YERUSALEM (SIB)- Saling tuding kembali terjadi antara Hamas dan Israel. Israel menuduh Hamas mempunyai keinginan tersembunyi di balik permintaan blokade Gaza. Keterangan tersebut disampaikan Menteri Hukum Israel, Tzipi Livni. Diyakini Livni, maksud tersembunyi Hamas ini sangat membahayakan Israel.
"Hamas tidak sungguh-sungguh menginginkan blokade Gaza ditangguhkan," sebut Livni, seperti dikutip dari Japan Times, Sabtu (9/8). "Apa yang Hamas inginkan adalah mencapai legitimasi sebagai kelompok teror yang ada di satu wilayah, Israel tidak akan menerima itu," tegas dia.
Agresi Israel di Gaza terjadi sejak 8 Juli 2014. Israel berdalih serangan itu untuk menghancurkan Faksi Hamas yang telah menebar ancaman terlebih dahulu kepada Israel. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyatakan serangan tersebut dimaksudkan untuk membantu rakyat Palestina melawan kekuasaan Hamas. "Israel tidak pernah melakukan perlawanan kepada warga Gaza, dan kami ingin membantu warga Palestina berurusan dengan kekuasaan Hamas," sebut Netanyahu, seperti dikutip dari Outlook India, Jumat (8/8).
Pernyataan Netanyahu tersebut disampaikan satu bulan setelah Israel melakukan agresi ke Gaza. Netanyahu pun menambahkan, dia belum bisa memastikan waktu agresi Israel untuk menghancurkan Hamas bisa dihentikan. "Saya tidak yakin pertempuran sudah berakhir," sebut Netanyahu.
Tokoh konservatif Yahudi tersebut memastikan Israel sudah menghancurkan kemampuan dan peralatan perang Hamas secara signifikan. Netanyahu juga mengatakan operasi menyerbu terowongan-terowongan Hamas masih terus dilanjutkan. Pertempuran antara Hamas dan Israel terjadi sejak 8 Juli 2014.
Gencatan Senjata Gagal Diperpanjang
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon menunjukan kekecewaan. Kekecewaan tersebut terkait dengan kegagalan diperpanjangnya gencatan senjata di Gaza. Keterangan tersebut disampaikan oleh Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq. Komentar dari Haq ini bertepatan dengan kembali memanasnya kondisi Gaza.
"(PBB) mendesak semua kubu yang bertikai untuk segera kembali ke meja negosiasi," sebut Haq, seperti dikutip oleh Japan Times, Sabtu (9/8).
Seperti sudah diduga setelah gencatan senjata selama tiga hari berakhir, pertempuran di Gaza kembali terjadi. Israel dan Hamas saling lempar roket.
Pertempuran ini pun menelan lima korban jiwa dari pihak Palestina. Parahnya, kelima korban itu mayoritas adalah anak-anak.
(JapanTimes/OI/okz/h)