Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Walau Kuat, Militer China Disebut Belum Mampu Gempur Taiwan

Redaksi - Rabu, 02 September 2020 20:16 WIB
432 view
Walau Kuat, Militer China Disebut Belum Mampu Gempur Taiwan
Internet
Ilustrasi Militer China.
Taipei (SIB)
Kementerian Pertahanan Taiwan menerangkan, militer China memang semakin kuat. Tapi, militer China dinilai masih belum mampu menggempur Taiwan. Dalam pidatonya tahun lalu, Presiden Xi Jinping menyiratkan bahwa mereka bisa memaksa Taipei kembali ke pangkuan mereka dengan kekerasan.

Karena itu, China semakin meningkatkan keberadaan mereka di wilayah yang diklaim masuk kedaulatan mereka, di mana Taipei tidak tertarik untuk bergabung. Seperti dilaporkan Reuters Senin (31/8), sejak menjabat pada 2013, Xi Jinping sudah melakukan modernisasi terhadap angkatan bersenjata China.

Selain menambahkan jet tempur siluman dan kapal induk, angkatan udara dan laut China sering menggelar latihan atau melewati Selat Taiwan. Dalam laporan tahunan mengenai perkembangan kekuatan tetangganya itu ke parlemen Taiwan, kemenhan menjabarkan skenario serangan Beijing, termasuk blokade dan menyerang kawasan pesisir.

Dikatakan bahwa militer China terus memperkuat latihan menembak, termasuk mengembangkan teknologi persenjataan maupun taktik pertempuran baru. "Tetapi mengenai strategi melawan Taiwan, mereka masih dibatasi kondisi geografis selat dengan kemampuan logis serta pendaratannya tidak memadai," jelas kemenhan.

Dalam keterangan kementerian pertahanan, Beijing disebut belum mempunyai kemampuan yang cukup menggelar serangan skala penuh terhadap mereka. Sejak berkuasa pada 2016, Presiden Tsai Ing-wen berusaha memodernisasi militer negaranya. Tidak hanya menggalakkan produksi dalam negeri. Namun juga terus membeli dari Amerika Serikat (AS), negara adidaya lain yang menjadi pendukung sekaligus penyedia senjata utama mereka. Kementerian melanjutkan, saat ini mereka masih terus memantau ancaman dari China. Mereka mengaku tidak takut berperang meski cenderung ingin menghindarinya.

Kerugian Militer Lebih Parah
Sementara itu, otoritas China menegaskan pihaknya mampu membuat India mengalami kerugian militer yang lebih parah daripada sebelumnya, jika negara itu ingin terlibat dalam persaingan. Penegasan itu disampaikan setelah India menuduh militer China melakukan aksi provokasi di perbatasan sengketa.

Militer India, pada awal pekan ini, mengklaim pihaknya menggagalkan upaya militer China untuk menduduki satu bukit di perbatasan sengketa kedua negara di Himalaya bagian Barat.

Pada hari yang sama, juru bicara militer China meminta India menarik pasukannya, yang menurut China, telah secara ilegal melanggar perbatasan kedua negara. Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa pasukan perbatasan China tidak melanggar Garis Kontrol Aktual, seperti yang dituduhkan India sebelumnya. "India ... mengatakan pihaknya mengambil tindakan mencegah (preempt) aktivitas militer China. Kata 'tindakan mencegah' menunjukkan bahwa tentara India yang pertama kali melakukan tindakan destruktif, dan tentara India memulai konfrontasi kali ini," sebut surat kabar nasional China, Global Times, dalam editorialnya seperti dilansir Reuters, Selasa (1/9).

Global Times menambahkan bahwa India menghadapi 'China yang kuat' dan bahwa India tidak seharusnya memiliki 'ilusi' soal dukungan dari Amerika Serikat (AS) dalam isu ini. "Tapi jika India ingin terlibat dalam persaingan, China memiliki lebih banyak perlengkapan dan kemampuan daripada India. Jika India menginginkan pertarungan militer, PLA (Tentara Pembebasan Rakyat China-red) pasti akan membuat militer India mengalami kerugian jauh lebih parah daripada yang terjadi tahun 1962," tegasnya.
Global Times merupakan media nasional China berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh People's Daily, yang merupakan surat kabar resmi Partai Komunis China.

Ketegangan di kawasan Ladakh yang menjadi perbatasan dan sengketa kedua negara semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juni lalu, sedikitnya 20 tentara India tewas dalam bentrokan tangan kosong dengan tentara China di dekat lembah Galwan. Bentrokan itu tercatat sebagai bentrokan militer paling serius antara kedua negara selama lebih dari setengah abad terakhir. Saat itu, kedua pihak sepakat menarik diri dari perbatasan, namun militer India menuduh militer China melanggar kesepakatan itu pada akhir pekan lalu. (Rtr/detikcom/kps/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru