Missouri (SIB)- Situasi di kota Ferguson, Missouri, Amerika Serikat terus memanas pasca kematian Michael Brown, remaja berkulit hitam akibat ditembak polisi. Gubernur Negara Bagian Missouri, Jay Nixon pun mengerahkan pasukan Garda Nasional ke kota kecil tersebut untuk memulihkan ketertiban.
Jam malam kedua kembali diberlakukan pada Senin (18/8) tengah malam hingga 05.00 waktu setempat untuk kali kedua secara berturut-turut. Sebelumnya, aksi serupa digelar untuk meredam kerusuhan yang dipicu oleh kematian seorang remaja kulit hitam bernama Michael Brown. Ini dilakukan beberapa jam setelah polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan aksi demo yang dilanda kerusuhan.
Gubernur Nixon menyatakan dalam statemennya, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (18/8), dirinya memerintahkan tentara-tentara Garda Nasional untuk membantu polisi dan memulihkan ketertiban dan perdamaian di kota tersebut.
Sebelumnya pada Minggu, 17 Agustus malam waktu setempat, polisi antihuru-hara dikerahkan untuk membubarkan massa demonstran sekitar tiga jam sebelum jam malam dimulai. Polisi merespons dengan gas air mata setelah massa melemparkan bom-bom molotov ke arah polisi.
"Ada penembakan, penjarahan, vandalisme dan aksi-aksi kekerasan lainnya, yang tampak jelas bahwa itu bukan aksi spontan melainkan aksi-aksi kriminal terencana, yang dirancang untuk merusak properti, melukai orang-orang dan memicu respons," tutur Ronald Johnson, kepala patroli jalan raya Missouri, yang ditugaskan memimpin upaya pemulihan keamanan di Ferguson.
Penembakan Brown pada 9 Agustus lalu telah memicu aksi-aksi demo yang diwarnai kerusuhan di kotanya, Ferguson. Ketegangan pun sangat terasa antara warga setempat dan aparat kepolisian Ferguson, yang sebagian besar berkulit putih.
Aksi penjarahan juga sempat terjadi di toko-toko di Ferguson. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah polisi menyatakan Brown adalah tersangka pencurian. Massa yang marah pun menjarah sejumlah toko pada Sabtu dini hari waktu setempat. Ini dilakukan setelah warga menggelar aksi demo besar-besaran di Ferguson pada Jumat, 15 Agustus yang berakhir hingga tengah malam waktu setempat.
Kejaksaan AS Perintahkan Otopsi Kedua
Kejaksaan Amerika Serikat memerintahkan otoritas federal untuk melakukan otopsi kedua terhadap remaja kulit hitam yang tewas ditembak polisi di Ferguson, Missouri. Kematian remaja bernama Michael Brown itu memicu aksi protes rasial di St Louis, Missouri, AS.
Seperti yang dikutip dari AFP, Senin (18/8), Jaksa Agung AS Eric Holder memerintahkan otoritas federal mengautopsi kembali jasad remaja berusia 18 tahun itu. Upaya ini dilakukan agar ada investigasi menyeluruh dan meredam aksi protes rasial yang terjadi.
Juru Bicara Departemen Kehakiman AS Brian Fallon mengatakan hal itu dilakukan atas permintaan keluarga Michael.
Selain autopsi, pihak keluarga Michael juga berencana mendatangkan ahli patologi untuk memeriksa jasad Michael. Michael ditembak oleh polisi kulit putih bernama Darren Wilson pada 9 Agustus lalu. Peristiwa ini menuai kecaman melalui aksi protes rasial. Beberapa kali aksi protes diwarnai kericuhan antara peserta aksi dengan pihak keamanan setempat.
7 Demonstran ditangkap pada hari Minggu (17/8) kemarin setelah Gubernur Missouri Jay Nixon memberlakukan jam malam untuk meredam protes dan penjarahan. Para demonstran tidak menyukai kebijakan Jay sehingga timbul kericuhan dan pihak kepolisian setempat melemparkan tembakan gas air mata. Jay kemudian mempercayakan penanganan kemarahan warga kulit hitam AS kepada anggota kepolisian setempat, Kapten Ron Johnson. Ron pun bertemu ribuan demonstran di satu gereja lokal dan menyampaikan permintaan maafnya.
Michael Brown Ditembak 6 Kali oleh Polisi Ferguson
Kematian Michael Brown, remaja kulit hitam akibat ditembak polisi di pinggiran St Louis, Missouri, Amerika Serikat terus menuai kontroversi. Remaja berumur 18 tahun itu ternyata ditembak setidaknya enam kali oleh seorang polisi berkulit putih.
Menurut New York Times seperti dilansir AFP, Senin (18/8), Brown ditembak dua kali di bagian kepala dan empat kali di bagian lengan kanan. Semua tembakan itu diarahkan ke bagian depan tubuhnya. Demikian diberitakan Times mengutip Michael Baden, mantan kepala pemeriksa medis New York City yang melakukan autopsi terpisah atas permintaan keluarga korban.
Penembakan Brown pada 9 Agustus lalu telah memicu aksi-aksi demo yang diwarnai kerusuhan di kotanya, Ferguson. Ketegangan pun sangat terasa antara warga setempat dan aparat kepolisian Ferguson, yang sebagian besar berkulit putih.
Seperti dilansir AFP, Sabtu (16/8), warga kota marah setelah mendengar pernyataan polisi bahwa Brown adalah tersangka pencurian. Keluarga remaja berumur 18 tahun itu menuding polisi telah melakukan pembunuhan karakter sementara penyelidikan atas kematiannya masih berlangsung.
Kepolisian Ferguson mengaitkan Brown pada pencurian sekotak cerutu senilai US$ 49 dari satu toko, beberapa saat sebelum dia ditembak mati oleh polisi pada 9 Agustus lalu.
Polisi pun merilis rekaman CCTV yang menunjukkan seorang pria berkulit hitam dengan postur tinggi, berotot -- mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sandal -- seperti yang dikenakan Brown -- tengah menarik baju seorang pegawai toko dan mendorongnya.
Ratusan Orang Protes Penembakan Pria Kulit Hitam di Los Angeles
Amerika Serikat tampaknya sedang dilanda krisis kepercayaan terhadap kepolisian. Sekitar 500 orang menggelar unjuk rasa di luar markas polisi Los Angeles, California untuk memprotes penembakan seorang pria berkulit hitam.
Ezell Ford (25) tewas ditembak polisi Los Angeles pada Senin (11/8) pekan lalu. Insiden ini terjadi selang dua hari setelah remaja kulit hitam di Missouri, Michael Brown (18) tewas ditembak polisi setempat. "Dia (Ford) merupakan pria yang rendah hati," tutur saudara sepupu Ford, Ceebo Ship (22) seperti dilansir Reuters, Senin (18/8).
Keluarga Ford lainnya menuturkan bahwa Ford menderita gangguan mental yang belum diketahui. "Lebih lamban dari kita kebanyakan," terang salah satu anggota keluarga Ford.
Masih menurut keluarganya, Ford bekerja sama dengan polisi saat hendak diamankan. Bahkan, Ford dilaporkan dalam keadaan tengah berbaring di jalanan ketika dia ditembak. Ford juga tidak dalam keadaan bersenjata ketika ditangkap.
Namun kepolisian Los Angeles atau LAPD menyatakan, Ford sempat bergulat dengan polisi yang berusaha mengamankannya. Bahkan Ford juga berusaha merampas salah satu senjata polisi setempat, sebelum akhirnya ditembak.
Para demonstran di Los Angeles yang memprotes penembakan Ford menggelar aksinya dengan damai. Menanggapi hal ini, juru bicara kepolisian setempat menyatakan, tengah menyelidiki lebih lanjut terkait kematian Ford.
LAPD dalam pernyataannya menyebutkan, tidak ada polisi yang terluka dalam insiden Ford tersebut.
Ford sendiri akhirnya meninggal dunia di rumah sakit setempat. Sementara itu, aksi protes di Missouri terkait kematian Brown terus merajalela. Pada Minggu (17/8) malam waktu setempat, satu orang tertembak dan tujuh orang ditangkap dalam kerusuhan tersebut.
(AFP/dtc/c)