Yerusalem (SIB)- Gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza selama 72 jam akan berakhir hari ini (Jumat, 8/8). Di tengah itu, Israel mengindikasikan kesiapannya untuk memperpanjang gencatan senjata tersebut. "Israel tidak memiliki masalah untuk memperpanjang gencatan senjata, tanpa syarat," ujar seorang pejabat Israel yang enggan disebut namanya, seperti dilansir AFP, Kamis (7/8).
Gencatan senjata terbaru ini diberlakukan semenjak Selasa (5/8) pagi hingga 72 jam ke depan. Suasana Gaza kembali kondusif saat gencatan senjata terjadi. Jutaan warga Palestina di Gaza bisa bernapas lega untuk beberapa saat. Toko-toko, bank dan pasar dibuka kembali. Orang-orang pun keluar dari persembunyiannya hingga memenuhi jalanan.
Sedangkan otoritas setempat melakukan pembersihan puing-puing dan mengevakuasi jasad yang belum sempat dievakuasi. Kesepakatan gencatan senjata tersebut akan berakhir pada Jumat (8/8) pagi sekitar pukul 05.00 GMT.
Upaya perundingan untuk gencatan senjata yang lebih lama saat ini masih dibahas di Kairo, Mesir.
Sementara itu, Israel sendiri telah menghentikan operasi darat di Gaza. Sedikitnya 27 ribu tentara ditarik kembali ke markasnya di Israel. Sejauh ini, selama 29 hari konflik di Gaza, sebanyak 1.886 warga Palestina dan 67 warga Israel telah tewas.
Tak Ada Kesepakatan
Namun sikap berbeda ditunjukkan Hamas. Menurut Hamas, tidak ada kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 72 jam yang akan berakhir hari ini (Jumat, 8/8). "Tidak ada kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata," tegas Wakil Pemimpin Hamas, Mussa Abu Marzuq via akun Twitter-nya, seperti dilansir AFP, Kamis (7/8).
Abu Marzuq ikut dalam delegasi Palestina yang menghadiri perundingan gencatan senjata dengan pihak Israel di Kairo, Mesir. Dalam perundingan tersebut, otoritas Mesir bertindak sebagai penengah. Secara terpisah, seorang pejabat Palestina yang ikut dalam perundingan menyatakan, pihaknya sama sekali tidak diberitahu soal pernyataan Israel yang mengaku siap memperpanjang gencatan senjata tanpa syarat.
Menurut pejabat yang enggan disebut namanya tersebut, pihak Hamas sangat bergantung pada perkembangan perundingan di Kairo. Informasi di luar perundingan memang tidak begitu diikuti. Namun seorang anggota delegasi Palestina menjelaskan bahwa perundingan antara kedua belah pihak berlangsung sangat serius dan mendetail.
Sebelumnya, seorang pejabat Israel mengungkapkan kesiapan negara Yahudi tersebut untuk memperpanjang gencatan senjata 72 jam yang diberlakukan semenjak Selasa (5/8). Kesepakatan gencatan senjata tersebut akan berakhir pada Jumat (8/8) pagi sekitar pukul 05.00 GMT.
"Israel tidak memiliki masalah untuk memperpanjang gencatan senjata, tanpa syarat," ujar seorang pejabat Israel yang enggan disebut namanya, seperti dilansir AFP, Kamis (7/8). Sejauh ini, konflik di Gaza telah menewaskan 1.886 warga Palestina dan 67 warga Israel.
Tak Ada Simpati
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengeluarkan komentar mengenai gencatan senjata yang terjadi di Gaza. Menurut Obama, gencatan senjata harus dihormati oleh Hamas serta Israel. Ditegaskannya, baik Hamas maupun Israel tidak boleh melanggar gencatan senjata ini.
Tak hanya itu, Obama kembali menekankan Israel punya hak mempertahankan diri dari serangan Hamas. Apalagi, Obama melihat sebelum gencatan senjata, roket serta serangan dari terowongan bawah tanah dari faksi garis keras tersebut masih ditembakkan ke wilayah Israel.
"Saya tidak memiliki simpati untuk Hamas," sebut Obama seperti dikutip dari Associated Press, Kamis (7/8).
Walau begitu, Obama tetap meyakini, warga Palestina punya hak yang harus dimiliki mereka dan tidak bisa diganggu gugat. Hak tersebut adalah pembangunan kembali komunitas, mendapatkan kemakmuran dan tidak terasing dari dunia luar.
Seperti diketahui agresi Israel di Gaza meninggalkan sejumlah masalah pelik untuk diselesaikan.
AS sendiri merupakan negara yang menyatakan siap memfasilitasi perundingan damai Palestina-Israel.
Walau begitu, Hamas yang notabene penguasa wilayah Gaza di Palestina, sudah dimasukkan AS ke dalam daftar hitam terorisme.
Langkah AS memasukan Hamas ke daftar hitam kelompok teroris dilakukan pula oleh Israel.
(AFP/dtc/q)