seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (27/6).

Menurut HRW, jumlah korban tewas antara 160 dan 190 orang di setidaknya dua lokasi antara kurun waktu 11 Juni dan 14 Juni. Sementara ISIL mengklaim telah menewaskan 1.700 tentara Syiah Irak di Tikrit. Diakui HRW, jumlah korban jiwa bisa jadi jauh lebih banyak daripada jasad-jasad yang telah ditemukan tersebut. "Foto-foto dan gambar satelit dari Tikrit memberikan bukti kuat adanya kejahatan perang mengerikan yang memerlukan penyelidikan lebih jauh," ujar direktur emergensi HRW, Peter Bouckaert.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan pihaknya, HRW telah menemukan dua parit berisi jasad-jasad yang diyakini sebagai tentara-tentara Irak yang dieksekusi mati kelompok ISIL. Kedua parit itu berada di lokasi yang sama, hanya beberapa langkah dari apa yang dulu merupakan istana Water Palace milik mendiang mantan diktator Irak, Saddam Hussein.

"Selama konflik bersenjata, pembunuhan siapapun yang tidak ikut aktif dalam pertempuran, termasuk para anggota militer yang telah meletakkan senjata mereka dan mereka yang ditahan, merupakan kejahatan perang," pungkas HRW.

Krisis keamanan yang terjadi di Irak menimbulkan kekhawatiran internasional. Puluhan pekerja Tiongkok pun dipindahkan ke Baghdad dari wilayah Irak utara, yang sebagian besar telah dikuasai para militan Sunni. Bahkan sebanyak 1.200 orang lainnya juga akan dipindahkan ke Baghdad dalam beberapa hari ini.

Menurut surat kabar pemerintah, Tiongkok Daily, lebih dari 50 pekerja perusahaan Tiongkok Machinery Engineering Corp (CMEC) telah tiba di Baghdad pada Rabu, 25 Juni malam waktu setempat. Sebanyak 1.200 pekerja Tiongkok lainnya yang masih berada di kota Samarra, Irak utara akan tiba di Baghdad dengan menggunakan bus dalam tiga hari ini.

Tiongkok merupakan investor asing terbesar dalam industri minyak Irak. Lebih dari 10 ribu warga Tiongkok bekerja dalam berbagai bidang di negeri itu. Namun posisi mereka sebagian besar berada di wilayah Irak selatan, jauh dari lokasi-lokasi pertempuran antara militan dan pasukan pemerintah.

Belakangan ini, para militan Sunni yang dipimpin kelompok Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah melancarkan serangan-serangan ke sejumlah wilayah Irak. Kini kelompok ISIL telah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak utara. Para militan bahkan kini terus bergerak mendekati ibukota Baghdad. Kondisi ini pun memicu kekhawatiran dunia internasional.

Sementara itu, kedutaan Tiongkok di Irak menegaskan, pemerintah Tiongkok mengupayakan untuk melakukan evakuasi yang tertib atas warga Tiongkok. "Kedutaan Tiongkok di Irak terus melakukan kerjasama erat dengan pemerintah dan militer Irak untuk menilai secara tepat situasi keamanan sehingga bisa menjamin evakuasi personel Tiongkok dengan cepat, aman dan tertib," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry, Jumat (27/6) bertemu dengan Raja Arab Saudi, Abdullah, membicarakan cara menghadapi ekstremis Sunni yang telah mengambil-alih sebagian wilayah Irak dan Suriah. Kerry sebelumnya bertemu dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Yordania dan Uni Emirat Arab, dalam usaha untuk menghimpun persatuan kawasan itu menentang ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah.

Para pejabat Amerika mengatakan para diplomat Arab tidak menawarkan bantuan militer kepada pemerintahan Maliki.  Tetapi  Washington berharap negara-negara Arab dapat menggunakan pengaruh mereka terhadap milisi Sunni Irak untuk membantu melawan ISIL.

Pertemuan itu diadakan sementara Washington mempertimbangkan opsi militer di Irak.  Gedung Putih sedang mempertimbangkan serangan udara, tetapi telah menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat ke Irak, dari mana tentara Amerika yang terakhir ditarik tahun 2011.

Gedung Putih sedang mengirim 300 penasehat militer untuk membantu Baghdad  menghentikan gerakan maju ISIS. Sebagian pasukan itu tiba Kamis. Amerika juga menerbangkan 30 hingga 35 penerbangan pengintai di angkasa Irak. (Detikcom/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru