Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 13 Februari 2026

Trump Ingin Bunuh Assad Usai Serangan Kimia di Suriah

* AS akan Bertindak Jika Suriah Kembali Pakai Senjata Kimia di Idlib
- Kamis, 06 September 2018 20:29 WIB
250 view
Trump Ingin Bunuh Assad Usai Serangan Kimia di Suriah
SIB/T
Jurnalis senior Bob Woodward menulis buku yang membeberkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad usai serangan kimia di Suriah pada tahun 2017.
Washington (SIB) -Sebuah buku baru membeberkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad usai serangan kimia di Suriah pada tahun 2017. Dalam buku yang ditulis jurnalis Washington Post, Bob Woodward tersebut, dituliskan bahwa Trump mengatakan pada Menteri Pertahanan AS James Mattis bahwa dirinya ingin membunuh Assad. 

Hal itu disampaikan Trump setelah Washington menuduh pemerintahan Assad mendalangi serangan senjata kimia di Khan Shaykhun, provinsi Idlib, Suriah tahun lalu. "Ayok... kita bunuh dia! Ayok masuk ke sana. Ayok kita bunuh... banyak dari mereka," kata Trump kepada Mattis saat itu via telepon, dalam kutipan buku tersebut seperti dilansir Press TV, Rabu (5/9).

Di buku itu disebutkan, Mattis tampak ingin menenangkan Trump dengan mengatakan bahwa dirinya akan mengurus hal tersebut. Namun setelah panggilan telepon tersebut berakhir, Mattis mengatakan pada seorang asisten senior, "Kita tidak akan melakukan semua itu. Kita akan jauh lebih terukur," tulis Woodward dalam buku tersebut. Tim keamanan nasional AS kemudian menyiapkan rencana serangan udara yang lebih konvensional, yang pada akhirnya diperintahkan oleh Trump untuk dilaksanakan.

Sebelumnya pada 4 April 2017, serangan gas sarin dilaporkan terjadi di kota Khan Shaykhun, provinsi Idlib dan menewaskan lebih dari 80 warga Suriah. Negara-negara Barat menyalahkan insiden itu pada pemerintahan Assad. Menyusul serangan tersebut, AS pun melancarkan serangan rudal terhadap Pangkalan Udara Shayrat di Provinsi Homs, Suriah pada 7 April 2017.

Beberapa jam setelah kutipan buku tersebut dipublikasi, Gedung Putih menyampaikan kecaman atas buku Woodward tersebut. "Buku ini tak lebih dari kisah-kisah yang direkayasa, kebanyakan oleh mantan pegawai yang tidak puas, yang disampaikan untuk membuat Presiden terlihat buruk," tegas juru bicara pers Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders dalam sebuah statemen. Buku Woodward tersebut direncanakan untuk beredar di pasaran mulai pekan depan. 

Sementara itu, pasukan pemerintah Suriah berencana akan menggempur habis-habisan wilayah Idlib yang masih dikuasai pemberontak. Amerika Serikat (AS) pun memperingatkan rezim Presiden Bashar al-Assad bahwa pihaknya akan merespons 'dengan cepat dan pantas' jika senjata kimia digunakan lagi.

Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, menyatakan AS memantau secara saksama perkembangan situasi di Provinsi Idlib. Pasukan pemerintah Suriah diperkirakan akan melancarkan serangan terhadap pemberontak di Idlib, yang dikhawatirkan memicu bencana kemanusiaan baru.

"Biar kami perjelas, kami tetap ada pada posisi tegas kami bahwa, jika Presiden Bashar al-Assad memilih untuk kembali menggunakan senjata kimia, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya akan merespons dengan cepat dan secara pantas," sebut Sanders. "(Gedung Putih-red) Memantau secara saksama situasi di Provinsi Idlib, Suriah, di mana jutaan warga sipil tak berdosa ada di bawah ancaman serangan segera rezim Assad, yang didukung Rusia dan Iran," imbuhnya. "Presiden Donald Trump telah memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan menjadi eskalasi sembrono bagi konflik yang sudah tragis dan akan membahayakan nyawa ratusan ribu orang," ucap Sanders.

Dituturkan Sanders, AS akan bekerja bersama sekutu-sekutunya untuk mencari solusi diplomatik yang bertahan lama untuk menyelesaikan konflik di Suriah, di bawah bantuan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) 2254.

Dalam 1,5 tahun terakhir, Presiden AS Donald Trump sudah dua kali memerintahkan serangan udara yang dipimpin militer AS terhadap target-target di Suriah. Serangan-serangan udara itu dilancarkan untuk merespons apa yang disebut AS sebagai penggunaan senjata kimia oleh pasukan rezim Assad.

Dalam kicauan via Twitter pada Senin (3/9), Trump memperingatkan Assad dan sekutunya, Iran dan Rusia, untuk tidak melancarkan 'serangan secara sembrono' terhadap Provinsi Idlib. Dia memperingatkan bahwa ratusan ribu orang bisa saja tewas akibat serangan itu. Kremlin atau Kantor Kepresidenan Rusia pada Selasa (4/9) waktu setempat, mengecam peringatan Trump untuk Suriah itu. Kremlin menyebut wilayah Idlib sudah menjadi 'sarang terorisme'. 

Provinsi Idlib menjadi markas kuat terakhir bagi pemberontak yang semakin terdesak oleh pemerintah Suriah. Provinsi itu banyak ditinggali warga sipil dan pemberontak yang dievakuasi dari kantong-kantong pemberontak lainnya yang berhasil direbut kembali oleh pasukan rezim Assad. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru