Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

234 Orang Positif Corona, Sejumlah Pejabat dan Sipir China Dipecat

Redaksi - Sabtu, 22 Februari 2020 20:29 WIB
201 view
234 Orang Positif Corona, Sejumlah Pejabat dan Sipir China Dipecat
dailymail
Warga yang dicurigai terinfeksi virus corona menunggu giliran untuk diperiksa di pusat medis di Daegu, Korsel. Warga Daegu khawatir kotanya akan berubah menjadi kota di China, Wuhan, setelah jumlah orang yang terinfeksi epidemi serupa SARS di neg
Beijing (SIB)
Kasus virus corona menyebar secara luas di dalam dua penjara yang di wilayah China daratan, hingga menginfeksi total 234 orang. Sejumlah pejabat tinggi yang dianggap bertanggung jawab atas penyebaran virus corona di kedua penjara itu telah dipecat. Seperti dilansir Reuters, Kamis (21/2), otoritas China menemukan penyebaran virus corona dalam jumlah besar di dua penjara yang ada di wilayah Provinsi Shandong dan Provinsi Zhejiang.

Kasus virus corona dari dua penjara itu berkontribusi besar pada 258 kasus baru di luar Provinsi Hubei. Pemerintah provinsi tersebut memecat Kepala Departemen Kehakiman di Provinsi Shandong setelah penyebaran virus corona terdeteksi di penjara Rencheng di kota Jining. Tujuh sipir penjara tersebut juga ikut dipecat.

Secara keseluruhan, 207 orang di dalam penjara itu dinyatakan positif virus corona. Penyebaran virus corona di penjara tersebut diketahui diawali oleh seorang sipir penjara setempat pada 13 Februari lalu. Wabah virus corona di penjara Rencheng ini mengungkapkan bahwa beberapa departemen tidak bekerja dengan baik.

"Mereka menjalankan tanggung jawab mereka dengan buruk, kinerja mereka tidak solid dan langkah-langkah pencegahan wabah tidak akurat," sebut Wakil Sekjen Pemerintah Provinsi Shandong, Yu Chenghe. Sebuah penjara di Provinsi Zhejiang juga melaporkan adanya wabah virus corona, dengan 27 tahanan dinyatakan positif terinfeksi pada pekan ini.

Direktur dan Kepala Partai Komunis di penjara Shilifeng di Provinsi Zhejiang dipecat terkait wabah tersebut. Pemerintah provinsi tersebut menyatakan bahwa penyelidikan terhadap kronologi munculnya wabah virus corona di penjara itu tengah dilakukan.

Ditambahkan sejumlah pejabat kesehatan Provinsi Shandong bahwa pihaknya telah menetapkan sebuah rumah sakit di kota Jining untuk secara khusus merawat para pasien virus corona dari penjara di kota tersebut dan akan mengalokasikan fasilitas di dalam penjara untuk tujuan perawatan medis.

Wabah virus corona yang terdeteksi di dua penjara di Shandong dan Zhejiang ini mengakhiri rekor penurunan kasus baru di luar Provinsi Hubei, pusat wabah ini, secara berturut-turut dalam 16 hari terakhir.

Sementara itu Jepang menjadi negara kedua yang memiliki kasus virus corona terbanyak setelah China. Hingga Jumat (21/2), sebanyak 76.100 orang terinfeksi virus corona di seluruh dunia. Di Jepang sendiri terdapat 717 kasus virus corona, termasuk 634 orang yang dinyatakan positif corona di atas kapal pesiar Diamond Princess yang sempat dikarantina di perairan Yokohama.

Sementara korban meninggal akibat virus corona di seluruh dunia mencapai 2.247 orang. Sebanyak 2.233 korban merupakan warga China, khususnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, yang menjadi pusat penyebaran virus corona.

Virus corona mulai merebak sejak akhir 2019 di Kota Wuhan. Diduga virus itu berasal dari hewan kemudian menular kepada manusia. Virus itu kemudian menyebar ke penjuru negeri dan bahkan lintas negara. Meski kasus corona dan korban meninggal terus meningkat, jumlah pasien Covid-19 yang sembuh juga terus bertambah. Hingga kini sebanyak lebih dari 11 ribu pasien virus corona dinyatakan sembuh.

Hanya Berdampak Singkat
China mencoba tetap optimistis perihal pertumbuhan ekonomi mereka. Meski virus corona dipastikan berdampak negatif ke hal tersebut, mereka masih yakin sifatnya hanya sementara. "Jelas virus corona akan berdampak negatif ke perekonomian kami dan neraca perdagangan. Namun, kami yakin hal itu hanya jangka pendek. Dengan pendekatan yang terukur, dampak virus corona bisa terkontrol," ujar Duta Besar China untuk wilayah Asean, Deng Xijun, Jumat (21/2)

Berbagai analis memprediksi pertumbuhan ekonomi China akan anjlok pada tahun ini akibat virus corona. Zeng Gang, analis dari National Insitute for Finance and Development di China, misalnya, menyebut perekonomian China akan turun 2 persen dari angka 6,1 persen yang dicapai pada tahun lalu. Padahal, angka 6,1 persen sendiri sudah merupakan angka terendah yang dicapai China sejak tahun 1990.

Pemerintah dan berbagai bank di China tidak ingin pertumbuhan ekonomi jatuh lebih jauh lagi. Oleh karenanya, mereka mengambil sejumlah kebijakan strategis seperti membuka keran pinjaman. Januari kemarin bank komersil di China mengucurkan dana pinjaman sebesar 3,34 triliun Yuan atau 477 miliar Dollar AS untuk menjaga operasional usaha-usaha lokal. Angka tersebut hampir setara dengan besarnya total pinjaman dari bank sepanjang tahun 2007.

Xijun yakin langkah-langkah strategis yang diambil bisa memastikan kegiatan ekonomi China terus berlanjut dan pertumbuhan ekonomi tidak terpuruk terlalu jauh. Dan, ia harap, negara-negara tetangga seperti negara-negara Asean tidak menghentikan kerjasama dagang dengan China di tengah epidemi virus corona.

Ditanyai apa strategi China dalam waktu dekat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama, Xijun mengaku tidak bisa menjawab. Sebagai catatan, pada tahun lalu, volume perdagangan antara negara-negara Asean dengan China mencapai 641 Miliar Dollar AS. Angka tersebut mempertahankan China sebagai mitra dagang terbesar Asean selama 11 tahun berturut-turut. Ancaman virus corona berpotensi mengubah catatan itu untuk tahun ini. (Detikcom/T/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru