Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Gedung Putih ‘Diserbu’ Demonstran Anti Serangan Israel

- Senin, 04 Agustus 2014 09:51 WIB
657 view
Gedung Putih ‘Diserbu’ Demonstran Anti Serangan Israel
SIB/ist
Dua wanita demonstran menyempatkan diri berfoto solifie saat mengikuti aksi demo anti serangan Israel ke Gaza, Minggu (3/8) di Lafayette Park, dekat Gedung Putih, Washi9ngton.
WASHINGTON (SIB)- Ribuan orang, banyak dari mereka membawa bendera Palestina, berunjuk rasa di luar Gedung Putih, Sabtu (2/8). Mereka menyerukan perdamaian dan pengakhiran pertempuran di Gaza. Para pengunjuk rasa, yang terdiri dari orang tua dan kaum muda dari seluruh Amerika Serikat, termasuk puluhan anak di pundak orang tua mereka, meneriakkan "Akhiri bantuan AS untuk Israel" dan "Israel keluar dari Palestina."

Banyak dari para pengunjuk rasa itu mengenakan penutup kepala atau syal tradisional keffiyeh Palestina. "Gaza tidak akan mati, Gaza tidak akan pernah mati," kata Amar Jamal sambil saat berpawai melalui pusat kota Washington bersama keluarganya dalam lautan massa berkostum merah, hitam, putih dan hijau, warna bendera Palestina. "Ini waktunya untuk berdamai karena pertumpahan darah tidak akan berhenti di Gaza. Seluruh Timur Tengah akan berada dalam kesulitan" jika konflik tidak berakhir, kata pria kelahiran Palestina berusia 70 tahun itu.

Banyak dari pengunjuk rasa yang menyuarakan kemarahan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, setelah dia bersumpah untuk meneruskan aksi militernya terhadap Hamas selama yang diperlukan. Salah seorang pengunjuk rasa melambaikan spanduk bertulis "Netanyahu dan Hitler sama, satu-satunya perbedaan adalah nama mereka."

Sejumlah orang lainnya menuntut agar Washington mengakhiri dukungan buat militer Israel dan mengajak sekutunya untuk mengatasi konflik yang telah menewaskan lebih dari 1.700 warga Palestina dan 66 warga Israel. Kecuali dua orang, korban tewas di pihak Isreal adalah militer. Sementara di pihak Palestina, kebanyakan korban tewas adalah warga sipil.

Shereen Abdel-Nabi, yang mengendong anaknya yang mengenakan T-shirt bertulis "Yesus adalah orang Palestina", mengatakan "AS harus menghentikan bantuan militer kepada Israel dan menggunakan kata-kata lebih keras dalam mengecam aksi negara itu." "Saya benar-benar berpikir bahwa ini merupakan titik balik...Ini merupakan masalah kemanusiaan. Pemerintah AS terbukti berada di sisi sejarah yang salah terkait masalah ini," tambah pria berusia 34 tahun itu.

Sam Khalaf, seorang Amerika-Palestina dari Maryland, merasa perlu berunjuk rasa demi menunjukkan "solidaritas" buat para kerabat di Tepi Barat dan Gaza. "Unjuk rasa adalah hal yang paling bisa kami lakukan ketika orang-orang sedang sekarat," kata Khalaf (33 tahun).

Waleh Kanan dan Jasmine Abuhummos, keduanya berusia 15 tahun, datang dari Toledo, Ohio, selama berjam-jam untuk ikut serta dalam aksi itu.

"Banyak orang tidak tahu tentang apa yang sedang terjadi. Jadi kami berharap hal ini akan dapat membantu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Kanan.

Seorang perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai Mary ditarik polisi saat dia berteriak "berhenti mendukung teror" dan mengacungkan sebuah poster bendera Israel terhadap para demonstran pro-Palestina. CNN melaporkan bahwa sekelompok kecil orang-orang Yahudi Ortodoks mengadakan kontra-demonstrasi yang menyebabkan perkelahian kecil. Penyelenggara aksi mengklaim bahwa sebanyak 50.000 orang berpartisipasi dalam unjuk rasa pada Sabtu sore itu. Aksi protes juga diadakan di kota-kota AS lainnya, termasuk di Los Angeles, di mana demonstran berbaring di lahan di depan Konsulat Israel.

Israel Klarifikasi Tentaranya Tewas dalam Perang, Bukan Diculik Hamas
Informasi bahwa Letnan Hadar Goldin, tentara Israel yang disebut militer Israel diculik dan dibunuh Hamas ternyata keliru. Juru bicara militer Israel meralat bahwa saudara sepupu Menteri Pertahanan Israel, Moshe Yaalon tersebut tewas dalam sebuah serangan bom bunuh diri.

Seperti dilansir CNN, Minggu (3/8), sebelumnya otoritas Israel mengklaim bahwa Goldin ditangkap pihak militer Hamas, yang bertujuan untuk menyulut kemarahan pihak Israel pasca diledakkannya beberapa bom ke wilayah Palestina, usai kesepakatan tentang gencatan senjata yang dilanggar pihak Israel.

Namun Letnan Kolonel Peter Lerner, juru bicara militer Israel hari ini akhirnya mengklarifikasi bahwa Goldin tidak diculik dan dibunuh, melainkan tewas karena serangan bom bunuh diri. Hingga saat ini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas bom bunuh diri tersebut.

"Beberapa barang milik Goldin ditemukan di sekitar terowongan Gaza, di mana penyerangan berlangsung," ujar Lerner.

Namun dirinya tidak menunjukkan lebih banyak bukti dari laporan adanya bon bunuh diri itu. Tudingan mengenai penculikan dan pembunuhan pria 23 tahun tersebut sebelumnya juga telah dibantah keras oleh juru bicara Hamas, Osama Hamdan. Dia menegaskan, tak pernah menculik tentara.

"Sangat jelas penangkapan tentara adalah cerita dari Israel. Tak ada kabar dari para pejuang ada penangkapan tentara," ujarnya kepada CNN.

 Spekulasi lain berhembus terkait penculikan ini. Diduga ada kelompok lain yang menculik Goldin, salah satunya brigade Al Qassam, yang juga kerap melancarkan serangan di Rafah. Namun kini pihak Israel mengatakan tentaranya tewas dalam pertempuran. (CNN/dtc/AFP/kps/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru