Geneva (SIB)- Ketua Dewan HAM PBB Navi Pillay, Rabu (23/7) mengatakan, aksi militer Israel di Jalur Gaza bisa dianggap sebagai kejahatan perang. Namun, Pillay juga mengecam serangan roket Hamas ke wilayah Israel. "Terdapat kemungkinan kuat bahwa hukum internasional telah dilanggar dalam satu perilaku yang bisa mengarah ke kejahatan perang," kata Pillay.
Kejahatan perang itu, lanjut Pillay, terjadi karena serangan Israel menewaskan warga sipil dan anak-anak Palestina. Namun, Pillay juga menegaskan bahwa warga dan anak-anak Israel memiliki hak untuk hidup tenang tanpa dirundung ketakutan akan serangan roket Hamas.
Dewan HAM PBB yang beranggotakan 46 negara itu berencana untuk menyerukan penyelidikan internasional terkait serangan Israel di Jalur Gaza. Pertemuan khusus Dewan HAM PBB itu diserukan negara-negara Arab dan negara-negara Islam dan ditujukan untuk melakukan voting terhadap resolusi yang dimasukkan Palestina—yang berstatus negara pengamat di PBB.
Resolusi usulan Palestina itu berisi kecaman atas serangan sistematis dan menyeluruh terhadap HAM dan kebebasan mendasar sejak Israel menggelar serangannya untuk menghentikan serangan roket dari Gaza. Resolusi itu juga berisi seruan agar dunia internasional segera mengirimkan komisi internasional dan independen ke Gaza untuk menyelidiki pelanggaran HAM dan hukum internasional di wilayah pendudukan Israel di Palestina, termasuk di Jerusalem timur, lebih khusus lagi di Jalur Gaza. Serangan Israel ke Gaza, yang merupakan konflik terburuk dibanding dua bentrokan serupa pada 2009 dan 2012, sudah menewaskan hampir 650 orang Palestina dan 31 orang warga Israel.
"Hak rakyat Palestina untuk melawan pendudukan Israel tidak bisa menjadi pembenar peluncuran ribuan roket dan mortir ke arah warga sipil Israel," kata pengawas Dewan HAM PBB untuk Timur Tengah, Makarim Wibisono. "Namun, serangan roket itu juga tak bisa membenarkan serangan besar-besaran Israel dari darat, laut, dan udara terhadap 1,7 juta jiwa orang yang terjebak di salah satu kawasan paling padat di dunia itu," tambah Wibisono.
Israel: Ini Bukan Perang yang Kami Pilih
Konflik Gaza terus memakan korban warga sipil Palestina. Pemerintah Israel bersikeras bahwa negaranya hanya bertindak membela diri dari kelompok Hamas. Israel pun menuding Hamas menggunakan korban-korban warga sipil Palestina tersebut sebagai "bahan bakar mesin propagandanya.
" "Ini bukan perang yang kami pilih. Ini usaha terakhir kami," cetus Wakil Dubes Israel untuk PBB, David Roet, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/7).
Dikatakan Roet dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tersebut, pemerintah Israel telah menerima proposal yang disampaikan Mesir mengenai gencatan senjata dengan Hamas. Tidak seperti Hamas yang bersikeras menolak gencatan senjata tersebut.
Akan tetapi, negara-negara Arab mempertanyakan klaim Israel bahwa pihaknya hanya bertindak membela diri. Ini terbukti dengan tingginya korban jiwa di kalangan warga sipil Palestina, khususnya wanita dan anak-anak. "Kitab Taurat menyebutkan satu mata dibalas satu mata.
Tidak pernah disebutkan 100 mata hanya untuk satu mata," cetus Dubes Mesir untuk PBB Mootaz Ahmadein Khalil.
Dalam pertemuan itu, Dubes Amerika Serikat untuk PBB Samantha Power juga mengingatkan, krisis kemanusiaan akan kian memburuk di Gaza dengan adanya konflik ini. Ditekankannya, satu-satunya solusi adalah gencatan senjata segera. Akibat konflik ini, lebih dari 100 ribu warga Palestina telah meninggalkan rumah-rumah mereka dan kini mengungsi ke sekolah-sekolah yang dikelola badan kemanusiaan PBB, UNRWA.
(AFP/kps/dtc/q)