Gaza City (SIB)- Kelompok Hamas yang menguasai Gaza, memutuskan untuk menutup perbatasan Erez karena gempuran Israel yang tiada henti. Penutupan ini menghambat sekelompok warga Palestina yang akan berobat ke Israel. Seperti dilaporkan koresponden AFP, Selasa (15/7), sekitar 20 warga Palestina mendapat jadwal untuk menjalani pengobatan kanker di rumah sakit Israel. Namun ketika tiba di perbatasan Gaza dengan Israel, mereka tidak diperbolehkan melintas.
Tidak ada konfirmasi soal penutupan perbatasan tersebut dari pihak COGAT, atau Kementerian Pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas wilayah perbatasan. Namun seorang pejabat Hamas di lokasi bersikeras bahwa perbatasan Erez tersebut tidak akan dibuka. Pintu gerbang terowongan yang menghubungkan wilayah Israel dan Gaza juga ditutup. "Perbatasan ditutup karena serangan Israel yang terus terjadi," ucap pejabat Hamas tersebut.
Meski cukup sering menjadi area konflik, tidak ada laporan serangan Israel di wilayah Erez pada Senin (14/7) maupun Selasa (15/7). Seorang pejabat Hamas lainnya menyebutkan, perbatasan Erez akan tetap ditutup hingga ada kepastian dari dunia internasional bahwa wilayah tersebut dilindungi dari serangan udara Israel. "Kami membutuhkan jaminan internasional bahwa perbatasan tersebut, dan rute antara kedua wilayah perbatasan, tidak akan dibombardir oleh Israel," sebut pejabat yang enggan menyebut namanya.
Perbatasan Erez yang terletak di antara Jalur Gaza dengan wilayah Israel biasanya dibuka bagi setiap warga Palestina yang mendapat izin khusus untuk memasuki wilayah negeri Yahudi tersebut. Biasanya untuk urusan medis atau berobat.
Awal pekan ini, warga Palestina yang memegang paspor asing dievakuasi melalui perbatasan Erez, saat gempuran udara Israel di Gaza semakin parah. Total tercatat ada 192 warga Palestina yang tewas akibat gempuran Israel sejak Selasa (8/7) lalu.
Sementara itu sebuah roket kembali ditembakkan dari wilayah Libanon ke Israel. Roket ini jatuh di wilayah Israel bagian utara, namun tidak menimbulkan korban jiwa. "Sedikitnya satu roket yang ditembakkan dari Libanon mengenai sebuah area terbuka di wilayah Nahariya utara," demikian pernyataan militer Israel.
Nahariya merupakan sebuah kota dekat pantai yang terletak tak jauh dari perbatasan Libanon. Menurut militer Israel, tidak ada korban jiwa maupun kerusakan yang disebabkan oleh serangan roket tersebut. Militer Israel mengakui bahwa pihaknya langsung melakukan serangan balasan dengan tembakan artileri. Serangan balasan ditargetkan ke wilayah Libanon yang diyakini menjadi lokasi peluncuran roket.
Secara terpisah, sumber dari otoritas keamanan Libanon menuturkan bahwa sebenarnya ada 3 roket yang ditembakkan ke wilayah Israel. Ketiga roket tersebut ditembakkan dari sebuah desa bernama Quleili, Libanon. Sumber itu juga menyebutkan, ada sedikitnya 60 tembakan artileri yang diluncurkan dari wilayah Israel ke sekitar desa Quleili, yang menjadi lokasi peluncuran roket. Ditambahkan oleh sumber tersebut, empat tembakan artileri Israel mengenai sebuah area dekat kamp warga Palestina, Rashidiyeh yang ada di wilayah Libanon dan berjarak sekitar 2 kilometer dari Quleili.
Tidak hanya itu, sebuah helikopter yang diyakini milik militer Israel juga dilaporkan mengudara di atas garis pantai Mediterania, menembakkan suar cahaya untuk menerangi area yang menjadi target serangan Israel. Warga setempat melaporkan bagaimana mengerikannya serangan balasan Israel tersebut. "Serangan (Israel) tersebut sangat intens. Setiap 3-4 detik, sebuah bom meledak. Kami ketakutan," terang warga desa Quleili, Hussein Abu Khalil, yang terpaksa mengajak keluarganya bersembunyi di bawah tanah.
Ini bukan pertama kalinya serangan roket dari Libanon jatuh di wilayah Israel. Pada Jumat (11/7) dan Sabtu (12/7) lalu, sejumlah serangan roket dari Libanon jatuh di wilayah Israel bagian utara, namun tidak memicu korban jiwa. Militer Israel meyakini bahwa roket-roket tersebut ditembakkan oleh sekelompok kecil warga Palestina yang ada di Libanon, sebagai bentuk solidaritas dengan militan Palestina di Gaza.
(Detikcom/h)