Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Situasi Memanas, Ratusan Warga Asing Tinggalkan Libya

- Minggu, 03 Agustus 2014 15:23 WIB
420 view
Situasi Memanas, Ratusan Warga Asing Tinggalkan Libya
Tripoli (SIB)- Situasi di Libya kian memanas. Ratusan warga negara Tiongkok pun dievakuasi.

Menurut kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua seperti dilansir AFP, Sabtu (2/8), sebanyak 411 pekerja asal Tiongkok dievakuasi dari ibukota Tripol.

Mereka diangkut dengan kendaraan-kendaraan yang menyeberangi perbatasan Libya dan masuk ke Tunisia. Sebanyak 97 pekerja Tiongkok lainnya akan tiba di perbatasan tersebut beberapa jam lagi.

Pekan lalu, Kedutaan Besar Tiongkok mengorganisir evakuasi lebih dari 700 warga Tiongkok dari Libya.

Pemerintah Tiongkok telah mengeluarkan seruan bagi warganya yang berada di Libya agar meninggalkan negeri itu secepat mungkin.

 Seruan ini disampaikan mengingat memburuknya situasi keamanan di negeri itu.

Pemerintah Filipina telah menyerukan ribuan pekerjanya yang berada di Libya agar meninggalkan negeri yang dilanda konflik tersebut. Diingatkan agar mereka segera angkat kaki selagi masih bisa karena rute-rute untuk keluar negeri semakin banyak yang ditutup.

Sebuah kapal yang dicarter pemerintah Manila akan bertolak dari Malta dalam beberapa hari untuk mengangkut warga Filipina dari pelabuhan-pelabuhan di kota Benghazi, Misrata dan ibukota Tripoli.

 Namun pemerintah Filipina menyesalkan banyaknya pekerja yang masih enggan pulang ke tanah air karena khawatir tak akan mendapatkan pekerjaan di Filipina.

"Departemen Luar Negeri meminta dengan sangat bagi mereka yang belum membuat keputusan untuk pulang agar mempertimbangkannya karena rute-rute pemulangan berkurang dengan cepat," demikian statemen Departemen Luar Negeri Filipina.

Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario saat ini berada di Tunisia, negara tetangga Libya, untuk mengkoordinir evakuasi sekitar 13 ribu pekerja Filipina yang berada di negeri itu. Rosario khawatir karena rute laut kemungkinan merupakan satu-satunya cara pemulangan.

Dikatakan pejabat tinggi Filipina itu, perbatasan Tunisia-Libya telah ditutup pada Jumat, 1 Agustus waktu setempat menyusul insiden penembakan yang terjadi. Sementara lintas perbatasan ke Mesir telah ditutup sejak berbulan-bulan lalu.

Pada 20 Mei lalu, pemerintah Filipina telah mengingatkan warganya untuk meninggalkan Libya. Pemerintah kemudian memutuskan evakuasi wajib bulan lalu menyusul pemenggalan seorang pekerja bangunan asal Filipina di kota Benghazi. Namun meski adanya kondisi genting tersebut, sejauh ini baru sekitar 800 pekerja yang kembali ke Filipina.

Libya telah mengalami kondisi tidak aman yang kronis sejak tergulingnya diktator Muammar Khadafi pada 2011 silam. Pemerintah Libya yang baru tak mampu menangani para milisi yang membantu menggulingkan Khadafi.

Pertempuran antara para milisi yang bertikai terus terjadi di sejumlah wilayah Libya. Bahkan di Tripoli, pertempuran tersebut telah menyebabkan penutupan bandara internasional. Sementara kelompok-kelompok Islamis juga bertempur melawan pasukan khusus Libya di kota Benghazi, Libya timur.

"Ini lebih buruk daripada 2011," cetus Ali Gariani, pria Libya yang menikahi wanita Yunani. "Saat itu kami dibombardir oleh NATO. Namun sekarang kami sedang dibombardir oleh warga Libya sendiri, dan itu sangat memalukan," ujarnya.

"Kami telah mengalami perang sebelumnya, dengan Khadafi, namun sekarang ini jauh lebih buruk," tutur Paraskevi Athineou, wanita Yunani yang tinggal di Libya. "Kekacauan merajalela.

Tak ada pemerintahan, kami tak punya makanan, tak ada bahan bakar, tak ada air, tak ada listrik hingga berjam-jam," cetus wanita tersebut. (Detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru