Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Warga Beijing yang Baru Pulang Berlibur Harus Dikarantina atau Dihukum

* WHO Bela China Terkait Kritik AS soal Virus Corona
Redaksi - Minggu, 16 Februari 2020 19:56 WIB
194 view
Warga Beijing yang Baru Pulang Berlibur Harus Dikarantina atau Dihukum
Beijing (SIB)
Otoritas Beijing, China, meminta warganya yang baru pulang dari berlibur untuk dikarantina guna menangkal virus corona.

Berdasarkan laporan media pemerintah, mereka diminta mengisolasi diri selama 14 hari. Jika tidak, mereka terancam untuk dihukum.
Dilansir BBC Sabtu (15/2), langkah itu diambil di tengah kabar Mesir mengumumkan kasus pertama infeksi virus corona di Afrika.

Lembaga pencegahan virus Beijing memasang pengumuman bagi warganya yang baru saja kembali dari berlibur Tahun Baru Imlek, Jumat (14/2). Dikutip Sky News, setiap orang yang baru pulang dari liburan diminta untuk melakukan karantina secara mandiri selama 14 hari ke depan. Atau, mereka diminta menuju ke tempat yang sudah ditunjuk. "Mereka yang menolak aturan menangkal virus corona bakal dihukum," jelas pengumuman tersebut. Tidak dijelaskan bentuk seperti apa hukuman yang diberikan, di mana warga juga harus menyerahkan rencana perjalanan mereka ke pejabat setempat.

Lebih dari 20 juta orang tinggal di ibu kota China itu, di mana pemerintah memperpanjang masa libur demi mencegah penyebaran patogen dengan nama resmi Covid-19 itu. Komisi Kesehatan Nasional China pada Sabtu (15/2) menyatakan, terdapat 143 kasus kematian baru, dan membuat korban meninggal berada di angka 1.523. Kemudian 2.641 orang juga terkonfirmasi positif tertular, dengan jumlah penderita sudah mencapai 66.492 di seluruh Negeri "Panda".

Misi yang dipimpin Badan Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan bakal segera menggelar penyelidikan di akhir pekan ini, berfokus bagaimana virus ini menyebar. Tim tersebut berisi 12 anggota internasional dibantu 12 pakar dari China, di mana mereka akan memahami seperti apa transmisi virus itu. "Kami juga akan mempelajari tingkat keparahan penyakit, serta dampak dari penanganan yang dilakukan," kata Dr Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kesehatan Darurat WHO.

Kementerian Kesehatan Mesir pada Jumat (14/2) mengonfirmasi kasus pertama virus corona di Afrika, yang disebut menimpa warga asing. Kairo tidak mengungkapkan dari negara mana korban berasal. Mereka hanya menuturkan bahwa si pasien sudah ditempatkan dalam ruang isolasi. Pakar sebelumnya memperingatkan kejadian di Mesir tidak akan menjadi yang pertama, mengingat dekatnya relasi Afrika dengan China.

Sementara itu, prancis umumkan korban meninggal virus corona, dan menjadi kasus kematian pertama akibat virus itu di luar Asia. Berdasarkan keterangan Menteri Kesehatan Agnes Buzyn dikutip BBC, Sabtu (15/2), korban merupakan seorang turis asal China berusia 80 tahun. Buzyn menjelaskan, wisatawan yang tidak disebutkan identitasnya itu sampai ke Prancis pada 16 Januari, dan dikarantina sembilan hari kemudian. Jumlah tersebut membuat korban meninggal virus corona mencapai 1.527, dengan sebagian besar kasus kematian terjadi di Hubei, China. Total ada empat kasus kematian yang dilaporkan di luar Negeri "Panda". Selain di Prancis, korban juga ada di Filipina, Hong Kong, dan Jepang.

Rela Gundul
Sejumlah perawat yang menangani pasien virus corona Covid-19 di Wuhan, China, dilaporkan menjadi gundul demi mengurangi penularan. Keputusan untuk membuat kepala plontos merupakan bagian dari pengorbanan mereka dalam bertugas di garda terdepan kota asal penyebaran virus. Hingga Jumat (14/2), virus corona yang dulunya dikenal sebagai 2019-nCov itu telah membunuh lebih dari 1.500 orang dan menginfeksi hingga 65.000 orang.

Satu unggahan dari harian pemerintah China, People's Daily, memperlihatkan para perawat memangkas rambut mereka hingga menjadi gundul. Dilansir Business Insider, Selasa (11/2), mereka berasal dari Provinsi Shaanxi, yang bersiap untuk ditugaskan ke Wuhan. "Respek! Tim perawat dari Shaanxi menggunduli kepala mereka jelang tugas di pusat virus corona untuk menghindari infeksi silang," ulas People's Daily.

Selain menghindari penularan, menggunduli kepala juga membantu mereka untuk melepas dan memakai pakaian pelindung, demikian laporan Xinhua. Shan Xia, yang bertugas di Rumah Sakit Rensmin di Universitas Wuhan, menerangkan, dia memutuskan memangkas habis rambutnya pada akhir Januari. Staf rumah sakit di ibu kota Provinsi Hubei tersebut juga mempersingkat waktu dalam merawat pasien, antara lain dengan mengenakan popok dewasa.

Begitu besar pengorbanan yang dilakukan tim medis, antara lain kulit mereka menjadi putih karena terkena disinfektan, hingga bekas masker di wajah. Belum lagi tantangan emosional karena mereka didera kelelahan setelah bertugas terus selama 24 jam dalam menyembuhkan para pasien. Kepada media AS The Washington Post, seorang terapis bernama Candice Qin mengatakan, wabah ini menguras fisik dan mental dokter ataupun perawat. "Kami tahu para pasien berada dalam kecemasan tinggi. Namun, kami juga harus tahu bahwa tim medis juga merupakan manusia biasa," paparnya.

WHO Bela China
Sementara itu, organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membela China yang mendapat respons kekecewaan Amerika Serikat dalam menangani wabah virus corona. Kepala Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan mengatakan untuk menangani penyebaran corona, China sejauh ini telah melakukan berbagai upaya kolaborasi dengan komunitas internasional.

"Dari sudut pandang kami (WHO), kami melihat pemerintah sudah bekerja sama dengan kami. Saya tidak melihat komentar Kudlow (Kepala Dewan Ekonomi AS, Larry Kudlow) bahwa China sulit mengatasi masalah ini," kata Ryan seperti dilansir AFP. "Kendati demikian, setiap orang berhak menyampaikan pendapat dan mengemukakan bukti atas pendapat mereka," ujarnya menambahkan.

Ryan mengatakan tidak mau mengeluarkan tuduhan apapun, termasuk soal penilaian AS yang menyebut China terkesan menutup-nutupi perkembangan kasus virus corona. "Bukan saatnya untuk mengeluarkan tuduhan. Saat ini semua orang harus fokus menangani dan menghentikan penyebaran virus corona," ujarnya.

"Kami akan menunggu penyelidikan forensik terkait apa pun sampai kami berhasil menangani virus ini, kami berharap," tambahnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang mengatakan pihaknya telah terbuka dan transparan kepada dunia dalam menyampaikan informasi perkembangan wabah virus corona. Ia juga mengatakan kerap memperbarui informasi mengenai epidemi dengan AS. AS sebelumnya menyatakan kekecewaan atas sikap China yang terkesan tertutup dalam menangani krisis virus corona.

"Kami sedikit kecewa karena kami tidak diundang dan kami sedikit kecewa dengan kurangnya transparansi dari China," ucap Kudlow kepada awak media, Kamis (13/2).

Keluhan Kudlow berbanding terbalik dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang meyakini China bisa mengatasi serangan epidemi yang telah menyebar ke lebih dari 26 negara di dunia. Satu tim WHO diperkirakan akan tiba di China akhir minggu ini untuk membantu China mengatasi wabah virus corona.

Namun, Kudlow pesimistis dengan penilaian Trump terhadap China. Ia menganggap masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari China terkait virus corona dan tidak ada sinyal keinginan untuk bekerja sama dalam menangani penyakit serupa SARS ini.

"Presiden Xi meyakinkan Presiden Trump bahwa China sedang mengatasi virus ini dan seharusnya ada keterbukaan di situ. Mereka (China) seharusnya menerima bantuan kita," kata Kudlow. (businessinsider.com/BBC/kps/AFP/CNNI/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru