Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Hamas Akui Culik dan Bunuh 3 Remaja Israel

* Israel Terus Bombardir Hamas Sampai Keamanan Warga Terjamin * DK PBB Serukan Israel dan Palestina Kembali ke Meja Perundingan
- Jumat, 22 Agustus 2014 10:00 WIB
458 view
Hamas Akui Culik dan Bunuh 3 Remaja Israel
Dalam foto dokumen bertanggal 27 Februari 1999 (dari kiei ke kanan) Read al-Attar, Mohammed Abu Shammala dan Osama Abu Atah, berbincang dalam satu kesempatan di pengadilan otoritas Palestina ketiga tokkoh tersebut diduga aalah petinggi kelompom millitan H
Istanbul (SIB) - Seorang petinggi Hamas mengakui bahwa anggota kelompok militan mereka memang menculik dan membunuh tiga remaja Israel yang dilaporkan hilang pada Juni lalu. Pernyataan tersebut merupakan pengakuan pertama pihak Hamas, setelah Israel melancarkan serangan militernya terhadap basis-basis Hamas di Gaza.

“Itu adalah operasi (penculikan) yang dilakukan saudara-saudara dari Brigade Qassam untuk membantu saudara-saudara mereka yang melakukan mogok makan di penjara Israel,” demikian kata Saleh al-Arouri di hadapan delegasi Palestina di International Union of Islamic Scholars di Istanbul, Turki seperti dilansir dari Reuters, Kamis (21/8).

Hamas, yang menguasai dan mengendalikan Gaza, berkali-kali membantah melakukan atau terlibat dalam penculikan dan pembunuhan ke tiga remaja Israel tersebut. Ketiga remaja––yang merupakan pelajar seminari Yahudi––Eyal Yifrach (19 tahun), Gilad Shaer dan Naftali Fraenkel (keduanya berusia 16 tahun) diculik saat berjalan-jalan di wilayah Tepi Barat yang dikuasai Israel pada 12 Juni. Kematian ketiga remaja tersebut memicu kemarahan pemerintah Israel, yang berujung melancarkan serangan ke Gaza.

Sementara itu, sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam menyatakan, tiga komandan seniornya tewas dalam serangan yang dilancarkan Kamis (21/8) dini hari waktu setempat. Ketiga orang tersebut adalah Mohammed Abu Shamala, Raed al-Atar dan Mohammed Barhum. Menurut saksi mata, serangan terbaru Israel itu menargetkan sebuah rumah warga berlantai empat yang berada di kota Rafah, Gaza selatan di perbatasan Mesir.

Serangan mematikan ini terjadi setelah istri dan anak laki-laki pemimpin militer Brigade, Mohammed Deif, tewas dalam serangan di Gaza City pada Selasa, 19 Agustus malam waktu setempat. Deif sendiri selamat dari serangan udara Israel tersebut.

Juru bicara dinas darurat Gaza Ashraf al-Qudra mengatakan, delapan warga Palestina tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel pada Kamis (21/8) dini hari waktu setempat. Dari jumlah itu, 7 orang tewas di kota Rafah dan satu orang tewas di kamp pengungsi Nusseirat di Gaza.

Terus Bombardir Hamas
Dilain pihak, Pemerintah Israel kembali menegaskan, serangan di Gaza akan terus dilakukan sampai keamanan warga Israel terjamin. Bahkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, para pemimpin Hamas yang disebutnya sebagai "organisasi teroris" merupakan target sah. Netanyahu pun mengingatkan: "Tak ada yang kebal dari serangan kami."

"Kebijakan kami adalah sebagai berikut: jika Hamas menyerang, kami akan membalas dengan lebih keras dan jika mereka tidak paham hari ini, mereka akan paham besok dan jika tidak besok, maka lusa," cetus pemimpin negeri Yahudi itu seperti dilansir AFP, Kamis (21/8).

Konflik antara Israel dan Hamas di Gaza telah berlangsung sejak enam pekan lalu.

Pertempuran ini merupakan konfrontasi paling ganas antara kedua pihak sejak intifada rakyat Palestina yang kedua, mulai 2000-2005 silam.

Lebih dari 2 ribu warga Palestina telah tewas selama konflik Hamas dan Israel pecah sejak enam pekan lalu. Di pihak Israel, sebanyak 67 orang telah tewas. Menurut PBB, sekitar tigaperempat korban serangan Israel di Gaza adalah warga sipil.

ke Meja Perundingan
Dewan Keamanan PBB menyerukan Israel dan Palestina untuk kembali ke meja perundingan guna membahas gencatan senjata jangka panjang di Gaza. Seruan itu disampaikan lewat statemen bersama 15 anggota DK PBB yang diadopsi pada Rabu, 20 Agustus waktu setempat.

Dalam statemennya seperti dilansir AFP, Kamis (21/8), DK PBB menyampaikan dukungan penuh atas inisiatif Mesir menjadi mediator pihak Israel dan Palestina dalam perundingan mengenai gencatan senjata. DK PBB pun menyerukan Israel dan Palestina untuk segera melanjutkan kembali negosiasi guna mencapai kesepakatan gencatan senjata yang terus-menerus dan berlangsung lama.

Statemen tersebut dirancang oleh Prancis dan disetujui DK PBB dengan suara bulat. Statemen ini diadopsi setelah negosiasi di Kairo, Mesir terhenti menyusul ketegangan yang kembali terjadi di Gaza. "Hal yang mendesak hari ini adalah merespons fakta bahwa pembicaraan tampaknya akan gagal dan telah terjadi kembali permusuhan, dan penting bagi Dewan Keamanan untuk merespons itu," ujar Dubes Inggris untuk PBB, Mark Lyall Grant, yang negaranya saat ini mendapat giliran menjadi presiden DK PBB.

Saat ini, perundingan mengenai gencatan senjata yang lebih lama antara Israel dan Palestina yang digelar di Kairo, Mesir telah gagal setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan. Hamas memutuskan untuk menghentikan upaya untuk merundingkan gencatan senjata tersebut.

"Kami memanggil delegasi Palestina untuk segera mundur dari Kairo dan tidak kembali lagi," cetus juru bicara kelompok bersenjata Hamas, Abu Obeida dalam pidato yang disiarkan saluran televisi milik Hamas, Al-Aqsa TV. (Rtr/R16/AFP/dtc/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru