Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Banjir dan Tanah Longsor Landa Kumamoto Jepang, 49 Tewas

Redaksi - Rabu, 08 Juli 2020 17:48 WIB
379 view
Banjir dan Tanah Longsor Landa Kumamoto Jepang, 49 Tewas
Kyodonews/AP
Sejumlah warga melihat kerusakan akibat banjir dan tanah longsor yang menerjang Hitoyoshi, Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Minggu (5/7). 
Kumamoto (SIB)
Banjir besar dan tanah longsor yang melanda Prefektur Kumamoto di Jepang, membuat 40.000 personel tim pencarian dan penyelamatan dikerahkan untuk mengevakuasi penduduk. Pada Selasa (7/7) layanan darurat di Jepang barat berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan penduduk yang terjebak akibat bencana alam ini. Sedikitnya 49 korban tewas telah ditemukan.

Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan tingkat peringatan darurat tertinggi untuk hujan lebat dan tanah longsor, di sebagian besar bagian barat daya Pulau Kyushu. Hujan lebat diperkirakan akan terus berlangsung sampai Kamis (9/7).

Korban tewas juga diprediksi akan bertambah, sejak penghitungan yang dimulai pada Sabtu (4/7). "Kami berpacu dengan waktu," kata Yutaro Hamasaki seorang pejabat Kumamoto, dikutip dari AFP Selasa (7/7).

Lebih dari 40.000 personel termasuk polisi, pemadam kebakaran, serta penjaga pantai dan tentara, dikerahkan untuk mengevakuasi para korban. Sampai sekarang masih ada puluhan orang yang belum ditemukan. Sungai yang meluap mengakibatkan jembatan hanyut dan menyulap jalanan jadi danau. Akses penyelamatan hanya bisa dilakukan dengan rakit atau helikopter.

Nobuko Murakami (78) yang rumahnya hancur karena diterjang tanah longsor mengatakan kepada media setempat, "Saya tak bisa tidur karena suara hujan memekakkan telinga." "Saya sudah tinggal di sini lebih dari 50 tahun, tetapi saya belum pernah melihat hujan selebat ini. Saya tidak tahu kapan bisa punya rumah lagi."

Kentaro Oishi yang mengelola bisnis arung jeram di resor sumber air panas Kota Hitoyoshi menerangkan kepada jurnalis AFP, layanan darurat menghubunginya untuk meminta bantuan. "Saya 20 tahun berpengalaman di arung jeram, tetapi saya tidak pernah bermimpi" mendayung perahu melintasi kota, kata pendayung veteran itu kepada AFP. "Sejujurnya, awalnya saya sangat takut ketika melihat permukaan air naik begitu cepat di sungai."

Sebanyak 14 korban tewas adalah penghuni panti jompo, yang tidak bisa melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi karena memakai kursi roda. Seorang petugas penyelamat yang mendatangi rumah itu menerangkan kepada NHK, "Lantai dasar tenggelam dan kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Beberapa orang berhasil mengungsi ke lantai pertama. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini dalam hidup saya. Upaya evakuasi menjadi lebih rumit karena masih ada ancaman tertular Covid-19,” kata petugas itu.

Dibandingkan negara-negara lainnya, kasus corona Jepang relatif sedikit dengan total di bawah 20.000 kasus dan kurang dari 1.000 kematian, hingga Selasa (7/7). Akan tetapi social distancing tetap harus diterapkan, sehingga kapasitas tempat pengungsian menjadi berkurang. Di Kota Yatsushiro, pemerintah setempat mengubah gimnasium olahraga menjadi tempat penampungan warga. Para keluarga dipisahkan oleh dinding kardus untuk mencegah penyebaran virus bernama resmi SARS-CoV-2 ini.

Menurut laporan media setempat, beberapa orang lebih memilih tidur di mobilnya daripada berisiko terkena Covid-19 di tempat penampungan. Bagi beberapa pemilik bisnis lokal yang sebelumnya sudah terpukul akibat pandemi virus corona, bencana alam terbaru ini semakin memperparah masalah mereka. (AFP/Kps/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru