Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026
Kian Mengganas, Wabah Ebola Renggut 1.013 Nyawa di Afrika

AS Kirim Obat Penangkal Ebola ke Afrika Barat

- Rabu, 13 Agustus 2014 12:43 WIB
407 view
 AS Kirim Obat Penangkal Ebola ke Afrika Barat
New York (SIB)- Wabah Ebola kian mengganas di Afrika Barat. Bahkan kini, jumlah korban jiwa akibat virus mematikan tersebut telah mencapai lebih dari 1.000 orang. Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO menyatakan dalam rilis yang dilansir AFP, Selasa (12/8), sebanyak 1.013 orang telah tewas akibat wabah Ebola di Afrika Barat, termasuk Guinea, Liberia, Sierra Leone dan Nigeria.

Otoritas kesehatan telah mencatat sekitar 1.848 orang yang terjangkit virus yang menyebabkan demam tinggi, muntah-muntah dan pendarahan tersebut. Wabah ini pertama kali ditemukan pada Maret lalu di Guinea, namun diduga sebenarnya telah mulai menyebar beberapa bulan sebelumnya.

Dalam data terbaru yang dirilis WHO tersebut termasuk angka dari 7-9 Agustus, saat 52 orang tewas dan 69 lainnya terinfeksi Ebola. Ebola sangat mematikan dan saat ini belum ada vaksin ataupun pengobatan untuk penyakit tersebut. Namun sejauh ini, tiga penderita telah menerima obat percobaan.

Bahkan, tim medis dari Tiongkok yang merawat pasien penderita penyakit mematikan tersebut kini harus dikarantina di Sierra Leone, guna menghindari penularan. "Enam dokter Tiongkok dan satu perawat serta lima perawat lokal diperlakukan pasien Ebola di Rumah Sakit Jui yang kemudian meninggal karena virus," kata Duta Besar Tiongkok Zhao Yanbo.

"Semuanya yang datang dan melakukan kontak dengan pasien telah dikarantina selama dua minggu terakhir di bawah pengamatan sementara rumah sakit serta telah difumigasi dan ditutup sementara," sambungnya. Lanjutnya, kata Yanbo selain dokter dari Tiongkok, beberapa dokter yang telah merawat pasien Ebola juga telah diperiksa. "Dokter lain dari Tiongkok yang merawat pasien Ebola di Rumah Sakit Kingharman Road juga telah dikarantina," ucapnya.

Sementara Jepang memilih "hengkang" alias menarik seluruh stafnya dari negara-negara terlanda virus ebola yakni Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.  "Kami berharap bisa merampungkan proses penarikan staf kami dalam beberapa waktu ke depan,"kata Juru Bicara Badan Kerja Sama Internasional (JICA) Yuho Hayakawa.

Menurut Hayakawa, sejauh ini tak satu pun staf Jepang yang masuk karantina gara-gara ebola itu, Kelak, lembaga Jepang di Liberia dan Sierra Leone akan dikelola oleh staf lokal. Total ada 24 orang staf Jepang di ketiga negara itu yang  mengurusi masalah pertanian, kesehatan, infrastruktur, dan bangunan.

Sementara Mapp Bio mengirimkan seluruh persediaan obat untuk menangkal serangan virus ebola ke Afrika Barat. Mapp Bio adalah perusahaan farmasi Amerika Serikat yang gencar melakukan percobaan untuk membuat obat virus ebola.

Ebola menyebar cepat di negara-negara Afrika Barat, yakni Sierra Leone, Liberia, Guinea, dan Nigeria, sejak Maret lalu, dan menjadikan virus tersebut sebagai wabah terbesar sepanjang sejarah. Sebanyak 961 orang tewas akibat serangan virus ini.

"Menanggapi permintaan yang diterima pekan ini dari negara-negara Afrika Barat, pasokan ketersediaan obat ZMapp telah terpakai habis," demikian bunyi pernyataan dalam situs Mapp Bio, seperti dilansir Channel News Asia, Selasa (12/8).

Perusahaan tidak menyebutkan negara mana yang mendapatkan dosis obat itu atau berapa banyak yang dikirimkan. Namun saluran berita CNN melaporkan bahwa Liberia adalah negara yang menerima dosis sampel obat itu.

Situs Mapp Bio memuat peringatan bahwa setiap keputusan untuk menggunakan ZMapp harus dilakukan oleh tim medis pasien. Obat tersebut masih dalam tahap penelitian eksperimental dan belum menjalani uji klinis dalam kasus mana pun.

Kolaborasi biomedis antara peneliti Amerika Serikat dan Kanada melibatkan obat yang diproduksi menggunakan daun tembakau. Sayangnya, obat ini sulit untuk diproduksi dalam skala besar. Peneliti dari Arizona State University menemukan inovasi dalam penggunaan daun tembakau untuk memproduksi monoclonal antibody (Mab) sebagai obat penyakit West Nile virus.

Dua misionaris asal Amerika yang terjangkit ebola saat bekerja di Monrovia bulan lalu diberi dosis obat tersebut. Keduanya telah dibawa ke unit isolasi di Emory University Hospital di Atlanta, Georgia. Di sana, mereka menerima perawatan secara berkelanjutan. Pendeta Spanyol yang tertular ebola juga telah diberikan obat yang sama.

Etika dalam pendistribusian obat eksperimental tentang obat ebola dengan terapi ZMapp menjadi fokus dari pertemuan khusus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin kemarin. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit berulang kali menekankan bahwa efek obat tersebut belum diketahui karena belum melalui proses uji klinis yang ketat. Saat ini tidak ada obat atau vaksin untuk ebola di pasar dunia. (Detikcom/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru