Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026
Konflik Suriah, Jumlah Pengungsi Tembus 3 Juta Jiwa

Militan Suriah Tangkap Pasukan Perdamaian PBB

- Sabtu, 30 Agustus 2014 10:54 WIB
442 view
Damaskus (SIB)- Konflik Suriah belum juga berakhir. Jumlah pengungsi Suriah pun terus membengkak. Sejauh ini, lebih dari tiga juta warga Suriah telah meninggalkan negara mereka untuk menjadi pengungsi. Bahkan dalam satu tahun terakhir saja, jumlah pengungsi mencapai satu juta jiwa.

"Krisis pengungsi Suriah yang meningkat, hari ini melampaui rekor tiga juta orang," demikian pernyataan badan pengungsi PBB, UNHCR seperti dilansir AFP, Jumat (29/8). Disebutkan bahwa jumlah tersebut tidak mencakup ratusan ribu warga Suriah lainnya yang kabur tanpa terdaftar sebagai pengungsi.

Menurut UNHCR, kurang dari setahun lalu, jumlah pengungsi Suriah yang terdaftar mencapai sekitar dua juta orang. Namun angkanya melonjak cepat karena memburuknya kondisi di Suriah. "Kota-kota yang penduduknya dikepung, orang-orang kelaparan dan warga sipil menjadi target atau dibunuh tanpa pandang bulu," demikian statemen UNHCR.

Kebanyakan pengungsi Suriah tersebut mendatangi negara-negara tetangga, dengan Libanon menampung 1,14 juta orang, Turki 815 ribu jiwa dan Yordania 608 ribu orang pengungsi Suriah. Menurut PBB, konflik berkepanjangan di Suriah telah merenggut lebih dari 191 ribu nyawa sejak pecah pada Maret 2011 silam. Konflik tersebut juga telah menyebabkan sekitar 6,5 juta orang di negeri itu kehilangan tempat tinggal. Artinya, hampir 50 persen dari seluruh penduduk Suriah terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka.

Sementara itu militan Suriah dilaporkan menyandera 43 anggota pasukan penjaga perdamaian PBB. Sedangkan sebanyak 81 anggota pasukan yang sama terjebak di wilayah Golan Heights, yang berbatasan dengan Israel. Sebanyak 43 tentara pasukan penjaga perdamaian PBB yang disandera ini berasal dari Fiji. Mereka ditangkap dan dipaksa untuk menyerahkan senjata mereka di perlintasan Quneitra.

Namun sebanyak 81 tentara lainnya yang berasal dari Filipina menolak untuk menyerahkan senjata mereka dan tetap berdiam di posisinya. Namun hal ini membuat mereka terjebak dan tidak bisa bergerak ke manapun. "Ini memicu situasi buntu yang masih berlangsung hingga kini, sementara pejabat PBB berusaha menyelesaikan masalah ini secara damai," terang Departemen Pertahanan Filipina dalam pernyataannya.

Komandan militer Fiji, Brigadir Jenderal Mosese Tikoitoga menyatakan, semua tentaranya yang disandera dalam kondisi selamat. Tikoitoga meminta warga Fiji untuk mendoakan agar semuanya bisa dilepaskan dengan selamat. "Seluruhnya selamat dan dalam kondisi baik, meskipun mereka disandera oleh pemberontak bersenjata di wilayah Golan," ucapnya.

Duta Besar Inggris untuk PBB, Mark Lyall Grant yang mengepalai Dewan Keamanan (DK) bulan ini, mengatakan kepada para wartawan bahwa para penjaga perdamaian yang terjebak itu dikepung oleh pasukan ISIS. DK PBB yang beranggotakan 15 negara ini, yang sebetulnya sedang mengadakan rapat tentang keadaan kemanusiaan di Suriah, juga membahas masalah penjaga perdamaian yang diculik itu, demikian kata Lyall Grant.

DK PBB kemudian mengeluarkan pernyataan yang secara tegas mengutuk penangkapan para penjaga perdamaian dan menyerukan pembebasan yang segera. Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki-moon juga mengulang pernyataan DK PBB dalam pernyataannya sendiri yang mengutuk penangkapan itu.

Penyebrangan Quneitra di Golan adalah dataran strategis yang dicaplok Israel dalam perang Timut Tengah tahun 1967. Suriah dan Israel secara teknis masih berada dalam peperangan. Tentara Suriah tidak diperkenankan di daerah pemisahan menurut gencatan senjata tahun 1973 yang disahkan pada tahun 1974.

UNDOF memantau daerah pemisah itu, yaitu suatu jalur tanah yang sempit sepanjang 70 km mulai dari Gunung Hermon di perbatasan Lebanon hingga ke Sungai Yarmouk di Yordania. Sebelum perang sipil Suriah yang memasuki tahun ke empat ini, wilayah itu biasanya tenang sehinga terkadang membosankan bagi para penjaga perdamaian.

Pasukan yang sekarang berasal dari Fiji, India, Irlandia, Nepal, Belanda dan Filipina. PBB mengatakan minggu ini bahwa Filipina telah memutuskan untuk menarik pasukannya dari UNDOF dan dari pasukan PBB di Liberia, suatu negara yang sedang bergulat melawan penyebaran virus Ebola yang mematikan.

Pasukan helm biru PBB diciduk kaum militan di bulan Maret dan Mei 2013. Dalam dua peristiwa itu, mereka dibebaskan tanpa masalah. Austria, Jepang dan Kroasia telah menarik pasukan mereka dari UNDOF karena memburuknya keamanan dan merembesnya perang Suriah.

Militan Suriah, termasuk pemberontak dari kelompok Al-Nusra Front yang berafiliasi dengan Al-Qaeda menyerbu perlintasan Quneitra pada Rabu (27/8), hingga memicu baku tembak dengan tentara Israel. Quneitra merupakan satu-satunya perlintasan perbatasan antara Suriah dengan Israel. Separuh wilayah Golan Heights dikuasai oleh Suriah, dan sebagian lagi dikuasai Israel. (Detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru