Yerusalem (SIB)- Upaya gencatan senjata di Gaza terus digiatkan. Namun menteri Israel menyebut bahwa gencatan senjata antara Israel dengan Hamas tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Otoritas Mesir dengan dibantu Amerika Serikat, menjadi mediator antara Israel dan Hamas dalam upaya gencatan senjata di Gaza.
Setidaknya paling cepat awal pekan depan saat Idul Fitri, pertempuran bisa dihentikan demi memungkinkan bantuan untuk menjangkau wilayah Gaza, serta demi memfasilitasi perundingan gencatan senjata yang lebih mendalam. Namun harapan ini langsung dimentahkan salah satu menteri Israel.
"Saya memperkirakan tidak akan ada gencatan senjata untuk beberapa hari ke depan, ketika IDF (Israel Defence Forces) pergi," ucap Menteri Ilmu Pengetahuan Israel Yaakov Peri, yang juga mantan pemimpin keamanan Israel. Hal ini disampaikan oleh Yaakov Peri kepada media setempat Walla dan dilansir Reuters, Kamis (24/7).
Menurut Yaakov Peri, militer Israel atau IDF membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan misi mereka menghancurkan terowongan bawah tanah, yang melintas antara perbatasan Israel-Gaza. Terowongan bawah tanah tersebut kerap digunakan oleh gerilyawan Gaza saat melakukan serangan ke Israel. "Bahkan jika ada gencatan senjata kemanusiaan, kami akan terus menangani terowongan tersebut," jelasnya. "Saya bisa mengatakan, secara otoritatif, bahwa dua atau tiga hari tidak akan cukup untuk menangani terowongan tersebut," tandas Yaakov Peri.
Cabut Blokade Atas Gaza
Sementara itu, kelompok Hamas bersikeras menolak gencatan senjata dengan Israel guna mengakhiri konflik Gaza. Hamas hanya akan menyetujui gencatan senjata jika blokade Israel atas Jalur Gaza dicabut. "Kami menolak gencatan senjata sekarang... dan akan menolaknya di masa mendatang sebelum adanya negosiasi soal tuntutan-tuntutan Hamas, yang mencakup pencabutan blokade bertahun-tahun atas wilayah Palestina," tegas kepala Hamas Khaled Meshaal seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (24/7).
Pencabutan blokade Gaza yang telah berlangsung 8 tahun, merupakan tuntutan utama Hamas. Kelompok militan penguasa Gaza itu juga menginginkan dibukanya perlintasan perbatasan Rafah dengan Mesir dan agar Israel membebaskan para tahanan Palestina. "Kami tak akan menerima usulan yang tidak mencabut blokade atas rakyat kami dan tidak menghargai pengorbanan mereka," tegas Meshaal kepada para wartawan di Doha, Qatar.
Upaya gencatan senjata antara Israel dengan Hamas kini tengah dibahas secara serius di Mesir. Namun Hamas menolak usulan gencatan senjata dari Mesir karena dianggap menguntungkan Israel. Menurut Hamas, usulan gencatan senjata dari Mesir itu, akan bisa membuat Israel mendikte kapan pihaknya akan mengurangi blokadenya atas Gaza. Usulan Mesir itu telah mendapat dukungan dari Liga Arab, Amerika Serikat dan PBB.
Konflik di Gaza hingga kini telah memasuki hari ke-16. Sejauh ini, sekitar 695 warga Palestina telah tewas selama operasi militer Israel di Gaza. Sebanyak 34 warga Israel dan seorang pekerja asal Thailand juga tewas dalam konflik berdarah ini.
(Rtr/AFP/detikcom/q)