Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Januari 2026

Korea Utara Tuding AS Persiapkan Invasi ke Negaranya

* Jepang: Korea Utara Masih Tetap Jadi Ancaman Serius
- Rabu, 29 Agustus 2018 16:30 WIB
434 view
Pyongyang (SIB) -Korea Utara (Korut) menuding Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan invasi terhadap negaranya. Korut menyebut AS tengah 'menetaskan plot kriminal untuk melepaskan perang terhadap DPRK' sambil 'melakukan dialog dengan senyum di wajahnya'.

Seperti dilansir CNN, Selasa (28/8), tudingan itu dilontarkan Korut usai muncul laporan radio Korea Selatan (Korsel) yang menyebut pasukan AS di Jepang menggelar latihan militer yang bertujuan untuk menginvasi Pyongyang. "Kita tidak bisa tidak menganggap serius perilaku ganda AS saat mereka sibuk melakukan latihan (militer) rahasia yang melibatkan unit khusus pembunuh sambil melakukan dialog dengan senyum di wajahnya," sebut otoritas Korut melalui surat kabar Rodong Sinmun. 

Laporan Rodong Sinmun itu mengutip laporan-laporan Korsel bahwa unit khusus AS telah diterbangkan ke Filipina sebagai bagian dari latihan invasi. "AS jelas-jelas salah mengerti jika mereka berpikir bahwa mereka bisa mengintimidasi seseorang melalui 'diplomasi kapal perang' yang usang yang biasa digunakan sebagai senjata maha kuasa di masa lalu dan mencapai niat jahat," imbuh pernyataan itu. 

Diplomasi kapal perang merupakan kebijakan luar negeri yang mendukung penggunaan atau ancaman militer. Dalam pernyataan kepada CNN, pada Senin (27/8), Pasukan Militer AS (USFJ) menyatakan bahwa pihaknya 'tidak menyadari adanya latihan (militer)' seperti yang dilaporkan media-media Korut dan Korsel. 

"Secara umum, pesawat-pesawat dan kapal-kapal AS beroperasi dari Jepang setiap hari untuk mendukung komitmen kita bagi sekutu-sekutu dan mitra-mitra di kawasan dan kepentingan perdamaian dan keamanan kawasan," ucap Direktur Urusan Publik USFJ, Kolonel John Hutchesson, dalam pernyataannya. 

Retorika keras dari Korut ini dilontarkan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berkunjung ke Korut untuk keempat kalinya.

"Saya telah meminta Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk tidak pergi ke Korea Utara, pada saat ini, karena saya merasa kita tidak mencapai kemajuan yang cukup dengan menghormati denuklirisasi Semenanjung Korea," kicau Trump via Twitter pada Jumat (24/8) lalu. "Menlu Pompeo menantikan kunjungan ke Korea Utara dalam waktu mendatang, kemungkinan besar setelah hubungan perdagangan dengan China diselesaikan," imbuhnya. 

Masih Tetap Jadi Ancaman Serius
Sementara itu, Jepang menyatakan bahwa senjata nuklir dan rudal Korea Utara (Korut) masih tetap menjadi ancaman yang serius dan nyata bagi keamanan Jepang. Bahkan Korut juga secara signifikan merusak perdamaian dan keamanan kawasan dan komunitas internasional.

Hal tersebut disampaikan dalam tinjauan pertahanan tahunan Jepang yang dirilis, Selasa (28/8). Ini merupakan tinjauan tahunan pertama sejak mencairnya ketegangan di Semenanjung Korea. Dalam tinjauan tahun 2018 tersebut juga disorot mengenai kebangkitan China sebagai kekuatan militer. 

Disebutkan bahwa Beijing telah memicu "kekhawatiran keamanan yang kuat di wilayah dan komunitas internasional, termasuk Jepang".

Tahun lalu, tinjauan pertahanan Jepang dirilis di tengah meningkatnya ketegangan dengan Korut terkait uji coba nuklir dan rudal-rudalnya. Terlebih lagi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman perang terhadap Pyongyang. 

Namun sejak itu, ketegangan mulai mencair yang ditandai dengan pertemuan bersejarah antara Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-Un di Singapura pada 12 Juni lalu. Namun meski begitu, dalam tinjauan pertahanan 2018, Tokyo menyatakan: "Tak ada perubahan dalam pengakuan dasar kami mengenai ancaman senjata nuklir dan rudal Korea Utara."

Dalam dokumen itu seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (28/8), disebutkan bahwa "Pyongyang terus menjadi ancaman serius dan segera yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi keamanan Jepang dan secara signifikan merusak perdamaian dan keamanan wilayah dan komunitas internasional."

Dalam dokumen itu, Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera mengakui bahwa Korut telah memulai "dialog" dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan (Korsel). "Namun kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa, bahkan sampai hari ini, Korut memiliki dan sepenuhnya mengerahkan beberapa ratus rudal yang menempatkan hampir seluruh Jepang dalam jangkauan," ujar Onodera.

Sebagai respons atas hal itu, Jepang terus meningkatkan kapasitasnya untuk melindungi negara dari persenjataan Korut, termasuk rencana untuk menggunakan dana hingga US$ 4,2 miliar selama tiga dekade mendatang guna memasang dan mengoperasikan sistem-sistem radar AS. (CNN/AFP/Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru