Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Israel-Hamas Capai Gencatan Senjata Jangka Panjang

* PM Netanyahu Samakan Hamas dengan ISIS
- Rabu, 27 Agustus 2014 11:43 WIB
426 view
Israel-Hamas Capai Gencatan Senjata Jangka Panjang
SIB/AP Photo/Khalil Hamra
Warga Palestina memeriksa reruntuhan Menara Basha yang roboh akibat serangan udara militer Israel di Kota Gaza, Selasa (26/8). PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan gempuran udara Israel di Gaza akan terus berlanjut, selama mungkin yang diperlukan.
Gaza (SIB)- Israel dan Palestina dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk menjalankan gencatan senjata permanen di Jalur Gaza. Demikian seorang pejabat senior Palestina mengatakan, Selasa (26/8). "Dari kontak-kontak yang dilakukan maka gencatan senjata permanen sudah disepakati. Sebuah kesepakatan untuk mengakhiri blokade dan jaminan Gaza akan mendapatkan tuntutan dan kebutuhannya," tambah pejabat yang tak ingin disebut namanya itu.
Sementara itu, kelompok Hamas mengatakan kesepakatan gencatan senjata permanen yang mengakhiri peperangan selama tujuh pekan di Jalur Gaza merupakan "kemenangan dari sebuah perlawanan". "Negosiasi yang berujung kesepakatan yang mewujudkan ketahanan rakyat kami dan merupakan kemenangan dari sebuah perlawanan," kata wakil pemimpin Hamas di pengasingan, Mussa Abu Marzuk, lewat akun Facebook-nya.

Upaya gencatan senjata awalnya terancam terwujud setelah Israel kembali menyerang ke wilayah Gaza melalui serangan udara. Akibat serangan ini diketahui 8 warga Palestina tewas pada Senin (25/8) sore. Seperti dilansir kantor berita BBC, Selasa (26/8), delapan warga Palestina tersebut tewas ketika Israel menggempur masjid dan kawasan perbatasan. Tak tinggal diam, militan Palestina juga terus menembakkan roket dan mortir ke wilayah Israel.

Dua gedung bertingkat di Gaza City pun tak luput dari gempuran Israel. Akibatnya, puluhan orang mengalami luka-luka. Pesawat-pesawat tempur Israel membombardir gedung bertingkat 16 yang dikenal sebagai "Little Italy" di kawasan Nasser. Menurut juru bicara dinas darurat Gaza, Ashraf al-Qudra, sebanyak 25 orang terluka dalam serangan itu.

Menurut saksi mata, salah satu jet tempur F16 milik Israel menembakkan setidaknya enam roket ke gedung tersebut. Di gedung tersebut terdapat 60 unit apartemen dan kompleks bisnis yang mencakup puluhan toko. Akibat gempuran udara ini, gedung tersebut pun hancur.

Saksi mata mengatakan, para penghuni gedung bertingkat tersebut telah meninggalkan gedung sebelum serangan dilancarkan. Sebabnya, militer Israel telah mengirimkan pesan berisi peringatan soal serangan udara. "Militer menyuruh mereka untuk segera pergi dan mereka semua berlarian keluar ke jalan untuk mencari perlindungan," ujar saksi mata tersebut.

Tak lama kemudian, pesawat-pesawat tempur Israel lainnya membombardir gedung Al-Basha berlantai 14 yang berada di kawasan Rimal. Serangan ini menyebabkan kerusakan parah pada gedung dan melukai sekitar 15 orang.

Setelah kira-kira 7 minggu berperang, telah lebih dari 2.100 orang tewas. Para mediator dari Mesir telah mengusulkan adanya kesepakatan baru untuk gencatan senjata. Menurut informasi dari seorang pejabat di Palestina, selama upaya negosiasi oleh tim mediator itu, bantuan yang ditujukan untuk korban perang diperbolehkan. Selain itu barang-barang lain yang diperbolehkan adalah bahan bangunan.

Juru bicara militer Israel menyatakan pihaknya telah melancarkan 15 serangan udara sejak Senin, 25 Agustus kemarin. Sementara beberapa roket ditembakkan dari Gaza ke Israel pada Selasa pagi waktu setempat. Salah satu roket tersebut dihancurkan oleh sistem pertahanan antirudal Israel, Iron Dome di wilayah Tel Aviv. Salah satu serangan udara yang dilancarkan Israel menargetkan dua gedung bertingkat di Gaza City.

Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam menyatakan, pihaknya menembakkan sebuah roket ke Haifa dan empat roket ke wilayah Tel Aviv. Ini sebagai pembalasan atas serangan udara Israel terhadap gedung berlantai 14 dan 16 di Gaza City tersebut.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan gempuran udara Israel di Gaza akan terus berlanjut, selama mungkin yang diperlukan. "Operation Protective Edge akan terus berlanjut hingga tujuannya berhasil dicapai... ini mungkin membutuhkan waktu," tutur PM Netanyahu.

Netanyahu juga menyamakan Hamas dengan kelompok militan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Pernyataan itu disampaikan Netanyahu menyusul banyaknya ancaman akibat tindakan yang dilakukan kedua organisasi tersebut.

“ISIS dan Hamas adalah cabang-cabang pohon beracun yang sama. Dia telah membingkai konflik Gaza sebagai bagian dari perang internasional yang lebih luas terhadap ancaman kelompok militan,” ungkap Nentanyahu, seperti dikutip dari International Business Times, Selasa (26/8). Netanyahu melanjutkan, kedua organisasi tersebut telah terlibat pembunuhan ekstrayudisial. Contohnya, Hamas telah menembak tewas warga yang diduga sebagai mata-mata Israel di depan umum.

Perbandingan yang dilakukan Nentanyahu justru tidak mendapat respons baik dari sekutunya yaitu Amerika Serikat (AS). Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Marie Harf mengatakan, negaranya melihat ISIS dan Hamas sebagai kelompok teroris. Namun, Harf menambahkan bahwa dalam hal ini tidak perlu dilakukan perbandingan.

Hamas pun geram mengetahui organisasinya dibandingkan dengan ISIS. Mereka mengutuk hal itu dan mengatakan tidak berniat mencari perang dengan negara-negara Barat. Salah satu pejabat Hamas, Izzat Risheq, justru mengecam ISIS atas tindakannya membunuh James Foley secara brutal. Risheq juga menegaskan bahwa Hamas adalah organisasi gerakan pembebasan nasional yang bertujuan mencari kebebasan rakyat Palestina. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru