Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Intelijen AS: Rusia Bantu Kampanye Trump untuk Masa Jabatan Kedua

Redaksi - Sabtu, 22 Februari 2020 20:44 WIB
179 view
Intelijen AS: Rusia Bantu Kampanye Trump untuk Masa Jabatan Kedua
 Presiden Donald Trump
Washington (SIB)
Para pejabat intelijen Amerika Serikat mengatakan Rusia sedang mengintervensi kampanye pemilihan presiden 2020 untuk membantu Presiden Donald Trump terpilih kembali. Sumber yang tidak menyebutkan namanya mengatakan dalam rapat House of Representative (DPR) tersebut sekutu Trump dari partai Republik mempertanyakan asesmen pejabat dari Kantor Intelijen Nasional. Ia mengatakan, hal itu sudah diduga sebelumnya. "Respon orang-orang Partai Republik seperti yang Anda duga, mereka menjadi gila, mereka mempertanyakan intelijen," kata sumber tersebut, Jumat (21/2).

Sumber mengatakan dalam pertemuan tertutup tersebut pejabat intelijen memperingkatkan Rusia berusaha untuk menurunkan kepercayaan terhadap integritas suara dalam pemungutan suara 3 November mendatang. Di saat yang sama mendorong Trump terpilih kembali untuk periode kedua. "Saat mereka melakukannya, mereka (Rusia) memfavoritkan salah satu kandidat," kata salah sumber tersebut.

Ia menambahkan pejabat intelijen yang tampil dihadapan komite House mengatakan kandidat itu adalah Trump. Sumber menolak menjelaskannya lebih lanjut. Komite partai Republik belum memberikan tanggapan permintaan komentar.

Surat kabar the New York Times melaporkan satu hari setelah rapat tersebut dilakukan, Trump menegur pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional Joseph Maguire karena mengizinkan stafnya untuk tampil di hadapan komite. The Times mengutip lima orang yang mengetahui peristiwa itu.

Trump mengatakan ia mengganti Maguire sebagai pelaksana tugas direktur intelijen dengan Richard Grenell. Grenell adalah seorang loyalis Trump yang menjabat sebagai duta besar AS untuk Jerman sejak 2018.

The Times melaporkan saat menegur Maguire, Trump menyinggung tentang kehadiran ketua komite intelijen House Adam Schiff dalam rapat tersebut. Schiff memimpin penyelidikan pemakzulan terhadap Trump atas dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalang-halangi penyelidikan Kongres. Bulan lalu Senat yang dikuasai Partai Republik membebaskan Trump dari dakwaan. Gedung Putih belum menanggapi permintaan komentar.

Dipenjara
Sementara itu hakim federal menjatuhkan hukuman tiga tahun empat bulan kepada Roger Stone, kawan dekat dan orang kepercayaan Presiden Donald Trump. Stone dihukum atas tuduhan menghalangi penyelidikan oleh Kongres tentang campur tangan Rusia dalam pilpres 2016.

Hukuman itu hanya separuh dari yang dituntut oleh para jaksa federal, sebelum Jaksa Agung William Barr turun tangan dan membatalkan tuntutan itu. Tindakan Barr memicu kehebohan tentang campur tangan politik dalam sistem pengadilan Amerika.
Trump segera mengecam keputusan hakim federal sebagai tidak adil. Namun dia mengatakan bahwa ia akan membiarkan proses hukum berjalan dan tidak akan memberi pengampunan atas kawan dekatnya itu.

Stone dan pengacaranya mengatakan akan minta persidangan ulang. “Saya kira itu adalah hal yang paling baik, karena saya ingin melihat Roger dinyatakan tidak bersalah,” kata Trump. "Saya akan sangat senang kalau itu terjadi, karena secara pribadi saya berpendapat bahwa ia telah diperlakukan sangat tidak adil," imbuh Trump.

Roger Stone, yang pernah bekerja sebagai konsultan partai Republik itu dinyatakan bersalah akhir tahun lalu sehubungan dengan usahanya memperoleh sejumlah email curian dari Wikileaks milik calon presiden Hillary Clinton. Juri di pengadilan membuktikan bahwa Stone berbohong tentang berbagai usaha itu kepada para penyelidik di Kongres pada 2017 dan bahkan berusaha mengintimidasi seorang saksi. (T/VoA/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru