Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

WHO Nyatakan Epidemi Ebola sebagai Kondisi Darurat Global

- Sabtu, 09 Agustus 2014 12:15 WIB
311 view
WHO Nyatakan Epidemi Ebola sebagai Kondisi Darurat Global
Jenewa (SIB)- Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Jumat (8/8), menyatakan epidemi ebola yang melanda Afrika Barat sebagai sebuah kondisi darurat kesehatan internasional dan menyerukan bantuan global untuk membantu negara-negara yang terkena dampak.

Keputusan yang diambil setelah rapat darurat tertutup selama dua hari di Geneva itu berarti akan memunculkan pembatasan perjalanan global yang dapat diterapkan demi menghentikan penyebaran virus itu saat korban tewas secara keseluruhan telah mendekati angka 1.000 orang.

Langkah WHO itu muncul saat otoritas kesehatan AS mengakui pada Kamis bahwa virus ebola yang menyebar keluar dari Afrika Barat merupakan sesuatu yang "tak terelakkan", dan lembaga amal Doctors Without Borders atau MSF memperingatkan bahwa virus mematikan tersebut sekarang sudah "tidak terkendali" dengan adanya lebih dari 60 titik penyebaran.

Direktur WHO Dr Margaret Chan menyerukan bantuan internasional yang lebih besar untuk negara-negara yang paling parah dilanda wabah itu, yang ia gambarkan sebagai hal paling serius dalam empat dekade terakhir. Seruan tersebut senada dengan pernyataan MSF sebelumnya bahwa "epidemi itu belum pernah terjadi sebelumnya terkait sebaran geografis, orang yang terinfeksi, dan kematian yang terjadi".

Keiji Fukuda, kepala WHO bagian keamanan kesehatan, menekankan bahwa dengan langkah-langkah yang tepat dan penanganan yang berhubungan dengan orang yang terinfeksi Ebola, penyebaran Ebola ini dapat dihentikan.

"Ini bukan penyakit misterius. Ini adalah penyakit menular yang dapat terjadi," katanya kepada wartawan dalam keterangannya melalui telepon dari kantor pusat Jenewa WHO. "Ini bukan virus yang menyebar melalui udara," tambahnya.

Menanggapi wabah ebola, Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit Amerika, CDC, telah mengaktifkan pusat operasi darurat pada tingkat paling tinggi. Pimpinan CDC Dr. Thomas Frieden mengatakan dalam sidang Kongres mengenai Ebola hari Kamis bahwa pusat tadi akan segera mendatangkan 50 pakar penyakit ke Afrika Barat di tengah krisis tersebut. Ia mengatakan ia yakin wabah besar tidak akan terjadi di Amerika.

Frieden mengatakan wabah itu terjadi di mana wabah belum pernah terjadi, jadi orang di sana tidak siap. Ia juga mengatakan pengawasan infeksi yang longgar dan cara pemakaman yang biasa di daerah itu turut menyebabkan wabah itu.

Pemerintah Amerika Serikat telah memerintahkan keluarga diplomatnya di Liberia untuk meninggalkan negara itu dan melarang perjalanan yang tidak penting ke Afrika Barat karena menyebarnya wabah Ebola. Sebuah pernyataan Departemen Luar Negeri mengatakan staf AS akan tetap aktif bertugas di kedutaan dan staf tambahan sedang dikirim untuk membantu pemerintah mengatasi wabah virus mematikan tersebut.

"Wabah tersebut telah membuat sistem kesehatan Liberia kewalahan dan sebagian besar fasilitas kesehatan kekurangan staf atau sumber daya untuk mengatasi penularan yang terus berlangsung," katanya seperti dikutip Reuters.

Personel tambahan AS yang ditugaskan ke Monrovia di antaranya 12 spesialis pencegahan penyakit dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) dan 13 anggota tim bantuan bencana dari USAID untuk membantu pemerintah memerangi wabah, kata juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf.

Keadaan darurat diberlakukan di negara-negara Afrika Barat yang sudah kewalahan, termasuk Libera, Guinea, dan Sierra Leone. Para tentara di Provinsi Grand Cape Mount di Liberia, salah satu daerah yang paling parah terkena wabah itu, menutup jalan dengan batu untuk membatasi perjalanan ke ibu kota Monrovia, saat mayat-mayat dilaporkan tergeletak di jalan-jalan kota itu, tanpa dikuburkan.

Dua kota di Sierra Leone timur, yaitu Kailahun dan Kenema, diisolasi pada hari Kamis, saat klub-klub malam dan tempat hiburan di seluruh negeri itu diperintahkan untuk tutup. Para dokter di sektor publik di Nigeria menangguhkan aksi mogok mereka selama sebulan karena kekhawatiran yang meningkat bahwa virus ini menyebar di negara yang paling padat penduduk di sub-Sahara, Afrika.

Penyakit tropis mematikan itu telah menewaskan dua orang dan menginfeksi setidaknya lima orang lainnya di Lagos.

Menurut WHO, ebola telah menewaskan sedikitnya 932 orang dan menginfeksi lebih dari 1.700 orang sejak menyebar di Guinea pada awal tahun ini. (Ant/AFP/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru