Brussel (SIB)- Sekjen NATO mengimbau Rusia agar tidak mengirim pasukan ke negara tetangga Ukraina dengan dalih operasi penjaga perdamaian. Berbicara kepada wartawan di ibukota Ukraina, Kyiv, Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan Rusia harus "menarik diri dari konflik, mundur dari perbatasan dan tidak menggunakan alasan menjaga perdamaian untuk melancarkan perang."
Ia juga menuduh Rusia terus berupaya mengguncang Ukraina, dengan mengatakan, dukungan Rusia terhadap separatis pro-Rusia di Ukraina timur terus
bertambah "dalam skala dan kecanggihannya." Rasmussen mengatakan NATO "siap mendukung Ukraina" dengan penasihat-penasihat dan bantuan lainnya dalam menghadapi “agresi†Rusia. Ia berharap Rusia akan "mundur" karena campur tangan lebih lanjut di Ukraina tidak akan menguntungkan negara tersebut.
Sehari sebelumnya, aliansi militer Barat itu mengatakan Rusia secara signifikan meningkatkan jumlah tentara di daerah perbatasannya dengan Ukraina dalam beberapa hari terakhir, sehingga mencapai sekitar 20 ribu tentara, termasuk sejumlah besar tank, infantri, pasukan khusus dan pesawat udara.
Akhir bulan lalu, Wakil Penasehat Keamanan Nasional Amerika Tony Blinken mengatakan, ada peningkatan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan, dan langkah itu seolah ditujukan agar Rusia bisa melakukan intervensi di Ukraina dengan alasan kemanusiaan dan menjaga perdamaian. PM Polandia Donald Tusk mengatakan bahwa ancaman intervensi Rusia di Ukraina telah meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, mengatakan unit-unit penjaga perdamaian pasukan bersenjata Rusia perlu selalu dalam keadaan siap tempur. Ia membuat pernyataan tersebut sementara mengamati latihan-latihan yang dilakukan sebuah unit penjaga perdamaian di sebuah pangkalan di kawasan Samara, Rusia selatan.
Konflik di Ukraina timur terus berlanjut. Para pemberontak pro-Rusia dilaporkan menembaki sebuah helikopter medis Ukraina sehingga memaksa heli tersebut untuk mendarat darurat. Tiga kru heli terluka dalam insiden itu. Insiden tersebut terjadi pada Kamis, 7 Agustus larut malam waktu setempat di dekat bandara Lugansk, kota terbesar kedua di Ukraina yang telah dikuasai separatis. Demikian disampaikan militer Ukraina seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (8/8).
"Para teroris menembaki sebuah helikopter medis Mi-8 (Medevac), kru pun melakukan pendaratan darurat," demikian pernyataan militer Ukraina. Dalam serangan itu, heli tersebut mengalami kerusakan. Ketiga kru heli yang terluka telah dilarikan ke rumah sakit.
Sebelumnya pada Kamis (7/8), para pemberontak pro-Rusia juga telah menembak jatuh sebuah jet tempur Ukraina.
Menurut separatis, kedua pilot jet tempur tersebut telah ditemukan dan kini ditahan separatis. Jet tempur tersebut jatuh di wilayah sekitar 40 kilometer sebelah barat lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 pada 17 Juli lalu. Seluruh penumpang dan kru yang berjumlah 298 orang tewas dalam tragedi itu.
(Detikcom/h)