Baghdad (SIB)- Dewan Keamanan PBB mengecam serangan-serangan yang dilakukan kelompok militan Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL) di Irak. Diingatkan bahwa para pelaku kekerasan tersebut bisa diadili atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dalam statemennya, DK PBB menyatakan, kelompok yang juga disebut ISIS tersebut bukan hanya menjadi ancaman bagi Irak dan Suriah, namun juga bagi perdamaian, keamanan dan stabilitas regional. "Serangan-serangan yang meluas atau sistemik terhadap populasi warga sipil dikarenakan latar belakang etnis, keyakinan atau kepercayaan mereka bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, yang para pelakunya harus diadili," demikian pernyataan DK PBB yang dibacakan Duta Besar Inggris untuk PBB, Mark Lyall Grant.
Saat membacakan kecaman DK PBB itu, Dubes Grant secara khusus menyebut etnis minoritas Yazidi, kelompok masyarakat yang memiliki kepercayaan yang berakar dari Zoroasterisme, yang kini menjadi target ISIS karena dianggap penyembah setan.
"Etnis Yazidi dan kelompok minoritas lainnya sudah tinggal di Kota Sinjar dan wilayah lain provinsi Nineveh selama ribuan tahun," kata Dubes Grant. "Sebagian besar warga Irak ini kini tercerabut dari akarnya dan dipaksa pergi serta harus menjadi pengungsi sementara banyak yang lain dieksekusi dan diculik," tambah Dubes Grant.
Ini merupakan kecaman kedua DK PBB dalam dua pekan terakhir mengenai serangan-serangan ISIL atau kini bernama ISIS di Irak. Demikian seperti diberitakan AFP, Rabu (6/8). "Banyak dari warga Irak ini yang telah kehilangan tempat tinggal atau terpaksa kabur dan mencari perlindungan, sementara banyak yang lainnya telah dieksekusi dan diculik," demikian pernyataan DK PBB.
DK PBB pun menyerukan para politisi Irak untuk bersatu membentuk pemerintahan guna menangani ancaman yang ditimbulkan ISIL.
Kelompok ini telah dikenai sanksi-sanksi oleh PBB karena dianggap sebagai afiliasi jaringan Al-Qaeda.
Sementara di Irak, helikopter-helikopter pemerintah mengirimkan bantuan untuk ribuan warga Yazidi yang bersembunyi di pegunungan karena lari dari kejaran ISIS. Akibat terjebak di pegunungan dan sebagian besar tanpa membawa perbekalan memadai, dikhawatirkan warga Yazidi itu tak lama lagi akan menjadi korban pembantaian atau mati akibat kelaparan.
(AFP/dtc/h)