BAGHDAD (SIB)- Perlawanan terhadap kelompok militan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) masih terus berlanjut. Menteri Luar Negeri Irak Hoshiyar Zebari mendesak agar dunia internasional mendukung negaranya untuk melawan militan ISIS.
Melansir Reuters, Rabu (20/8), Zebari mengatakan bahwa kelompok militan ISIS adalah ancaman bagi dunia dan bukan hanya ancaman bagi kelompok etnis minoritas Irak. Seperti diketahui, aksi dari militan ISIS menjadi sorotan serius bagi seluruh dunia. Mengingat kelompok tersebut telah merilis rekaman pemenggalan kepala wartawan asal Amerika Serikat (AS) James Foley.
Dalam rekaman tersebut, seorang anggota ISIS meminta agar AS menghentikan serangan udaranya di Irak. Selain itu, sebelum Foley di eksekusi dirinya sempat dipaksa untuk membaca sebuah pesan yang ditulis oleh kelompok ISIS. Pesan tersebut menjelaskan bahwa AS yang bertanggung jawab atas kematiannya. Rekaman tersebut langsung menuai kecaman dari sejumlah tokoh dunia.
Baru-baru ini Senator AS John McCain melontarkan kritik pedas kepada Presiden Barack Obama. McCain mengkritik akibat Obama mengacuhkan ancaman ISIS, warga AS yang harus menderita. Menurut McCain, saat ini ISIS sudah menjadi organisasi teroris terbesar dan terkaya di dunia. Mereka diyakini telah mencuri peralatan AS yang ada di Irak.
Tuding Qatar
Menteri Bantuan Pembangunan Jerman Gerd Mueller, Rabu (20/8), menuduh Pemerintah Qatar membiayai kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). "Kisah seperti ini selalu memiliki sejarah. Siapa yang membiayai pasukan mereka? Qatar," kata Mueller dalam wawancara dengan lembaga penyiaran publik ZDF.
Sebelumnya, Wakil Kanselir dan Menteri Ekonomi Jerman Sigmar Gabriel pekan ini mendesak digelar sebuah "debat" terkait pihak yang membiayai ISIS, tetapi dia tidak menyebut nama sebuah negara. Dalam beberapa hari ke depan, Jerman diharapkan bisa mengambil keputusan apakah akan mengirimkan bantuan militer tidak mematikan atau ikut mempersenjatai pasukan Kurdi yang memerangi ISIS.
Langkah untuk memerangi ISIS merupakan isu kontroversial di Jerman, yang dibebani sejarah menjadi agresor di dua perang dunia. Fakta sejarah itu membuat Jerman kerap ragu mengirim pasukannya untuk terlibat konflik di luar negeri atau mengirimkan senjatanya ke zona perang.
Gagalkan Rencana Teror ISIS
Kepolisian Malaysia, Selasa (19/8), mengklaim berhasil menggagalkan rencana Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) meledakkan sejumlah bom di negeri itu. "Sebanyak 19 tersangka anggota militan yang ditangkap sepanjang April-Juni lalu merencanakan peledakan sejumlah bar, klub malam dan sebuah pabrik bir Calsberg di Malaysia," kata Deputi Kepala Divisi Kontra Terorisme Malaysia ayob Khan Mydin.
Ayob melanjutkan, semua tersangka yang adalah warga negara Malaysia itu berencana mendirikan sebuah kekalifan Islam Asia Tenggara yang meliputi Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina dan Singapura. "Mereka juga berencana pergi ke Suriah untuk menimba ilmu kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)," tambah Ayob yang menambahkan dua orang ibu rumah tangga termasuk di antara para tersangka.
Ayob menuturkan, para tersangka ini masih berada di tahap paling awal dalam rencana mereka dan tidak memiliki persenjataan berat serta kemampuan membuat bom. Tujuh orang tersangka sudah dijerat berbagai dakwaan mulai dari mempromosikan terorisme hingga kepemilikan senjata rakitan. "Mereka berencana untuk mengampanyekan kekerasan dan perjuangan bersenjata serta mati sebagai syuhada.
Kami yakin masih banyak rekan mereka di Malaysia," tambah Ayob Khan.
Beberapa dari ke-19 tersangka itu ditangkap di bandara saat akan berangkat ke Turki dan Suriah dalam rangka menuntut ilmu dan membantu gerakan ISIS.
Sementara sejumlah tersangka lain, masih kata Ayob, sudah mulai mengumpulkan dana lewat media sosial untuk membiayai perjalanan mereka ke Suriah yang disamarkan dengan kegiatan kemanusiaan. "Dari hasil pemeriksaan, mereka mendiskusikan ideologi ISIS termasuk membunuh orang tak berdosa dan membunuh umat Muslim yang tak sejalan dengan mereka," lanjut Ayob Khan.
(AFP/kps/h)