Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Gereja dan Rumah Sakit Dibombardir, 5 Warga Ukraina Timur Tewas

* Poroshenko: Ancaman Militer Masih Terjadi di Ukraina di Masa Depan
- Selasa, 26 Agustus 2014 11:16 WIB
619 view
Gereja dan Rumah Sakit Dibombardir, 5 Warga Ukraina Timur Tewas
Sib/Rtr
Anggota separatis bersenjata pro Rusia mengawal para tahanan perang Ukraina (barisan kiri) saat digiring melewati satu jalan di pusat kota Domestik, Minggu (24/8) waktu setempat. Sebanyak 5 warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan terhadap satu gereja
Kiev (SIB)- Konflik yang melanda Ukraina timur terus berlanjut. Satu gereja dan rumah sakit setempat dibombardir hingga menewaskan lima warga sipil. Tragisnya, tiga korban tewas di antaranya merupakan jemaat yang menghadiri kebaktian di gereja tersebut. Sedangkan dua korban tewas lainnya berasal dari rumah sakit.

Insiden ini terjadi di wilayah Kirovske, Donetsk yang memang dikuasai oleh separatis pro-Rusia, pada Sabtu (23/8) waktu setempat. Belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini.

"Gereja tersebut (di Kirovske) benar-benar hancur total, tiga orang tewas," demikian pernyataan pihak Gereja Ortodoks Ukraina seperti dilansir AFP, Senin (25/8). "Bom dari serangan yang sama mengenai satu rumah sakit, menewaskan dua orang," demikian disampaikan.

Sementara itu, serangan yang terjadi pada Minggu (24/8), mengenai salah satu rumah sakit terbesar di Donetsk. Serangan ini membuat para pasien dan staf rumah sakit kocar-kacir dan bersembunyi di ruang bawah tanah.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko pada Minggu mengatakan negaranya akan tetap berada dalam ancaman militer pada masa depan. Poroshenko mengumumkan anggaran tiga miliar dolar AS untuk melengkapi peralatan militer pada tahun 2015-2017.

"Jelas diduga bahwa pada masa depan, ancaman militer  tetap ada terhadap Ukraina. Dan kita perlu belajar tidak hanya tetap menerima ini, tetapi juga selalu siap untuk membela kemerdekaan negara kita," kata Poroshenko.

Politik Solusi Tunggal untuk Ukraina

Sementara itu, Kanselir Jerman, Angela Merkel, menegaskan bahwa tidak ada solusi lain untuk krisis Ukraina selain politik. "Saya sangat percaya bahwa hanya solusi politik yang mungkin bagi Uni Eropa, tetapi juga Jerman ingin membantu dan juga harus membantu," ujarnya. "Tidak akan ada solusi militer untuk mengatasi konflik ini. Itulah mengapa pembicaraan politik mutlak diperlukan," kata Merkel dalam satu wawancara dengan televisi ARD Jerman.

Pembicaraan-pembicaraan mendatang antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Petro Poroshenko di Minsk tidak mungkin untuk memberikan terobosan yang akan menyelesaikan krisis di Ukraina, tetapi pertemuan itu penting, kata Merkel sehari setelah kunjungan resminya ke Kiev.

"Selalu ada dua sisi konflik apapun sehingga itu baik jika Presiden Rusia [Vladimir] Putin bertemu dengan Presiden Ukraina [Petro] Poroshenko Selasa.  "Kunjungan saya ke Kiev adalah persiapan untuk pertemuan tersebut, yang tentu saja tidak akan menghasilkan terobosan, tetapi Anda harus berbicara dengan satu sama lain jika Anda ingin menemukan solusi," kata Merkel menyimpulkan.

Putin dijadwalkan untuk bertemu dengan Poroshenko di ibu kota Belarusia, Minsk, pada 26 Agustus. Pertemuan ini juga akan mencakup para pemimpin puncak Uni Eropa dan Uni Bea Cukai. Menurut layanan pers Poroshenko, pertemuan akan membahas sejumlah isu politik dan ekonomi yang mendesak, termasuk stabilisasi situasi di wilayah timur Ukraina.

Sejak pertengahan April, pihak berwenang Kiev telah melakukan operasi militer di Ukraina timur untuk menindak para pendukung kemerdekaan yang menolak mengakui legitimasi pemerintahan baru. Lebih dari 2.000 orang telah tewas dan lebih dari 5.000 terluka sejak awal ofensif Kiev, kata PBB. (AFP/dtc/Ant/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru