Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Maret 2026

China Mengaku Siap Kuasai Taiwan dan Laut China Selatan

* Kongres AS Sepakati Jual Senjata Rp 5 Triliun ke Taiwan
- Sabtu, 27 Oktober 2018 15:27 WIB
430 view
Beijing (SIB)- Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe, mengatakan negaranya akan mempertahankan setiap centimeter wilayah dari gangguan pihak luar. Wilayah ini berupa pulau yang mengatur urusannya sendiri seperti Taiwan dan wilayah Laut China Selatan. "Jika ada seseorang yang mencoba memisahkan Taiwan dari China, angkatan bersenjata China akan mengambil tindakan berapapun biayanya," kata Wei dalam pernyataan di forum keamanan Xiangshan Forum di Beijing, Kamis (25/10).

Wei juga mengatakan hubungan dengan Amerika Serikat penting dan sensitif. Taiwan merupakan kepentingan inti dari Beijing sehingga menolak segala bentuk unjuk kekuatan oleh pasukan luar di Laut China Selatan.

China merasa marah dengan sanksi dari Amerika Serikat terhadap militer karena membeli sejumlah peralatan militer canggih dari Rusia. Baru-baru ini, dua kapal perang AS juga berlayar melewat Selat Taiwan sambil dibayangi kapal perang China. Kedua negara juga terlibat perang dagang yang sengit dengan saling menaikkan tarif bea impor mencapai ribuan triliun rupiah. "Pulau-pulau di Laut China Selatan merupakan milik teritorial China. Mereka adalah warisan dari nenek moyang dan kami tidak bakal mau kehilangan satu centimeter pun," kata Wei.

Seorang mantan komandan militer AS mengatakan ada kemungkinan kedua negara berperang dalam waktu 15 tahun lagi.  Pensiunan Letnan Jenderal Ben Hodges mengatakan AS bakal harus lebih fokus membela kepentingannya di Pasifik.

"Saya pikir dalam 15 tahun, jika tidak terelakkan, ada kemungkinan besar kita akan berperang melawan China," kata Hodges sambil menambahkan AS tidak memiliki kapasitas untuk melakukan semuanya sendiri di Eropa dan di Pasifik untuk menangani ancaman China.

Menurut Hodges kepada AP, salah satu indikasi perang bakal terjadi antara AS dan China adalah insiden kapal perang kedua negara baru-baru ini di Laut China Selatan. Soal ancaman ini, Wei mengatakan,"Militer China tidak akan pernah menjadi ancaman untuk negara lain. Kami tidak akan melakukan hegemoni atau perlombaan senjata." 

Sementara itu Kongres  AS dilaporkan menyepakati penjualan senjata ke Taiwan secara de facto. Persetujuan itu memberi jalan bagi Kementerian Luar Negeri untuk menyelesaikan kesepakatan transaksi bernilai 330 juta dollar AS, atau Rp 5 triliun. Ketika menerusan penjualan itu ke Senat September lalu, Pentagon menyebut kerja sama itu bakal memberi kontribusi bagi kebijakan luar negeri dan keamanan AS. Dalam penbahasan dengan tenggat waktu selama 30 hari yang berakhir Rabu (24/10), tidak ada penolakan yang keluar dari anggota Kongres.

Pentagon menyatakan, transaksi itu meliputi penjualan suku cadang jet tempur F-16, F-CK-1 Ching-kuo, pesawat C-130, maupun kebutuhan logistik militer lainnya. Pengesahan penjualan itu merupakan yang kedua sejak Presiden Donald Trump menjabat. Tahun lalu, Washington menyepakati penjualan senjata senilai 1,4 miliar dollar AS, atau Rp 21,3 triliun. 

Kabar penjualan itu terjadi beberapa hari setelah dua kapal perang AS dilaporkan melewati Selat Taiwan untuk melakukan transit. Selain itu terdapat konferensi industri pertahanan AS-Taiwan di Annapolis, Maryland, dan direncakan bakal dihadiri Wakil Menteri Pertahanan Chang Guan-chung.

Dewan Bisnis AS-Taiwan selaku penyelenggara berkata, konferensi tersebut bertujuan memantapkan hubungan kerja sama dua negara di bidang pertahanan pada masa depan. Belum ada reaksi dari China setelah penjualan itu disepakati Kongres. 

Beijing dilaporkan selalu menentang penjualan maupun kontak dengan Taiwan. China menganggap Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya yang harus kembali dipersatukan menggunakan paksaan jika diperlukan. Menteri Pertahanan China Wei Fenghe berujar Negeri "Panda" merupakan satu-satunya negara besar di dunia yang masih belum bersatu.  (Kps/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru