Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Jepang Umumkan Darurat Nasional

Redaksi - Rabu, 08 April 2020 19:49 WIB
232 view
Jepang Umumkan Darurat Nasional
Foto: Getty Images
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe 
TOKYO (SIB)
Pada Selasa (7/4) Jepang resmi menyatakan keadaan darurat nasional terkait lonjakan kasus virus corona. Warga memberi dukungan penuh terhadap kebijakan ini. Sebelumnya telah diberitakan darurat nasional ini mulai efektif diberlakukan pada Selasa tengah malam waktu setempat. "Ketika saya memutuskan bahwa suatu situasi yang dikhawatirkan memengaruhi kehidupan orang-orang dan ekonomi telah terjadi... Saya menyatakan keadaan darurat," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, dikutip dari AFP.

Keadaan darurat ditetapkan di Tokyo, Chiba, Kanagawa, Saitama, Osaka, Hyogo, dan barat daya Fukuoka. Dengan kondisi darurat nasional ini, para gubernur di wilayah yang ditetapkan dapat meminta warganya untuk tetap di rumah dan menutup tempat usaha. Namun banyak supermarket dan toko-toko lain akan tetap buka, sementara transportasi akan terus berjalan.

Lalu kekuasaan terkuat yang diberikan ke gubernur adalah dibolehkan mengambil bangunan atau tanah untuk tujuan medis. Ini bisa berarti mengharuskan pemilik tanah untuk menyerahkan propertinya agar bisa dibangun fasilitas medis sementara, atau beberapa tempat usaha untuk memberi ruang bagi perawatan pasien. "Kami akan mencegah penyebaran infeksi sambil mempertahankan layanan ekonomi dan sosial seperti angkutan umum sebanyak mungkin," terang Abe.

Untuk mengatasi dampak ekonomi, Abe pada Senin meluncurkan paket stimulus senilai 108 triliun yen (setara Rp 16,5 kuadriliun), atau 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang. Kondisi darurat nasional ini akan berlangsung sekira 1 bulan. Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan, hotel akan dipakai sebagai fasilitas karantina bagi pasien virus corona dengan gejala tidak serius. Pemerintah juga telah berjanji untuk meningkatkan jumlah pengujian, serta menambah tempat tidur dan ventilator untuk merawat pasien dalam kondisi serius.

Keadaan darurat nasional Jepang penerapannya tidak seketat lockdown di negara-negara lain. Sebab sistem hukum Jepang membatasi pemerintah untuk mengatur pergerakan warganya. Negeri "Sakura" akan mengandalkan kepatuhan warganya, seperti dari desakan sesama warga atau inisiatif menghormati peraturan. "Jepang masih dibayangi warisan negatif dari perang dan penindasan warganya," kata Yoshinobu Yamamoto, seorang profesor politik internasional di Universitas Tokyo.
Namun dia memperingatkan mungkin ada seruan untuk tindakan yang lebih tegas, jika wabah terus menyebar. Jepang melaporkan kasus pertama Covid-19 pada pertengahan Januari. Negeri "Sakura" sempat mendapat kecaman keras atas penanganan di kapal pesiar Diamond Princess yang berakhir dengan lebih dari 700 orang tertular serta 11 kematian.

Di ibu kota orang-orang menyatakan dukungan untuk keadaan darurat, dengan beberapa mengatakan seharusnya diumumkan lebih awal. "Ketika Anda melihat di TV apa yang terjadi di New York dengan kasus-kasus meningkat 2-3 kali lipat dalam 3, 4 hari, itu benar-benar membuat saya merinding," kata Mitsuo Oshiyama (76) kepada AFP. "Aku tidak mengerti mengapa pemerintah menunggu begitu lama," keluhnya. Kemudian dalam satu survei yang dilakukan stasiun TV TBS akhir pekan lalu, 80 persen responden mengaku setuju penerapan darurat nasional. (AFP/kps/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru