Bangkok (SIB)- Seorang warga Thailand, Chaiya Somsrichan, bunuh diri gara-gara Brasil kalah melawan Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014 di Belo Horizonte pada Selasa (8/7). Pemicunya, tulis laman Thai Rath, karena dia kalah bertaruh.
Polisi menemukan jasad Chaiya, warga Distrik Song Phi Nong, tergeletak di kamar rumahnya. Di sampingnya ada sebotol pestisida yang sudah kosong. Kuat dugaan, menurut Mayor Polisi Somporn Porntaniskul, pelaku meminum racun tersebut. Di depan jasad Chaiya, televisi masih menyala.
Ibunda korban, Iang Roongcharoen, yang menceritakan latar belakang tindakan nekat anaknya itu. Chaiya sangat gemar menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2014. Ia acap mengajak kawan-kawannya menonton pertandingan di rumahnya. Rupanya, Chaiya ikut bertaruh juga. Penagih utang sering datang mencarinya.
Sebelum kematiannya, kata Iang, Chaiya meminjam uang 1.000 baht darinya. Namun, Iang cuma menyerahkan 200 baht. Saat ini 1 baht Thailand setara Rp 360,50. Di depan polisi, salah seorang kawan Chaiya mengatakan bahwa korban bertaruh untuk kemenangan Brasil. Kenyataannya, Brasil dilumat Jerman 1-7. Chaiya pun kesulitan membayar kekalahan taruhan dan kematian menjadi pilihannya.
Picu Kemarahan Publik ThailandSeorang gadis berusia 13 tahun diperkosa secara brutal dan dibunuh di kereta api dalam perjalanan malam di Thailand. Hal ini sontak memicu kemarahan publik Negeri Gajah. Seperti dimuat ABC, Rabu (9/7), jasad remaja tersebut ditemukan di dekat rel kereta Distrik Pranburi, Provinsi Prachuap Khirikhan, pada Selasa 8 Juli 2014.
Korban diperiksa saat menumpang kereta perjalanan malam pulang ke rumah, dari Provinsi Surat Thani ke Ibukota Bangkok, bersama saudara dan teman-temannya. Tiba-tiba, ada seorang pemuda datang dan menyerangnya. Tak disebutkan apakah saudara dan teman korban juga diserang.
Keesokan harinya, wanita malang tersebut ditemukan tak bernyawa di pinggir rel. Polisi langsung menyelidiki kasus ini dan berhasil menangkap pelaku yang diketahui sebagai petugas kereta api bernama Wanchai Saengkhao. "Kasus seperti ini sangat jarang terjadi di Thailand. Pelaku memanfaatkan kesempatan untuk berbuat seperti itu," ujar Komandan Kepolisian Bidang Perlindungan Anak dan Wanita, Napanwut Liemsa-nguan.
Dia menjelaskan, saat diinterogasi, pelaku mengaku dirinya sedang mabuk. Tersangka juga mengaku dirinya tak sadar telah melakukan perbuatan tersebut. Meski demikian, ia tetap dijerat pasal pemerkosaan, pembunuhan dan terancam hukuman mati.
Deputi Kepolisian Nasional Thailand Ek Angsananond mengatakan, pihaknya akan mengusut serius kasus ini demi menjawab desakan warga yang meminta pelaku untuk dihukum seberat-beratnya: mati. "Kami berhasil membekuknya dari hasil pelacakan ponsel korban. Dia diketahui sempat mencuri ponsel milik korban dan menjualnya ke seseorang di Bangkok. Dan kami berhasil menemukannya," jelas Ek, seperti dimuat Bangkok Post.
Kabar soal pemerkosaan bocah perempuan itu menggemparkan warga di negeri Asia Tenggara tersebut. Para pengguna media sosial di Thailand mendesak agar pelaku perkosaan itu ditangkap dan dihukum mati. Miss Thailand 2014 Nonthawan "Maeya" Thongleng membuat poster di Instagram untuk menyerukan pemerintah yang saat ini dipegang militer untuk melakukan perubahan. Terutama dalam hal perlindungan terhadap wanita. "Saya berharap sekali ada perubahan soal ini. Kita butuh perubahan. Pemerkosa harus dihukum berat," tulis Maeye.
(ABC Australia/kps/q)