Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026
Rusia Peringatkan Konsekuensi Serius

Ukraina-Uni Eropa Teken Kesepakatan Politik dan Dagang

- Sabtu, 28 Juni 2014 15:47 WIB
237 view
 Ukraina-Uni Eropa Teken Kesepakatan Politik dan Dagang
Moskow (SIB)- Rusia memperingatkan adanya "konsekuensi serius" setelah bekas negara Soviet, Ukraina dan Moldova menandatangani kesepakatan kunci dengan Uni Eropa, melangkahi keberatan Kremlin. "Konsekuensi dari penandatanganan oleh Ukraina dan Moldova pastinya akan serius," kata Wakil Menteri Luar Negeri Grigory Karasin kepada kantor berita Interfax, Jumat (27/6). Namun ia menambahkan bahwa "penandatanganan dokumen semacam itu tentunya merupakan hak berdaulat setiap negara."

Jurubicara Presiden Vladimir Putin memperingatkan bahwa Rusia akan bertindak jika perjanjian itu pada akhirnya akan merugikan kepentingan ekonomi negara tersebut. "Kami akan mengambil langkah yang perlu untuk melindungi perekonomian kami," kata jurubicara Kremlin Dmitry Peskov.

Ukraina menandatangani perjanjian kerja sama perdagangan bebas dan politik dengan Uni Eropa. Georgia dan Moldova juga menandatangani kesepakatan serupa, untuk mendapatkan prospek integrasi ekonomi serta akses tak terbatas ke pasar UE dengan 500 juta penduduk.

"Dalam bulan-bulan terakhir, Ukraina telah membayar harga paling mahal untuk membuat impian Eropa ini menjadi kenyataan," kata Presiden Ukraina Petro Poroshenko kepada para pemimpin UE dalam acara penandatanganan kesepakatan di Brussels.

Kesepakatan simbolis tersebut merupakan inti dari krisis yang tengah berlangsung di Ukraina, dipicu oleh tindakan mantan Presiden Viktor Yanukovich yang didukung Moskow, yang tiba-tiba memutuskan untuk membekukan perjanjian dagang dan politik pada November menyusul adanya tekanan dari Moskow.

Terhambatnya perjanjian itu menyebabkan Yanukovich terguling pada Februari, pengambilalihan Krimea di Ukraina oleh Rusia, dan munculnya pemberontakan selama tiga bulan di timur Ukraina yang menewaskan lebih dari 400 orang.

Kremlin berulangkali menegaskan bahwa Kiev tidak bisa berharap untuk menjalin kerja sama dengan Rusia dan Uni Eropa. Putin menginginkan Ukraina bergabung dengan perhimpunan pabean yang dipimpin Moskow serta Uni Eurasia yang oleh Moskow disebut sebagai alternatif bagi blok Eropa. Ia mengecam pihak Barat yang ingin menarik sekutu-sekutu Rusia sesama bekas negara Soviet ke dalam lingkup pengaruhnya dan menjauh dari induk sejarahnya, Moskow.

Kesepakatan itu terjadi saat pecahnya bentrokan bersenjata di wilayah Ukraina bagian timur yang dilanda konflik. Empat tentara Ukraina tewas dan lima tentara lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan kelompok separatis setempat.

Kelompok pemberontak didukung oleh delapan tank Rusia dan peluncur bom mortir. Mereka menyerbu pangkalan militer Ukraina yang ada di dekat Kramatorsk pada Kamis (26/6) malam. Demikian seperti disampaikan oleh seorang analis militer, Dmytro Tymchuk yang juga dikenal dekat dengan militer Ukraina.

"Dalam serangan balasan yang dilakukan pasukan pemerintah, satu tank teroris hancur dan satu tank lainnya berhasil diamankan," terang Tymchuk via akun Facebook-nya. "Empat personel militer (Ukraina) tewas, lima personel lainnya terluka," imbuhnya. Tymchuk mengaku tak tahu jumlah korban tewas dari pihak pemberontak. Belum ada komentar resmi dari kelompok separatis pro-Rusia terkait bentrokan ini.

Ditambahkan oleh Tymchuk, bentrokan dengan pemberontak juga terjadi di perbukitan dekat kota Slavyansk dan melukai satu tentara Ukraina. Kemudian terjadi juga di dekat pangkalan militer Ukraina di Artemivsk dan melibatkan tank. Militer Ukraina membalas serangan ini, namun tidak ada korban jiwa.

Kabur ke Rusia


Sekitar 110 ribu orang telah kabur ke Rusia dari Ukraina sepanjang tahun ini akibat konflik yang melanda negeri itu. Sementara lebih dari 54 ribu orang telah kehilangan tempat tinggal di Ukraina akibat krisis tersebut. "Sejak awal 2014, 110.000 warga Ukraina telah tiba di Rusia," ujar Melissa Fleming, juru bicara badan pengungsi PBB, U.N. High Commissioner for Refugees (UNHCR).

Dijelaskan Fleming kepada para wartawan di Jenewa, Swiss, dari jumlah 110 ribu warga Ukraina yang pindah ke Rusia, hanya 9.500 orang di antaranya yang mendapatkan status pengungsi. Sementara 700 orang telah pergi ke Polandia, Belarus, Republik Ceko dan Rumania.

Diimbuhkan Fleming, sebagian besar warga Ukraina yang mengungsi ke Rusia tersebut berasal dari wilayah Ukraina timur, yang hingga kini terus dilanda aksi-aksi pemberontakan pro-Rusia. Dijelaskan Fleming, di dalam wilayah Ukraina sendiri, sebanyak 16.400 orang telah meninggalkan rumah-rumah mereka di Ukraina timur dalam satu pekan terakhir ini. Mereka ini kabur dikarenakan memburuknya situasi keamanan dan khawatir akan penculikan oleh separatis. Menurut Fleming, sejauh ini total sudah 54.400 warga Ukraina yang kini tinggal di kamp-kamp pengungsi. (Ant/AFP/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru