Prancis (SIB)-
Insiden Air Algerie ternyata menelan korban jiwa beberapa tokoh penting. Salah satu diantaranya adalah seorang pemimpin Faksi garis keras Lebanon, Hizbullah. Diduga pemimpin Hizbullah yang menjadi korban Air Algerie, ada di dalam pesawat dengan menyamar sebagai seorang pebisnis. Di pesawat dengan nomor penerbangan AH5017 diketahui terdapat 19 penumpang asal Lebanon.
Sampai saat ini Hizbullah masih belum mengonfirmasi tentang adanya salah seorang anggota di AH5017. Demikian dilansir dari IBTimes, Sabtu (26/7). Walau belum bisa memastikan, Otoritas Lebanon sudah mengutus tim ahli ke lokasi insiden. Tim ahli dari Lebanon akan membantu investigasi penyebab jatuhnya pesawat.
Selain seorang yang terduga sebagai pemimpin Hizbullah, di AH5017, terdapat pula 33 personel militer Prancis. Dari 33 orang ini diduga ada tiga orang pejabat senior intelijen Prancis. AH5017 jatuh di Kota Gossi, Utara Mali. Sampai saat ini Otoritas Aljazair belum bisa memastikan estimasi penumpang AH5017 apakah 116 atau 118.
Cuaca Buruk Diduga Penyebab Jatuhnya Air Algerie
Cuaca buruk kemungkinan besar menjadi penyebab jatuhnya pesawat Air Algerie di Mali, Afrika Barat, sehingga menewaskan semua penumpangnya yang terdiri dari 118 orang, kata sejumlah pejabat Perancis.
Para penyelidik di tempat jatuhnya pesawat di bagian utara Mali menyimpulkan, pesawat jenis MD-83 McDonnell Douglas itu pecah berkeping-keping ketika menabrak tanah, Kamis (24/7) pagi. Pejabat itu mengatakan, ini berarti pesawat tersebut bukan menjadi korban dari suatu serangan.
Sementara itu, Presiden Perancis Francois Hollande mengaku terpukul atas insiden ini. "Sungguh menyedihkan tak ada yang selamat," kata Hollande kepada wartawan.
Jumlah korban tewas yang semula diumumkan 116 orang, kemudian diperbaiki jadi 118 orang setelah manifes penumpang dikeluarkan. Berdasarkan laporan awal, sebanyak 51 warga Perancis dikatakan turut menjadi korban. Tentara Perancis, Mali, dan Belanda turut mengamankan tempat jatuhnya pesawat, yang terletak sekitar 80 kilometer sebelah selatan kota Gossi, di bagian utara Mali, dekat perbatasan Burkina Faso.
(Ant/okz/i)