Chicago (SIB)- Akhir pekan setelah peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, atau Independence Day di Chicago diwarnai serangkaian kekerasan bersenjata. Sedikitnya 9 orang tewas dalam rentetan aksi penembakan di kota terpadat ketiga di AS tersebut.
Seperti dilansir AFP, Selasa (8/7), terdapat sebanyak 50 aksi penembakan yang dilaporkan terjadi di Chicago sejak Kamis (3/7) malam hingga Minggu (6/7) tengah malam waktu setempat. Hal ini memicu dilakukannya introspeksi dan seruan tindakan tegas dari aparat setempat. Media lokal, Chicago Tribune melaporkan jumlah kasus yang lebih banyak. Menurut Chicago Tribune, sebanyak 82 orang ditembak, dengan 14 orang di antaranya menderita luka fatal selama masa liburan 4 Juli kemarin.
Insiden penembakan pada Minggu (6/7) sore menewaskan 4 orang dan melukai 26 orang lainnya. Dalam insiden lainnya, dilaporkan polisi setempat menembak 5 orang, termasuk dua remaja yang akhirnya tewas karena tidak mematuhi instruksi polisi untuk menjatuhkan senjata mereka.
"Jumlah aksi penembakan dan pembunuhan yang terjadi selama akhir pekan sangat tidak bisa diterima," tutur Walikota Chicago, Rahm Emanuel yang juga mantan kepala staf untuk Presiden Barack Obama. Emanuel mendorong masyarakat untuk berperan lebih aktif dalam mencegah kaum muda yang terlibat aktivitas kriminal di jalanan. Dia juga mengupayakan penambahan personel kepolisian di jalanan untuk menjaga keamanan.
Kepolisian setempat menyebut Minggu (6/7) sebagai hari berdarah di Chicago. "Baru kemarin kita kehilangan," ucap Inspektur Garry McCarthy dari Kepolisian Chicago kepada wartawan setempat. McCarthy juga menyalahkan sistem peradilan setempat yang menurutnya, tidak menerapkan pengetatan aturan senjata api dan hukuman bagi pelaku penembakan. "Sistem peradilan pidana di negara bagian Illinois tidak dirancang untuk mengurangi kekerasan bersenjata," sebutnya. Dilaporkan untuk tahun lalu, tercatat ada 415 kasus pembunuhan di Chicago. Jumlah ini tergolong cukup tinggi dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di AS.
(Detikcom/ r)