Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Presiden Tiongkok Kutuk Agresi Kolonial Jepang

* Militer Tiongkok Dan India Tingkatkan Kerja Sama
- Sabtu, 05 Juli 2014 21:12 WIB
319 view
Presiden Tiongkok Kutuk Agresi Kolonial Jepang
Seoul (SIB)- Presiden Tiongkok Xi Jinping mengutuk apa yang disebutnya agresi kolonial Jepang terhadap Tiongkok dan Korea, sementara ia meneruskan kunjungan dua hari di Seoul. Dalam pidatonya Jumat (4/7) di Universitas Nasional Seoul, Xi mengatakan warga Tiongkok dan Korea Selatan mengalami “penderitaan sangat besar” sebagai akibat agresi penjajahan Jepang dalam paruh pertama abad ke-20. Ucapan itu dikeluarkannya sehari setelah Xi menawarkan akan mengadakan acara peringatan dengan Korea Selatan memperingati ulang-tahun ke-70  kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua tahun depan.

Korea Selatan dan Tiongkok adalah dua dari korban terbesar penjajahan Jepang. Kedua negara juga mempunyai sengketa wilayah zaman modern yang terpisah dengan Jepang dan prihatin atas usaha Tokyo untuk memperluas peran militernya.

Xi mencatat pada akhir abad 16 dinasti Tiongkok mengirim pasukan untuk membantu dinasti Korea mengalahkan pasukan Jepang yang melakukan invasi. “Kedua warga negara berjalan bersama-sama untuk berperang 400 tahun silam,” ujarnya. Namun saat Perang Korea 1950-53, Tiongkok membantu Korut melawan pasukan Korsel yang dibantu pasukan PBB dipimpin Amerika. Korsel dan Tiongkok memulihkan hubungan diplomatik tahun 1992, dan sejak itu hubungan dagang kedua negara membaik.

Banyak pengamat melihat kunjungan Xi ke Korea Selatan, kunjungan pertamanya sejak memangku jabatan, sebagai bagian dari usaha Beijing memperdekat Seoul ke dalam wilayah pengaruhnya dan dengan demikian mengasingkan Jepang. Xi dan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye sepakat memperluas hubungan yang telah kuat antara ekonomi kedua negara.

Kedua kepala negara juga mengungkapkan kekhawatiran atas perubahan kebijakan militer Jepang dan peninjauan ulang permintaan maaf atas kejahatan militernya. Menurut konstitusinya, Jepang dilarang menggunakan pasukannya untuk menyelesaikan konflik kecuali jika untuk membela diri. Jepang mengkolonisasi Semenanjung Korea dan menduduki sebagian wilayah Tiongkok sebelum dan selama Perang Dunia II.

Selasa kemarin, kabinet PM Shinzo Abe menyetujui revisi interpretasi konstitusi pasifis Jepang. Perubahan tafsiran ini akan melonggarkan batasan yang berlaku bagi aktivitas militer negara tersebut di luar teritorinya. Parlemen Jepang akan mendiskusikan undang-undang untuk mewujudkan visi Abe tersebut dalam beberapa bulan ke depan.

“Situasi dunia yang mengelilingi Jepang kini bertambah parah. Untuk bersiap menghadapi setiap skenario yang mungkin terjadi, kita perlu membuat aturan legislatif yang solid guna melindungi hidup dan perdamaian rakyat kita,” kata Abe.

Tingkatkan Kerja Sama
Para pejabat penting militer India dan Tiongkok berikrar akan meningkatkan kerja sama antara dua negara raksasa Asia itu dalam satu kunjungan panglima militer India. Jenderal Bikram Singh, panglima militer India pertama  mengunjungi Tiongkok sejak tahun 2005, melakukan perundingan dengan Fan Changlong, wakil ketua Komisi Militer Pusat Tiongkok, kata kantor berita Xinhua.

Hubungan antara dua negara itu umumnya meningkat tetapi mengalami gangguan menyangkut sengketa perbataan yang belum terselesaikan dan satu perang singkat pertengahan Abad lalu. Masalah perbatasan muncul kembali April tahun lalu dengan New Delhi menuduh pasukan Tiongkok memasuki sejauh 20km ke daerah yang diklaim India, yang memicu ketegangan tiga minggu yang diselesaikan setelah pasukan kedua pihak mundur.

"Kepentingan kita jauh lebih besar dari pada perbedaan kita," kata Fan kepada Singh. "Kedua negara memiliki kearifan yang cukup dan kemampuan untuk menangani masalah-masalah bersejarah. Singh menegaskan bahwa kedua negara bukan bersaing, kata laporan itu dan komunikasi militer dan interaksi adalah penting untuk meyakinkan bahwa daerah-daerah perbatasan tenang.

Keinginan Tiongkok untuk memperkuat kerja sama dengan India menyangkut sengketa mereka berlawanan dengan sikap keras Beijing  dalam sengketa-sengketa maritim di Laut Tiongkok Selatan dengan Filipina dan Vietnama dan Laut Tiongkok Timur dengan Jepang.

Tiongkok dan India adalah anggota kelompok BRICS bersama dengan Brazil,Rusia dan Afrika Selatan, dan kunjungan empat hari Singh pekan lalu dilakukan setelah lawatan Wakil Presiden Mohammad Hamid Ansari. Singh juga bertemu Fang Fenghui, kepala staf umum Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. (VoA/Ant/AFP/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru