Washington DC (SIB)
Amerika Serikat (AS) menuduh Badan Kesehatan Dunia (WHO) lebih memprioritaskan kepentingan politik, dengan mengabaikan peringatan awal virus corona oleh Taiwan. Presiden Donald Trump bahkan mengancam menahan dana WHO.
Kemudian Departemen Luar Negeri AS mengatakan, WHO terlalu lambat dalam mengeluarkan peringatan tentang Covid-19, dan terlalu hormat pada China.
Mereka mempertanyakan mengapa badan yang berbasis di Jenewa tersebut tidak mengejar petunjuk dari Taiwan.
Amerika Serikat "sangat terganggu bahwa informasi Taiwan dirahasiakan dari komunitas kesehatan global, seperti tercermin dalam pernyataan WHO pada 14 Januari 2020, bahwa tidak ada indikasi penularan dari manusia ke manusia," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dikutip dari AFP. "WHO sekali lagi memilih politik daripada kesehatan masyarakat," katanya seraya mengkritik WHO yang menyangkal status pengamat Taiwan sejak 2016. Juru bicara tersebut menambahkan, tindakan WHO telah memakan waktu dan nyawa.
Para kritikus mengatakan bahwa ancaman tiba-tiba Trump terhadap WHO sama dengan taktik politik untuk menemukan kambing hitam dari pihak asing, ketika ia mendapat kecaman akibat kurang persiapan menangani Covid-19. Trump sendiri mengatakan pada Januari bahwa virus corona "benar-benar terkendali" di AS, dan memperkirakan akan hilang pada April saat suhu naik.
Taiwan yang berhasil membatasi penyebaran virus corona dengan hanya 5 korban meninggal, telah memperingatkan WHO pada 31 Desember tentang penularan Covid-19 dari manusia ke manusia, kata Chen Chien-Jen, Wakil Presiden Taiwan. Chen yang merupakan seorang epidemiologi, mengatakan kepada Financial Times bahwa dokter Taiwan telah mengetahui rekan-rekannya di Wuhan jatuh sakit, tetapi WHO tidak bergerak untuk mengonfirmasi temuan tersebut.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu (8/4) mengatakan, ia telah mengalami penghinaan termasuk rasialisme sejak krisis kesehatan masyarakat ini dimulai. Dokter asal Ethiopia yang menjadi diplomat ini tidak menyebut AS (negara dengan donasi terbesar, lebih dari Rp 6,28 triliun tahun lalu), tetapi menunjuk Taiwan yang bukan anggota.
"Tiga bulan lalu, serangan ini datang dari Taiwan," kata Tedros kepada wartawan di Jenewa, merujuk pada kritik dan penghinaan online. "Taiwan, Kementerian Luar Negeri juga, mereka tahu kampanyenya. Mereka tidak memisahkan diri. Mereka bahkan mulai mengkritik saya di tengah semua penghinaan dan cercaan itu, tetapi saya tidak peduli," kata Tedros dikutip dari AFP.
Tuntut Permintaan Maaf
Komentar itu memicu kemarahan Taiwan, yang menggambarkan komentar Tedros "tidak berdasar" dan mengatakan pihaknya menuntut pernyataan maaf atas "fitnah" oleh Dirjen WHO tersebut. "Negara kami tidak pernah mendorong publik untuk melancarkan serangan pribadi terhadapnya atau membuat komentar diskriminatif rasial," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan, Joanne Ou kepada wartawan pada Kamis (9/4).
Dalam unggahan di Facebook, Presiden Tsai Ing-wen mengundang Tedros untuk mengunjungi Taiwan dan belajar dari penanganan epidemi, menantangnya untuk "menolak tekanan dari China". "Kami telah diblokir dari organisasi internasional selama bertahun-tahun dan kami tahu bagaimana rasanya didiskriminasi dan diisolasi lebih dari orang lain," terang sang presiden wanita tersebut.
Kemudian Beijing menanggapi bahwa Partai Progresif Demokratik Tsai, yang menekankan identitas terpisah Taiwan, telah terlibat dalam "manipulasi politik" atas WHO. "Tujuan sebenarnya adalah untuk mencari kemerdekaan melalui pandemi. Kami dengan tegas menentang ini, dan skema mereka tidak akan pernah berhasil," ungkap seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri di Beijing.
Banyak kritik terhadap Tedros menuduh WHO di bawah kepemimpinannya terlalu dekat dengan Beijing, dan melengkapi penanganan China terhadap virus corona. Namun beberapa ahli kesehatan mengatakan, bahwa WHO tidak punya banyak pilihan selain bekerja sama dengan China untuk menjaga akses di Wuhan.
Untuk diketahui, hubungan antara WHO dan Taiwan memang telah memburuk sejak pandemi ini dimulai. Bahkan ketika para pakar kesehatan memuji Taiwan atas kesigapannya dalam menghadapi virus Corona.
Taiwan hanya memiliki 379 pasien Covid-19 dan lima kematian. Padahal, Taiwan dekat dan memiliki hubungan dagang dengan China. Taiwan dulu bisa mendapatkan status pengamat pada pertemuan tahunan WHO. Namun tekanan diplomatik dari Beijing dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong Taiwan keluar dari badan internasional utama, termasuk WHO dan ICAO (badan penerbangan PBB).
Partai Komunis China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan pada suatu hari berjanji untuk merebut pulau itu - dengan kekerasan jika perlu.
Pemimpin Afrika Bela WHO
Sementara itu, pemimpin Afrika, Cyril Ramaphosa membela WHO. Seperti dilansir AFP, Kamis (9/4) pernyataan Ramaphosa itu disampaikan pada Rabu (8/4) malam. Presiden Afrika Selatan ini berbicara dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Uni Afrika (AU).
Donald Trump mengkritik WHO karena dianggap gagal dalam menanggulangi wabah virus corona ini. Namun, Ramaphosa menyebut 55 negara Uni Afrika tidak memiliki keluhan seperti yang dikeluhkan Trump.
"Secara keseluruhan, AU mengakui dan menghargai kerja baik yang telah dilakukan oleh WHO dan mencatat dengan rasa kepuasan berbagai inisiatif dan langkah-langkah yang terus dilakukan oleh organisasi untuk mengurangi penyebaran pandemi (Covid-19)," kata Ramaphosa.
Sementara itu, Ketua Komisi AU, Moussa Faki Mahamat dalam cuitan di akun Twitternya, mengaku terkejut dengan provokasi yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap kepemimpinan global WHO. Sebelumnya, Trump menuduh WHO bersalah dan terlambat berbulan-bulan dalam menangani pandemi ini. Trump juga berbicara soal sikap WHO yang dia anggap cenderung lebih menyukai China. "WHO benar-benar gagal," tulis Trump di Twitter. "Untuk beberapa alasan, sebagian besar didanai oleh Amerika Serikat, namun sangat sentris China. Kami akan mengawasinya," lanjutnya. AS adalah sumber pendanaan terbesar WHO. Trump sempat mengancam akan menghentikan pendanaan untuk WHO.
Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menanggapi kritikan Trump terkait penanganan wabah virus corona. Tedros menyerukan persatuan dan menghentikan politisasi krisis kesehatan global. Bahkan secara khusus dia menyerukan AS dan China untuk menunjukkan "kepemimpinan yang jujur". Mantan menteri luar negeri Ethiopia itu mengatakan, badan yang dipimpinnya akan melakukan penilaian seperti biasanya usai pandemi Covid-19 dan menarik pelajaran dari kekuatan dan kelemahannya. "Kami juga membuat kesalahan seperti umat manusia lainnya," tuturnya seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (9/4). (Rtr/BBCI/dtc/AFP/kps/d)