Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 23 April 2026

PBB: Tiap Dua detik, Ada Satu Orang di Dunia Jadi Pengungsi

- Kamis, 21 Juni 2018 14:35 WIB
531 view
PBB: Tiap Dua detik, Ada Satu Orang di Dunia Jadi Pengungsi
Geneva (SIB)- Sebanyak 16,2 juta orang menjadi pengungsi baru sepanjang tahun lalu. Dengan begitu, ada 44.500 orang setiap hari atau satu orang tiap dua detik yang terpaksa keluar dari rumah mereka. Demikian laporan terbaru PBB pada Selasa (19/6) yang juga mengungkap, total jumlah pengungsi hingga 2017 mencapai 68,5 juta orang. Kebanyakan pengungsi melarikan diri dari rumah akibat perang, kekerasan, serta persekusi, terutama di Myanmar dan Suriah. Jumlah pengungsi tersebut meningkat hampir tiga juta dibandingkan 2016, dan melonjak 50 persen dari 42,7 juta orang pada 10 tahun lalu. 

Jumlah pengungsi hingga 2017 setara dengan populasi di Thailand, sehingga satu dari 110 orang di dunia merupakan seorang pengungsi. "Keberhasilan dalam mengelola pengungsi secara global membutuhkan pendekatan yang baru dan jauh lebih komprehensif," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, UNHCR, Filippo Grandi. Dia menjelaskan, sekitar 70 persen dari penduduk yang mengungsi berasal dari 10 negara. 

"Jika ada solusi untuk konflik di 10 negara itu, atau setidaknya beberapa di antara mereka, jumlah pengungsi bisa mulai turun," ucapnya. Kebanyakan orang mengungsi di wilayah negara mereka sendiri atau disebut dengan istilah pengungsi internal. Hingga akhir 2017, ada 40 juta pengungsi internal di seluruh dunia, turun tipis dibandingkan 2016. 

Perang di Suriah yang berlangsung selama 7 tahun memaksa 6,3 juta orang keluar dari negara itu. Jumlah itu sama dengan sepertiga dari populasi pengungsi global. Sementara, sebanyak 6,2 juta warga Suriah menjadi pengungsi internal. Negara kedua yang paling banyak menghasilkan pengungsi pada 2017 adalah Afghanistan, dengan jumlah 2,6 juta orang. Turki menjadi negara penerima pengungsi terbanyak, dengan 3,5 juta orang yang terdaftar hingga 2017. Mayoritas pengungsi di Turki berasal dari Suriah. 

Trump Bela Kebijakan Imigrasi
Sementara itu, presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membela kebijakan imigrasinya yang berujung pemisahan ribuan imigran ilegal dengan anak-anak mereka di perbatasan AS. Trump menilai itu menjadi satu-satunya cara yang efektif untuk memerangi imigran ilegal yang berusaha masuk ke AS.

Seperti dilansir AFP, Rabu (20/6), saat berbicara dalam perkumpulan pengusaha kecil setempat, Trump menegaskan 'zero toleransi' untuk kebijakan imigrasinya yang menuai banyak kritikan. "Saya tidak ingin anak-anak diambil dari para orang tua," ucap Trump dalam forum itu. "Ketika Anda mengadili para orang tua karena masuk secara ilegal, yang seharusnya memang terjadi, Anda harus mengambil anak-anaknya," imbuhnya. "Kita tidak perlu mengadili mereka, tapi itu berarti kita tidak mengadili mereka karena masuk secara ilegal. Itu tidak baik," ujar Trump.

Pejabat-pejabat AS mengatakan, lebih dari 2.300 anak-anak telah dipisahkan dari orang tua atau wali pendamping mereka sejak awal Mei lalu. Hal ini dimulai saat pemerintahan Trump mengumumkan kebijakannya untuk menangkap dan mengadili siapa saja yang melintasi perbatasan AS-Meksiko, terlepas apakah mereka sedang mengajukan suaka politik.

Karena anak-anak tidak bisa ikut ke fasilitas imigrasi tempat orang tua mereka ditahan, maka mereka harus dipisahkan. Pemisahan ribuan anak dari keluarganya memancing kritikan keras. Kelompok HAM, kalangan evangelis Kristen, mantan Ibu Negara AS hingga kalangan politikus Partai Republik yang menaungi Trump, menyerukan pemisahan anak-anak dengan keluarganya di perbatasan itu segera diakhiri.

Namun Trump bersikeras dan bersumpah bahwa AS tidak akan menjadi 'kamp imigran'. "Kita tidak ingin orang-orang mengalir masuk ke negara kita," tutur Trump dalam forum yang digelar Selasa (19/6) waktu setempat. "Kita ingin sistem berbasis merit di mana orang-orang masuk dengan didasarkan pada kepantasan," imbuhnya. Lebih lanjut, Trump menuding media-media dengan laporannya telah membantu para penyelundup manusia. "Orang-orang yang mengajukan suaka secara legal di perlintasan masuk tidak diadili. Media berita palsu di sana tidak membahas soal itu. Mereka palsu. Mereka membantu para penyelundup ini seperti tidak ada yang percaya," tuding Trump.

Trump dijadwalkan bertemu anggota parlemen dari Partai Republik pada Selasa (19/6) waktu setempat untuk membahas hal ini. Banyak politikus Republikan yang sebenarnya tidak setuju dengan kebijakan Trump ini. Dalam komentarnya, Trump menuding kalangan Demokrat sengaja memprovokasi krisis dengan memblokir legislasi untuk memerangi imigran ilegal. "Kita ingin mengakhiri krisis perbatasan dengan akhirnya memberikan kita kewenangan legal dan sumber daya untuk menahan dan mengusir keluarga imigran ilegal bersama-sama dan memulangkan mereka ke negaranya," tudingnya. Menanggapi Trump, pihak Demokrat menyebut krisis perbatasan dipicu Trump sendiri dan menuding Trump menggunakan anak-anak sebagai bidak. (AFP/Detikcom/Kps/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru