Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026
Bantuan Kemanusiaan Rusia untuk Ukraina Dicurigai

AS Desak Pemeriksaan, Ukraina Bersumpah Hadang

* Jerman Peringatkan Putuskan Hubungan dengan Rusia
- Kamis, 14 Agustus 2014 12:24 WIB
268 view
 AS Desak Pemeriksaan, Ukraina Bersumpah Hadang
Kiev (SIB)- Konvoi truk Rusia yang diklaim membawa bantuan kemanusiaan untuk Ukraina diperkirakan tiba di perbatasan, hari Rabu (13/8) waktu setempat. Namun otoritas Ukraina bersumpah menghadang iring-iringan truk Rusia tersebut untuk memasuki wilayahnya.

Hal ini di tengah kekhawatiran bahwa itu hanyalah taktik untuk mendukung separatis pro-Rusia yang ada di Ukraina bagian timur. Otoritas Ukraina menegaskan, akan menghentikan iring-iringan truk tersebut di perbatasan. Menurut Ukraina, setiap bantuan kemanusiaan yang masuk harus dibongkar dan disalurkan ke area konflik dengan bantuan Komisi Palang Merah Internasional (ICRC).

"Kami tidak akan mengizinkannya (bantuan) untuk didampingi oleh Kementerian Urusan Darurat Rusia ataupun oleh tentara Rusia," tutur Wakil Kepala Administrasi Kepresidenan Ukraina, Valeriy Chalyy. Namun Rusia menyerukan kerja sama erat dari pihak Ukraina demi menjamin bantuan tersebut benar-benar sampai ke wilayah Lugansk dan Donetsk, yang dikuasai separatis pro-Rusia.

Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius menuding konvoi sekitar 262 truk Rusia hanyalah kamuflase untuk serangan mendadak "Kita harus sangat berhati-hati karena ini bisa saja menjadi dalih bagi Rusia untuk menempatkan diri mereka di dekat Lugansk dan Donetsk dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," ucap Menlu Fabius kepada radio France Info. "Konvoi ini hanya dimungkinan, hanya dibenarkan, jika Palang Merah memberikan izin," imbuhnya.

Amerika Serikat mendukung langkah Ukraina jika konvoi tersebut lolos melewati pemeriksaan cukai di perbatasan dan menyerahkan isi bantuan kemanusiaannya kepada ICRC untuk disalurkan lebih lanjut. "Rusia tidak memiliki hak untuk bergerak masuk ke wilayah Ukraina secara sepihak, apakah di bawah penyamaran konvoi kemanusiaan atau dengan dalih lainnya, tanpa izin resmi dari Ukraina," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf.

"Ukraina memiliki rencana di lokasi yang mereka merasa nyaman. Kami merasa nyaman dengan hal itu juga. Dan sekarang Rusia perlu menyalurkannya," imbuh Harf.

Iring-iringan truk sepanjang 3 kilometer meninggalkan Moskow, pada Selasa (12/8) waktu setempat, dengan membawa 2 ribu ton suplai kemanusiaan, termasuk peralatan medis, makanan bayi dan sleeping bag. Klaim Rusia soal pengiriman bantuan kemanusiaan tersebut menuai kecurigaan.

Kecurigaan semakin menguat saat seorang sumber pemerintahan di Kiev, Ukraina, yang enggan disebut namanya menuturkan, tidak ada kesepakatan sama sekali bagi kendaraan Rusia untuk masuk ke wilayah Ukraina. Padahal juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa pengiriman bantuan tersebut telah disepakati dengan Ukraina.

"Ini semua sudah disepakati dengan Ukraina," ujar Dmitry Peskov seperti dikutip radio setempat, Business FM. Televisi Rusia, Rossiya 24, menyatakan truk tersebut akan ditemui oleh perwakilan ICRC di Ukraina. Otoritas Rusia menegaskan, bantuan kemanusiaan itu disalurkan bersama-sama dengan pihak ICRC. Berlangsung selama 4 bulan terakhir, konflik di Ukraina telah merenggut lebih dari 1.300 nyawa. Sedangkan sebanyak 285 ribu orang lainnya terpaksa mengungsi dari rumah masing-masing.

Putuskan Hubungan

Kanselir Jerman Angela Merkel kembali memperingatkan kemungkinan pemutusan hubungan diplomatik dengan Rusia terkait krisis di Ukraina. Kepada harian Saechsische Zeitung, Merkel mengatakan dia bekerja sangat keras untuk menjaga agar komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tetap terjaga, meski Uni Eropa meningkatkan level sanksinya terhadap Rusia bulan lalu.

"Namun, untuk sebuah hubungan yang konstruktif dibutuhkan lebih dari satu orang yang bekerja. Saya selalu menyerukan kerja sama konstruktif dengan Rusia dan akan terus melakukannya di masa depan," kata Merkel. Merkel menambahkan, terdapat konsensus dasar bahwa bangsa Eropa menghormati integritas teritorial masing-masing negara dan tidak semena-mena mengubah garis perbatasan.

"Jika ada sebuah aneksasi, yang melanggar hukum internasional, yang kemudian mengancam kehidupan damai dan sejahtera yang kami jalani selama setengah abad ini, itulah sebabnya kami tak menerima perbuatan Rusia," ujar Merkel. Merkel, yang lancar berbahasa Rusia, telah melakukan sejumlah pembicaraan telepon dengan Putin sejak krisis Ukraina merebak, mendesak agar Putin menghormati kedaulatan Ukraina.

Jerman, yang hubungan dagangnya dengan Rusia bernilai 120 juta dolar AS tahun lalu, sejak lama menentang pemberlakukan sanksi ekonomi luas terhadap Moskwa. Namun, penembakan Malaysia Airlines MH17 oleh pemberontak Ukraina menggunakan misil buatan Rusia, membuat negara dengan ekonomi terkuat di Uni Eropa itu untuk mengadopsi tindakan yang lebih keras terhadap Rusia.

Puluhan Demonstran Ditangkap

Kepolisian Moskow, Rusia menahan puluhan demonstran yang berkumpul di luar kantor Kedubes Ukraina. Demonstran tersebut menunjukkan dukungan untuk otoritas Ukraina dalam memberantas separatis pro-Rusia di wilayahnya.

Radio swasta setempat, Moscow Echo, melaporkan sekitar 200 orang berkumpul dalam unjuk rasa di luar Kedubes Ukraina di Moskow pada Selasa (12/8) waktu setempat. Unjuk rasa tersebut tidak berlangsung lama, karena para demonstran kemudian dibubarkan oleh polisi setempat.

"Polisi bertindak cukup kasar terhadap demonstran wanita yang mengenakan pakaian sesuai warna bendera Ukraina," tutur salah satu reporter radio Moscow Echo dalam laporannya. "Salah satu demonstran wanita yang menolak untuk bekerja sama dengan polisi, diseret di sepanjang trotoar sebelum dipaksa masuk ke dalam mobil polisi," imbuhnya.

Jajak pendapat setempat menunjukkan bahwa sebagian besar warga Rusia mendukung sikap Presiden Vladimir Putin terhadap Ukriana. Sedangkan media nasional Rusia menggambarkan pemimpin baru Ukraina yang pro-Eropa sebagai seorang fasis yang melancarkan sebuah operasi hukuman terhadap warga sipil etnis Rusia di Ukraina yang ingin menjaga hubungan dekat dengan Rusia. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru