Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Islandia Negara Terdamai di Dunia, Indonesia Urutan ke-54

*Suriah Negara Paling Berbahaya Bagi Wartawan
- Jumat, 22 Agustus 2014 09:14 WIB
428 view
Islandia Negara Terdamai di Dunia, Indonesia Urutan ke-54
SYDNEY (SIB)- Dengan semakin banyaknya konflik bersenjata di dunia, ternyata masih ada beberapa negara yang bisa meraih status negara paling damai di dunia. Daftar Indeks Perdamaian Global 2014 yang disusun Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP), lembaga riset yang berbasis di Australia, menempatkan Islandia sebagai negeri paling damai di antara 162 negara di dunia.

Studi yang dilakukan lembaga ini menilai tingkat kedamaian satu negara berdasarkan 22 indikator yang terkait tingkat kekerasan atau kekhawatiran terhadap kekerasan di satu komunitas atau negara. Faktor-faktor yang menjadi indikator adalah angka kasus pembunuhan, jumlah narapidana, akses terhadap senjata api, kejahatan dengan kekerasan, dan anggaran militer.

Setelah melalui semua indikator itu, Islandia pun menempati posisi sebagai negara terdamai di dunia, disusul Denmark, Austria, dan Selandia Baru. Sementara itu, Swiss, Finlandia, Kanada, Jepang, Belgia, dan Norwegia berada di posisi 10 besar.

Adapun Australia, yang menjadi rumah bagi lembaga peneliti ini, menempati peringkat ke-15 dengan penilaian buruk terkait keterlibatan negeri ini dalam konflik dan mengenai jumlah perempuan di parlemen.

Lembaga ini juga menempatkan bahwa hanya 11 negara di dunia yang memiliki potensi bebas dari konflik. Negara-negara itu adalah Swiss, Jepang, Qatar, Mauritius, Uruguay, Cile, Botswana, Kosta Rika, Vietnam, Panama, dan Brasil. Sementara itu, negara paling tidak aman di dunia kini ditempati Suriah, yang menggeser Afganistan ke posisi kedua. Sudan Selatan, Irak, Korea Utara, Pakistan, dan Rusia berada di peringkat 10 terbawah.

Lalu di mana posisi Indonesia? Negeri berjuluk "Zamrud Khatulistiwa" ini berada di peringkat ke-54 dari 162 negara yang dinilai IEP. Posisi Indonesia masih kalah dibanding Singapura di peringkat ke-25, Malaysia di peringkat ke-33, dan Vietnam di posisi ke-45. Namun, tingkat keamanan dan kedamaian Indonesia masih lebih baik dibanding Thailand (126), Filipina (134), dan Myanmar (136).

Menurut pendiri dan Ketua Eksekutif IEF, Steve Killelea, semua konflik dan kekerasan di dunia menimbulkan biaya ekonomi tinggi yang mencapai 10 triliun dollar AS pada 2013. Jumlah ini sama dengan dua kali pendapatan nasional seluruh negara Afrika dan setara 19 persen pertumbuhan perekonomian global tahun lalu. "Untuk memperjelasnya, setiap orang di dunia menanggung 1.350 dollar AS untuk kerugian akibat konflik. Bahayanya, pertumbuhan ekonomi yang rendah akan memicu tingkat kekerasan lebih tinggi," kata Killelea.

Lebih jauh, IEP meramalkan negara-negara seperti Haiti, Zambia, Argentina, Chad, Bosnia-Herzegovina, Nepal, Burundi, Georgia, Liberia, dan Qatar merupakan negara yang kemungkinan peringkatnya akan turun dalam dua tahun ke depan.
Suriah Negara Paling Berbahaya bagi Wartawan
Pembunuhan James Foley, yang diduga dilakukan milisi Islam Daulah Islamiyah setelah penculikannya di Suriah pada tahun 2012, memusatkan perhatian berbagai pihak terhadap bahaya meliput pada suatu negara. Suriah adalah tempat paling berbahaya di dunia bagi wartawan dalam lebih dua tahun ini, demikian menurut Komite Perlindungan Wartawan (CPJ), kelompok kebebasan pers yang bermarkas di New York.

"Suriah adalah salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi wartawan," kata Courtney Radsch dari CPJ. "Konflik di sana sangat penting untuk diberitakan sehingga mereka mengorbankan jiwa," tukasnya.

Paling tidak 69 wartawan tewas akibat langsung meliput konflik Suriah sejak konflik mulai terjadi pada tahun 2011, lapor CPJ. Sebagian besar menjadi korban tembak-menembak atau ledakan. Paling tidak enam wartawan dipastikan secara sengaja dibunuh.

Pembunuhan ini memperlihatkan bukan hanya bukti luasnya kekerasan di Suriah, tetapi juga betapa bahayanya tempat itu bagi para penyiar dan wartawan. Ini juga disebabkan sifat konflik itu sendiri dengan perubahan keberpihakan dan ideologi.

Suriah memang contoh sangat dramatis tentang bagaimana perang dan jurnalisme perang berubah dalam beberapa tahun terakhir pada berbagai tempat di dunia.
20 Wartawan
Wartawan foto Amerika, James Foley, yang dibunuh kelompok ekstremis ISIS, termasuk di antara lebih dari 80 wartawan yang telah diculik ketika sedang meliput konflik di Suriah. Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) mengatakan, ada sekitar 20 wartawan lokal dan internasional yang masih hilang di Suriah dan diyakini banyak disandera militan.

Kelompok ISIS telah menyatakan wilayah luas di Suriah timur hingga Irak barat laut merupakan daerah kekuasaan mereka sebagai Negara Islam. Mereka mengatakan, Foley dipenggal sebagai balasan atas serangan-serangan udara Amerika terhadap militan itu di Irak utara.

Mereka juga mengancam membunuh satu lagi wartawan Amerika yang mereka sandera jika Amerika tidak menghentikan serangan-serangan udaranya.
ISIS merilis video pemenggalan tersebut di YouTube dan Twitter, tetapi sebagian besar situs internet tidak mau memasang gambar-gambar itu. Kelompok militan itu mapan dalam media sosial yang selama ini mereka gunakan untuk menyebarkan tujuan jihadnya dan meneror targetnya.

Foley dipenggal seorang anggota ISIS yang memegang pisau di lokasi yang tidak disebutkan. Sejumlah organisasi media memasang gambar dari situs kelompok jihad itu yang menunjukkan Foley berlutut dengan pakaian warga jingga sebelum dibunuh.

Banyak wartawan juga telah diculik oleh pasukan Suriah dan masih hilang. Paling sedikit 54 wartawan telah tewas di Suriah sejak 2012 dan total 66 sejak 1992.
Berantas ISIS

Tindakan sadis pemenggalan kepala wartawan Amerika Serikat, James Foley oleh kelompok ISIS menuai berbagai kecaman. Presiden Prancis Francois Hollande pun mencetuskan, dirinya marah atas eksekusi mati Foley. "Saya merasakan emosi, saya merasakan belas kasihan, saya juga merasakan kemarahan," tutur Hollande seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (21/8). "Untuk menewaskan, membunuh seorang jurnalis dengan cara ini, seorang jurnalis yang telah disekap selama dua tahun, memposting ke internet video pembunuhannya, itu tanda kebiadaban," cetus pemimpin Prancis itu.

Hollande pun meminta adanya konferensi internasional untuk membahas cara-cara memberantas ISIS.

Pada Selasa, (19/8) kelompok ISIS merilis video berjudul "A Message to America" yang menunjukkan eksekusi mati Foley. Dalam video berdurasi 5 menit itu, ISIS menyatakan, Foley dibunuh setelah Presiden AS Barack Obama memerintahkan serangan udara terhadap ISIS di Irak bagian utara.

Militan ISIS menyebut eksekusi mati Foley sebagai balasan atas serangan udara militer AS. Mereka juga mengancam akan membunuh wartawan AS lainnya, Steven Sotloff, yang ditunjukkan masih dalam keadaan hidup di video tersebut. (BBC/VoA/AFP/dtc/Newscom/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru