Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Jerman dan AS Berebut Kuasai Vaksin Corona

* Menteri Jerman : Hak Paten Penelitian Vaksin Tidak Dijual
Redaksi - Selasa, 17 Maret 2020 19:31 WIB
442 view
Jerman dan AS Berebut Kuasai Vaksin Corona
okezone
Ilustrasi
Washington DC (SIB)
Pemerintah Jerman dan Amerika Serikat (AS) berebut menguasai CureVac, satu perusahaan di Jerman, yang saat ini sedang bekerja menemukan vaksin virus corona, demikian seperti dilaporkan surat kabar Jerman, Welt am Sonntag. Outlet media terkemuka Jerman itu dengan mengutip seorang sumber yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menawarkan uang dalam jumlah besar kepada para ilmuwan Jerman yang mengerjakan vaksin virus corona.

Trump disebut ingin mendapatkan hak eksklusif atas temuan mereka. Meski begitu, melalui rilis berita pada Minggu (15/3),
perusahaan tersebut membantah "klaim tentang adanya isu penjualan perusahaan atau teknologi apapun yang ada di dalam perusahaan".

Welt am Sonntag dengan mengutip seorang sumber anonim pemerintah Jerman mengatakan bahwa Trump melakukan segala upaya untuk mendapatkan vaksin bagi Amerika Serikat, "tetapi hanya untuk AS."

Pada Minggu (15/3), Kepala Investor terbesar dari CureVac mengatakan bahwa kontrak eksklusif dengan AS tidak mungkin dilakukan. "Kami ingin mengembangkan vaksin yang digunakan untuk seluruh dunia, bukan untuk negara tertentu," kata Kepala Eksekutif dievini Hopp Bio Tech Holding, Christof Hettich, kepada surat kabar Mannheimer Morgen. Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan pers perusahaan tersebut. Sementara itu, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan kepada televisi publik Jerman bahwa pengambilalihan perusahaan tidak termasuk dalam opsi yang bisa dilakukan. Ia menyebut bahwa kementerian telah melakukan pembicaraan yang baik dengan perusahaan selama dua minggu terakhir.

Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer mengatakan bahwa masalah tersebut akan dibahas pada Senin (16/3), dalam komite krisis yang baru dibentuk oleh pemerintah. Sementara, Menteri Ekonomi Peter Altmaier mengatakan kepada TV publik Jerman bahwa "Jerman bukan untuk dijual."

Hal senada juga disampaikan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas yang menegaskan, hak paten penelitian untuk mengembangkan vaksin virus corona tidak dijual. Saat ini, ilmuwan sedang mengembangkan vaksin untuk melumpuhkan virus corona, yang telah membunuh 6.500 dan menjangkiti 169.000 di seluruh dunia. "Ilmuwan kami memainkan peranan penting dalam obat-obatan dan pengembangan vaksin. Kami tak bisa membiarkan yang lain melihatnya secara eksklusif," ujar Maas kepada Funke. Mengutip sumber internal pemerintahan, harian Die Welt mempublikasikan laporan bahwa Trump menawarkan "miliaran dollar AS" kepada CureVac.

Laporan bahwa Trump berniat membeli akses penelitian vaksin virus corona di CureVac memantik berbagai tanggapan di Berlin. "Kerja sama internasional sangat penting sekarang. Jangan sampai dikaburkan kepentingan pribadi," jelas Erwin Rueddel, anggota komite kesehatan parlemen Jerman. Seorang pejabat anonim AS menilai laporan itu "berlebihan". Pasalnya, mereka tidak hanya menggelar pembicaraan dengan CureVac. "Pemerintah AS sudah berbicara dengan (lebih dari 25) perusahaan yang mengklaim bisa membantu vaksin. Kebanyakan firma itu sudah menerima pendanaan," jelas dia.

Sumber tersebut menolak tudingan bahwa Washington berusaha menyimpan obat virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu bagi mereka sendiri. Pejabat itu menerangkan, pihaknya bakal terus membahas vaksin kepada setiap perusahaan yang menyatakan bisa membantu pengembangan obat.

Untuk diketahui, CureVac berpusat di Tübingen, kota di Jerman barat daya. Perusahaan ini bekerja sama dengan Institut Paul Ehrlich, yang terhubung dengan Kementerian Kesehatan Jerman. Perusahaan ini juga memiliki fasilitas lain di Frankfurt dan di Boston, AS.

CureVac berharap akan memiliki vaksin percobaan pada bulan Juni atau Juli. Setelah itu, perusahaan akan mengajukan persetujuan untuk melakukan pengujian vaksin pada manusia. Penelitian terhadap beberapa kemungkinan vaksin telah dimulai, namun nantinya dua vaksin yang paling menjanjikan akan dipilih untuk digunakan pada tes klinis, demikian kata co-founder CureVac dan kepala produksi Florian von der Mülbe kepada Reuters, Jumat (13/3).

Pada 2 Maret, CEO CureVac saat itu, Daniel Menichella menghadiri pertemuan di Gedung Putih untuk membahas pengembangan vaksin virus corona dengan Trump bersama anggota gugus tugas coronanya. Namun pada 11 Maret, perusahaan mengumumkan bahwa Menichella akan digantikan oleh pendiri perusahaan Ingmar Hoerr, tanpa memberikan alasan mengapa ia digantikan.

Pada Sabtu (14/3), Trump dinyatakan negatif virus corona setelah menjalani tes karena berpotensi terkena virus dari beberapa kasus. Wabah COVID-19 yang berawal dari China, kini telah menyebar ke seluruh dunia dengan lebih dari 156.000 kasus positif dan 5.800 angka kematian. Meski begitu, lebih dari 70.000 orang telah dinyatakan sembuh dari virus ini. (AFP/kps/Rtr/CNNI/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru