Tripoli (SIB)- Kelompok militan Ansar al-Sharia, Rabu (30/7), mengklaim telah menguasai seluruh wilayah Benghazi, Libya Timur, dan memproklamasikan sebuah negara Emirat Islam di Benghazi. "Benghazi kini menjadi sebuah negara Emirat Islam," kata juru bicara Ansar al-Sharia Mohammed al-Zahawi kepada Radio Tawhid.
Namun, pernyataan Al-Sahawi itu dibantah oleh Khalifah Haftar, seorang mantan jenderal angkatan darat Libya yang awal tahun ini menggelar kampanye pribadi untuk membersihkan Benghazi dari kelompok militan Islam. "Tentara nasional Libya masih menguasai Benghazi dan hanya mundur di beberapa titik untuk masalah taktis. Klaim soal Benghazi ini adalah sebuah kebohongan," kata Haftar kepada stasiun televisi Al Arabiya.
Sebelumnya, pada Selasa (29/7), koresponden Al Arabiya di Libya mengabarkan, sejumlah kelompok militan Islam telah menguasai markas pasukan khusus AD Libya di Benghazi setelah melalui baku tembak hebat. Sementara itu, kantor berita Turki Andalou mengutip Talal bin Harir, anggota Dewan Syura Benghazi, mengatakan kelompok militan memang sudah menduduki sebuah pangkalan militer Libya.
Tiga tahun setelah runtuhnya rezim Moammar Khadaffy, pemerintahan baru Libya tak kunjung mampu mengendalikan milisi-milisi bersenjata yang dulu ikut menggulingkan Khadaffy. Milisi-milisi bersenjata itu menolak meletakkan senjata dan kini mengancam persatuan Libya serta semakin mendekatkan negeri itu ke ambang perang saudara.
Akibatnya, sejumlah negara menutup kantor perwakilan mereka dan menarik pulang warga negaranya dari negeri kaya minyak itu. Kelompok Ansar al-Sharia sendiri sudah masuk ke dalam daftar hitam AS setelah berperan dalam penyerangan kantor konsulat AS di Benghazi yang menewaskan duta besar AS di negeri itu.
Sementara Filipina memperbarui seruan-seruan terhadap ribuan warga negaranya untuk meninggalkan Libya setelah seorang perawat Filipina diculik dan diperkosa serta pemenggalan pekerja konstruksi Filipina. Departemen luar negeri mengatakan 13.000 warga Filipina akan dipulangkan karena bentrokan antara milisi yang mengancam mencabik negara tersebut.
"Kami mengulangi seruan kami kepada warga negara kita yang tersisa di Libya untuk segera berhubungan dengan kedutaan Filipina di Tripoli, dan mendaftar untuk repatriasi," kata seorang penasihat departemen luar negeri.
Seruan itu dilakukan saat kementerian mengkonfirmasi laporan-laporan bahwa seorang perawat Filipina diculik dan diperkosa oleh sekelompok orang.
Wanita itu ditangkap di luar kediamannya dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui, di mana ia diserang secara seksual oleh setidaknya enam pemuda, kata Juru bicara Departemen Luar Negeri Charles Jose kepada wartawan. Dia dibebaskan sekitar dua jam kemudian dan tim konsuler Filipina membawanya ke rumah sakit untuk pengobatan, katanya menambahkan.
Sekitar 10 juta warga Filipina tinggal dan bekerja di luar negeri, banyak dari mereka di Tengah Timur, untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik.
Filipina juga telah memerintahkan sekitar 100 warga Filipina yang tinggal di Gaza untuk meninggalkan wilayah Palestina yang terkepung saat Israel menekankan ofensif terhadap para pejuang Hamas.
(Ant/AFP/ r)