Kiev (SIB)-
Militer Ukraina membuktikan tekad mereka untuk mengusir para pemberontak pro-Rusia. Para pemberontak dan komandan tertinggi mereka kabur dari basis mereka di kota Slavyansk, Ukraina timur. Ini merupakan keberhasilan terbesar pasukan Ukraina sejauh ini dalam perang melawan para separatis, yang telah berlangsung hampir tiga bulan.
"Pagi tadi, intelijen melaporkan bahwa Girkin (Igor Strelkov) dan sebagian besar para pemberontak telah meninggalkan Slavyansk," ujar Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (5/7). Sebelumnya, para pemberontak pro-Rusia berhasil menguasai Slavyansk pada 6 April lalu. Slavyansk merupakan kota industri dengan jumlah penduduk hampir 120 ribu jiwa.
Otoritas Ukraina menuding Strelkov sebagai seorang kolonel di unit intelijen militer Rusia yang dikenal sebagai Chief Intelligence Directorate (GRU). Namun Strelkov dan pemerintah Moskow telah membantah keterkaitan dengan GRU. Dikuasainya Slovyansk merupakan kemenangan besar bagi militer Ukraina yang selama beberapa bulan berperang melawan pemberontak tidak mengalami kemajuan yang berarti.
Pemimpin separatis Ukraina timur mendesak Rusia untuk mengamankan perjanjian gencatan senjata atau mengirim pasukan guna membantu mengatasi pasukan pro-Kiev, seraya memperingatkan bahwa kota kunci yang dikuasi kelompok separatis dapat segera jatuh.
"Jika Rusia tidak mengamankan perjanjian gencatan senjata atau melindungi kami, orang Rusia yang tinggal di sini akan dimusnahkan," kata Igor Strelkov, yang memproklamirkan diri sebagai Menteri Pertahanan dari Republik Rakyat Donetsk, kepada harian Rusia LifeNews yang pro-Kremlin.
"Ini akan terjadi dalam satu pekan, kemungkinan besar dalam dua pekan. Dan Slavyansk akan menjadi yang pertama yang akan dihancurkan," katanya, mengacu kepada kota markas separatis di bagian timur Ukraina.
Strelkov mengecam keengganan Rusia untuk mengirim pasukan ke Ukraina, seraya menambahkan bahwa ia dan teman-temannya sedang bersiap untuk terus bertempur selama diperlukan. "Rusia tidak ingin membantu (pemberontak) bersatu kembali dengan rakyat mereka," katanya. "Ini sangat sulit untuk diakui bahwa kami tidak mendapatkan bantuan selama tiga bulan."
Sebelum konflik, Slavyansk, yang terletak di wilayah timur kota industri Donetsk, memiliki populasi sekitar 120 ribu. Tetapi peperangan sengit antara kaum separatis dan pasukan yang setia pada Kiev telah mengubah kota itu menjadi kota hantu.
Warga sipil yang tidak melarikan diri dari Slavyansk sekarang mengalami kekurangan listrik dan air. "Ya, saya panik menghadapi kondisi ini dan saya takut. Prajurit saya tewas setiap hari, rumah sakit dipenuhi dengan orang-orang yang terluka," kata Strelkov. "Sangat sulit untuk melihat anak-anak dengan kaki mereka yang terkena ledakan proyektil. Kami akan terus berjuang tetapi kami benar-benar memerlukan bantuan."
Sebelumnya pada Jumat, 4 Juli kemarin, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan setuju untuk segera mengadakan pembicaraan dengan para komandan pemberontak dan pemerintah Rusia guna mengakhiri pertumpahan darah.
Beberapa hari lalu, Poroshenko telah memutuskan untuk menghentikan gencatan senjata selama 10 hari dengan para pemberontak. Keputusannya ini diikuti dengan operasi militer secara besar-besaran terhadap para pemberontak.
Atas situasi tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin pun melontarkan ancaman kepada pemerintah Kiev. Putin mengingatkan bahwa Rusia tidak akan tinggal diam dan akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi warga negaranya yang berada di Ukraina.
Peperangan antara kaum separatis dan pasukan pemerintah terjadi di Ukraina timur pada pertengahan April setelah aksi rakyat yang menggulingkan presiden yang didukung Moskow, Viktor Yanukovich, pada Februari dan Rusia menduduki Crimea pada bulan Maret.
(Detikcom/r)