Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

WHO Sebut Eropa Jadi Pusat Pandemi Covid-19

* Sekjen PBB Minta 3 Ribu Staf Bekerja dari Rumah
Redaksi - Minggu, 15 Maret 2020 21:01 WIB
342 view
WHO Sebut Eropa Jadi Pusat Pandemi Covid-19
indonesiasatu.co
Presiden Donald Trump pada hari Jumat (13/3/2020) waktu setempat mengumumkan darurat nasional Amerika Serikat (AS) berkaitan dengan Covid-19.
Jenewa (SIB)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Eropa saat ini menjadi 'pusat' pandemi Covid-19 secara global. Diperingatkan WHO bahwa sulit untuk diketahui kapan wabah ini secara global akan mencapai puncaknya. Seperti dilansir AFP, Sabtu (14/3), hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers yang digelar secara teleconference untuk menghindari potensi penyebaran virus di kalangan wartawan.

"Eropa sekarang telah menjadi pusat pandemi (Covid-19), dengan lebih banyak kasus dan kematian dilaporkan dibandingkan negara-negara lainnya di seluruh dunia, terlepas dari China," sebut Tedros. "Lebih banyak kasus sekarang dilaporkan setiap harinya daripada (kasus) yang dilaporkan di China pada puncak wabah ini," imbuhnya.

Dengan semakin meluasnya pandemi Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk mengambil 'pendekatan komprehensif' dalam memerangi virus tersebut. "Pesan kami kepada negara-negara adalah: Anda harus mengambil pendekatan komprehensif," ucap Tedros. Tedros menyebut bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan jarak sosial (social distancing) seperti membatalkan acara-acara olahraga, mungkin membantu mengurangi penularan virus Corona.

Namun semua tindakan yang mungkin dilakukan untuk memperlambat atau mencegah penularan, harus dijalankan.

"Bukan hanya melakukan pemeriksaan. Bukan hanya melakukan pelacakan kontak. Bukan hanya melakukan karantina. Bukan hanya melakukan social distancing. Lakukan semuanya," tegasnya. "Anda tidak bisa memerangi virus jika Anda tidak tahu di mana lokasinya. Cari, isolasi, periksa dan tangani setiap kasus, untuk memutus rantai penularan," ujar Tedros.

Lebih lanjut, Tedros menyatakan bahwa langkah-langkah agresif dalam memerangi Covid-19 yang dilakukan oleh beberapa negara bisa menjadi contoh nyata. Dia juga menyebut bahwa jika penularan tidak bisa dihentikan, setidaknya bisa diperlambat untuk menyelamatkan banyak nyawa. "Setiap negara yang melihat pada pengalaman negara-negara lain dengan wabah besar dan berpikir 'itu tidak akan terjadi pada kita' jelas telah melakukan kesalahan fatal. Itu bisa terjadi pada negara manapun," sebut Tedros.

"Pengalaman China, Republik Korea, Singapura dan negara lain jelas menunjukkan bahwa pemeriksaan dan pelacakan kontak yang agresif, dikombinasikan dengan langkah menjaga jarak secara sosial dan mobilisasi masyarakat, bisa mencegah penularan dan menyelamatkan nyawa," jelasnya. "Jepang juga menunjukkan bahwa pendekatan pemerintahan secara menyeluruh yang dipimpin Perdana Menteri (Shinzo) Abe sendiri, dengan didukung penyelidikan mendalam terhadap cluster-cluster (penularan), merupakan langkah kritis dalam mengurangi penularan," imbuh Tedros.

Tedros menyampaikan hal tersebut saat negara-negara di kawasan Eropa telah mengambil langkah-langkah dramatis dalam upaya menghentikan penyebaran Covid-19, mulai dari meliburkan sekolah-sekolah, membatasi acara-acara publik hingga lockdown nasional.

Lebih Penting Bertindak
Kepala Program Darurat WHO, Michael Ryan, secara terpisah menekankan bahwa langkah-langkah melarang digelarnya acara-acara publik 'bukanlah obat mujarab'. Langkah menjaga jarak secara sosial atau 'social distancing' tidak langsung menghentikan penyebaran Covid-19, namun bisa menyelamatkan nyawa. "Langkah-langkah social distancing tidak akan menghentikan pandemi ini," ujar Ryan, sembari menambahkan bahwa langkah semacam itu bisa memberikan 'dampak positif'.

Dia menekankan bahwa hal terpenting dalam memerangi Covid-19 adalah bertindak. "Kesalahan terbesar adalah tidak bertindak. Kesalahan terbesar adalah dilumpuhkan oleh ketakutan akan kegagalan," imbuhnya. Data terbaru dari WHO, seperti dilansir CNN, menyebutkan jumlah korban meninggal akibat Covid-19 secara global telah melampaui 5 ribu orang. Jumlah total kasus Covid-19 kini melebihi 136 ribu kasus di sedikitnya 123 negara dan wilayah.

Secara terpisah, Kepala Unit Kemunculan Penyakit Baru pada WHO, Maria Van Kerkhove, memperingatkan bahwa 'tidak mungkin bagi kita untuk mengatakan kapan (wabah Covid-19) ini akan mencapai puncak secara global'. "Kita berharap lebih cepat daripada nanti-nanti," ucapnya.

Data terbaru dari WHO, seperti dilansir CNN, menyebutkan jumlah korban meninggal akibat Covid-19 secara global telah melampaui 5 ribu orang. Tedros menyebutnya sebagai 'tonggak sejarah yang tragis'. Jumlah total kasus Covid-19, menurut WHO, kini melebihi 136 ribu kasus di sedikitnya 123 negara dan wilayah. Dari jumlah tersebut, nyaris 81 ribu kasus ada di wilayah China daratan.

Italia yang merupakan negara Eropa yang terdampak Covid-19 terparah, kini tercatat memiliki lebih dari 15 ribu kasus. Empat negara Eropa lainnya, yakni Spanyol, Jerman, Prancis dan Swiss, telah melaporkan masing-masing lebih dari 1.000 kasus Covid-19 di wilayahnya.

Staf Bekerja dari Rumah
Sementara itu, akibat wabah Covid-19 yang meluas di Amerika Serikat (AS), seluruh staf Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di kantor pusat New York diminta bekerja dari rumah. Imbauan ini akan diberlakukan selama tiga pekan. Seperti dilansir Associated Press, Sabtu (14/3), imbauan untuk bekerja dari rumah itu disampaikan oleh Sekretaris Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres dalam pengumuman melalui juru bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Jumat (13/3) malam waktu setempat.

Disebutkan dalam pengumuman itu bahwa Guterres telah meminta 3 ribu anggota staf yang bekerja di kantor utama PBB di New York untuk bekerja dari rumah selama tiga pekan, mulai dari Senin (16/3) mendatang. Imbauan ini tidak berlaku bagi staf yang dibutuhkan untuk tugas-tugas penting PBB. Dujarric menyatakan bahwa keputusan ini diambil Guterres untuk mengurangi secara drastis jumlah staf di kantor pusat PBB demi mengurangi kontak sosial ke level minimum di tengah merebaknya wabah Covid-19.

Pengumuman itu juga menyatakan bahwa setiap rapat Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum PBB dan badan-badan penting serta komisi PBB lainnya akan tetap digelar. Ditegaskan Dujarric bahwa sejauh ini tidak ada staf PBB yang terinfeksi Covid-19, namun ada satu diplomat Filipina yang bertugas di misi diplomatik PBB yang telah dinyatakan positif Covid-19.

Sejauh ini, seperti dilaporkan CNN, jumlah kasus Covid-19 di AS mencapai 2.204 kasus, dengan 49 orang meninggal dunia. Wabah Covid-19 dilaporkan telah menyebar ke nyaris seluruh negara bagian AS, kecuali satu negara bagian yakni West Virginia. (AFP/AP/dtc/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru