Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Iran Gelar Pemilu Parlemen, Kubu Konservatif Diperkirakan Menang

Redaksi - Sabtu, 22 Februari 2020 20:38 WIB
201 view
Iran Gelar Pemilu Parlemen,  Kubu Konservatif Diperkirakan Menang
dailymail
Presiden Iran Hassan Rouhani mengikuti pemilihan umum parlemen di TPS di Teheran, Jumat (21/2).
Teheran (SIB)
Iran memulai pemilihan umum (pemilu) parlemen pada Jumat (21/2) dengan kubu konservatif garis keras diperkirakan menang. Para pemimpin senior Iran memberikan peringatan kepada seluruh warga apabila mereka tidak menggunakan hak suaranya, maka akan mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Teheran. Sebanyak 58 juta warga Iran dari jumlah populasi sekitar 80 juta orang, berhak untuk memberikan suara dalam pemilu parlemen. Warga Iran yang berusia di atas 18 tahun sudah memiliki hak untuk memberikan suaranya.

Lebih dari 7.000 kandidat akan bersaing untuk memperebutkan 290 kursi di parlemen. Dewan Wali Iran telah melakukan seleksi untuk memilih calon kandidat. Mereka diketahui telah mendiskualifikasi sekitar 6.850 calon dari 14 ribu kandidat yang mendaftar. Sebagian besar kandidat yang didiskualifikasi adalah dari kalangan pro-reformasi dan moderat.

Diskualifikasi tersebut meningkatkan kemungkinan jumlah pemilih yang lebih rendah dari sebelumnya. Para pemimpin Iran menyerukan kepada seluruh warga agar tidak abstain dalam pemilu parlemen kali ini.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memberikan suara di sebuah masjid di dekat kantornya di Teheran, sekitar puku 7 pagi waktu setempat. Pada awal pekan ini, Khamenei mengatakan, tingginya jumlah pemilih dapat menggagalkan rencana AS dan pendukung Israel untuk melawan Iran.

"Siapa pun yang peduli dengan kepentingan nasional Iran harus berpartisipasi dalam pemilihan. Musuh ingin melihat apa hasil dari tekanan maksimum AS," ujar Khamenei yang merujuk pada sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh AS.

Pemilu parlemen Iran digelar di tengah kesulitan ekonomi. Harga-harga barang kebutuhan pokok telah melonjak tajam, serta inflasi dan pengangguran juga meningkat. Selain itu, mata uang Iran anjlok sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir atau JCPOA, dan AS menjatuhkan sanksi ekonomi ke Teheran.

Anggota parlemen saat ini didominasi oleh kalangan pro-reformasi dan moderat yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sementara, sisanya terbagi antara kalangan independen dan garis keras. Tingkat partisipasi pemilu parlemen pada 2016 mencapai 62 persen.

Angka tersebut menurun dari jumlah tingkat partisipasi pemilu pada 2012 yakni sebesar 66 persen. (T/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru