WASHINGTON DC (SIB)- Untuk kali pertama virus penyakit mematikan ebola masuk ke wilayah Amerika Serikat, ketika satu pesawat jet pribadi yang membawa pulang salah seorang sukarelawan AS yang terinfeksi penyakit ini mendarat di Atlanta, Georgia, Sabtu (2/2).
Pesawat jet yang dirancang khusus itu membawa Kent Brantly, seorang dokter yang bekerja merawat pasien ebola di Liberia. Pesawat jet itu tiba di Pangkalan Udara Dobbins di luar kota Atlanta. Rekaman gambar yang diambil kru televisi dari jarak jauh memperlihatkan pesawat jet tersebut ditarik memasuki hangar yang di dalamnya sudah siaga sebuah ambulans dan beberapa mobil lainnya.
Konvoi ambulans dan sejumlah mobil itu kemudian terlihat melaju menuju ke RS Universitas Emory Atlanta untuk menempatkan pasien di ruang isolasi. Perjalanan konvoi ambulans menuju rumah sakit itu disiarkan langsung sejumlah stasiun televisi.
Kent Brantly dan misionaris Nancy Writebol dikabarkan dalam kondisi serius namun stabil setelah terinfeksi virus penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu. Kedua warga AS itu diketahui ikut membantu upaya memerangi wabah ebola terburuk di Afrika barat yang sejak Maret lalu sudah mengakibatkan lebih dari 700 orang meninggal dunia.
Brantly dan Writebol akan dirawat di unit isolasi RS Emory, yang pernah digunakan untuk merawat penderita SARS pada 2013 saat penyakit itu menjadi epidemi.
Ini adalah kali pertama pasien ebola dirawat di wilayah Amerika Serikat. Fakta ini membuat sebagian orang khawatir, bahkan taipan Donald Trump mengatakan kedua pasien ebola itu seharusnya tidak diperkenankan kembali ke AS.
Sierra Leone Terapkan Status Darurat Ebola
Sierra Leone telah mengumumkan keadaan darurat terkait dengan wabah mematikan Ebola. Presiden Ernest Bai Koroma mengatakan lokasi pusat wabah penyakit mematikan yang berada di kawasan timur negaranya akan dikarantina.
Seperti dilansir dari BBC, Sabtu (2/8) virus Ebola telah menyebabkan sebanyak 729 orang di Afrika Barat meninggal sejak Februari 2014 lalu.
Sebanyak 233 orang di antaranya berasal dari Sierra Laone.
Untuk mencegah penyebaran virus tersebut, Koroma meminta agar para pendatang di bandara harus mencuci tangan dengan disinfektan serta mengukur suhu badan mereka. Sebab, gejala penularan penyakit ini mirip gejala flu yang dapat menyebabkan perdarahan eksternal seperti di mata dan gusi.
Virus ini dapat menular melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.
Adapun Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan mengatakan penanganan terhadap virus ini cenderung lebih lambat dibandingkan penyebarannya.
"Kegagalan menangani Ebola bisa menjadi bencana bagi nyawa orang lain," katanya.
Meski demikian, dia meyakini penyebaran virus ini bisa dihentikan jika ditangani dengan baik. Orang yang tertular virus ini pun memiliki kesempatan hidup jika segera menerima perawatan dini.
(Rtr/dtc/BBC/i)